Mendadak Istri

Mendadak Istri
Side Story MI 2


Mohon maaf, bagi yang bertanya kenapa ceritanya dipisah-pisah, agar cerita di sebelah tidak terlalu panjang menceritakan masa kecil Zee ya. Biar bisa cepet gede itu si Zee. 🤭


***


Mendengar perkataan Ken, Gitta langsung memukul lengan sang suami. Dia menarik tangannya yang masih di cengkram oleh Ken.


"Apa-apaan sih, Mas. Jangan mulai gesrek, deh. Jika kamu pakai pompa alami, bukannya langsung bersih malah semakin berantakan. Kamu kan habis sedott langsung buang." Gitta masih menggerutu kesal.


"Hehehe, nggak enak, Yang." Ken nyengir sambil berbalik.


Gitta tidak memperdulikan sang suami. Dia segera beranjak mengambil alat pompanya dan mulai memompa asinya. Ken yang melihat hal itu hanya bisa pasrah. Dia segera mengganti bajunya, tentu saja dengan bantuan Gitta (hanya mengarahkan dan membenahi maksudnya).


Tak berapa lama kemudian, Ken terlihat sudah selesai berganti pakaian. Dia masih berdiri di depan Gitta yang sedang memompa asi. Kening Gitta berkerut saat melihat apa yang sedang dilakukan sang suami.


"Ada apa, Mas?"


"Itu kenapa semakin membesar sih, Yang?" Ken masih menatap sumber nutrisi Zee dengan wajah mupengnya.


"Astaga, Mas! Kamu ini masih saja suka aneh-aneh. Sudah-sudah sana kamu keluar dulu. Tolong panggilkan Mbak Raisa. Aku sudah selesai ini."


Ken mencebikkan bibir. Meskipun begitu, dia segera beranjak keluar untuk memanggilkan perias untuk melanjutkan pekerjaannya. Gitta yang memang kini tinggal berganti baju, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melakukannya. Ken juga mendapatkan sedikit sapuan make up agar tidak terlalu pucat.


Acara dimulai pada pukul sepuluh pagi. Sebenarnya, acara tersebut tidak terlalu formal seperti acara resepsi pernikahan Khanza dulu. Acara resepsi pernikahan Ken dan Gitta kali ini dibuat santai. Meskipun ada dekorasi pelaminan untuk pengantin, namun Ken dan Gitta tidak akan duduk di sana sepanjang acara. Mereka akan berbaur dengan para tamu undangan yang hadir hari itu.


Acara berlangsung cukup meriah. Beberapa kolega dekat di undang daddy Vanno dan juga Ken. Sepanjang acara, daddy Vanno bahkan tidak melepaskan mommy Retta dari genggaman tangannya. Daddy menarik mommy Retta kesana kemari untuk menemui kolega dan kerabatnya.


"Biar Zee sama Khanza dan Bu Risma dulu, Yang. Kamu ikut aku dulu. Nanti jika kamu ku lepas, di embat para laki-laki mata keranjang itu nanti." Daddy Vanno berbisik tak mau kalah.


"Astaga, Mas! Kamu kira aku mangga yang masak di pohon yang bisa di embat 'codot' sembarangan gitu?" Mommy Retta mendengus kesal.


"Ya, aku sih percaya sama kamu, Yang. Tapi, aku tidak percaya sama mereka. Lihat saja mata para bule itu, ingin rasanya kucongkel mata yang menatapmu lama-lama." Daddy Vanno benar-benar geram. Dia masih menahan tangan mommy Retta dengan erat. Mommy Retta hanya bisa pasrah mengikuti kemana daddy Vanno beranjak selama sekitar satu jam tersebut.


Ken dan Gitta juga ikut berbaur dengan para tamu undangan. Sesekali, mereka juga menerima ajakan untuk berfoto dari beberapa kerabat dan kolega bisnis. Namun, sama seperti daddy Vanno, Ken juga tidak melepaskan tangan Gitta dari genggamannya.


"Mas, ini ngapain tanganku di pegangin terus, seperti nenek-nenek saja." Gitta masih berusaha melepaskan pegangan tangan Ken.


"Biar tidak ilang, Yang."


"Kamu pikir ini hutan, apa? Sudah, aku mau cari Zee dulu," Gitta hendak beranjak dari tempatnya. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar sebuah suara.


"Waahh, Mas Ken ganteng banget pakai baju pengantin begini. Mau dong, jadi istri keduanya. Hehehe."


JEDEERRRRR.


\=\=\=


Terima kasih bagi yang masih setia menemani othor disini. 🤗