
Ken dan Dion memutuskan untuk makan siang di restoran tak jauh dari lokasi proyek pembangunan apartemen. Mereka masih terlihat berdiskusi tentang banyak hal sambil menunggu pesanan makan siang mereka datang. Ken juga sudah menelepon Gitta. Sore itu, dia sudah boleh pulang.
Saat sedang menunggu pesanan makan siang mereka datang, Ken melihat Robi dan seorang wanita terlihat masuk ke dalam restoran tersebut. Rupanya, mereka juga hendak makan siang disana. Ken menoleh menatap Dion yang sedang duduk di sampingnya sambil memainkan ponselnya.
"Yon, coba kamu lihat itu." Kata Ken menginterupsi kegiatan Dion. Dion mengikuti arah pandang bosnya sambil mengernyitkan dahinya. "Kamu tahu siapa wanita yang bersama Robi? Apakah dia istrinya?" Tanya Ken.
Dion masih memperhatikan Robi dan wanita itu. Dion yang sudah pernah beberapa kali bertemu dengan Robi istrinya saat ada acara kantor pun segera menggelengkan kepalanya. Dia sangat yakin jika wanita itu bukanlah istri dari Robi. Seingatnya, istri Robi itu sudah cukup umur, mungkin usianya berkisar antara empat puluh sampai empat puluh lima tahun. Sedangkan wanita yang bersamanya saat ini bisa dikatakan masih lumayan muda, mungkin usianya sekitar tiga puluhan tahun.
"Bukan tuan. Saya pernah bertemu dengan istri pak Robi saat ada acara kantor. Usianya sekitar empat puluh tahunan. Saya yakin dia bukan istrinya." Jawab Dion.
Ken mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Saat Ken hendak bertanya lagi, pesanan makan siang mereka sudah datang. Ken mengurungkan niatnya untuk bertanya dan segera meminta Dion untuk mulai menyantap makan siangnya.
Setelah selesai menyantap makan siangnya, Ken dan Dion segera beranjak pergi dari restoran tersebut. Mereka sempat melirik ke arah Robi dan teman wanitanya yang masih menikmati makan siangnya. Ken dan Dion segera pergi menuju hotel sang mommy untuk melakukan sesuatu. Dia sudah ditunggu daddy dan mommynya di sana.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Ken dan Dion sudah sampai di hotel sang mommy. Ken melihat om Arya yang sedang membawa beberapa berkas juga sudah berada di sana. Ken segera menemui om Arya yang hendak berjalan menuju lift.
"Sudah selesai semua Om?" Tanya Ken saat sudah berada di belakang om Arya.
Om Arya menoleh menatap Ken. Dia langsung mengangguk mengiyakan sebagai jawaban dari pertanyaan Ken.
"Beres. Tinggal menunggu eksekusinya." Jawab om Arya.
Ken mengangguk mengerti. Dia dan Dion ikut masuk ke dalam lift bersama om Arya saat lift yang berada di depan mereka sudah terbuka. Mereka menuju ke lantai dua belas untuk mengadakan konferensi pers bersama dengan daddy Vanno.
Hari itu, daddy Vanno hendak mengadakan konferensi pers terkait dengan akuisisi yang dilakukannya terhadap dua perusahaan yang berada di Jakarta tersebut. Kali ini, akuisisi dilakukan oleh perusahaan daddy Vanno sendiri yang terlepas dengan GC. Konferensi pers itu juga dilakukan untuk mengumumkan tentang pengalihan kepemimpinan kepada sang putra.
Ken berserta om Arya dan Dion segera berjalan menuju ruang konferensi pers. Begitu sudah berada di tempat tersebut, Ken sudah melihat daddynya, om Neo dan beberapa orang kepercayaan daddy Vanno. Ken segera mengambil posisi duduk di dekat sang daddy. Sudah ada banyak sekali wartawan dan beberapa orang yang berkepentingan di sana.
Tak berapa lama pun acara konferensi pers hendak dimulai. Om Arya yang bertindak sebagai moderator acara tersebut pun segera mengambil alih kendali acara. Daddy Vanno memberikan sambutan dan menjelaskan beberapa hal terkait dengan akuisisi perusahaan yang dilakukannya. Daddy juga menjelaskan jika perusahaannya akan segera diserahkan kepada Ken, sang putra.
Saat itu juga, pertama kalinya daddy Vanno memperkenalkan secara resmi tentang sang putra. Keenan Alexander Geraldy. Daddy juga menjelaskan jika sang putra telah menikah dan akan segera memiliki seorang putra. Di sebuah layar terlihat foto Ken beserta Gitta tengah berdiri menghadiri sebuah acara di Bandung beberapa waktu yang lalu.
Daddy Vanno juga tak lupa untuk meminta doa kepada semuanya agar sang menantu yang saat ini tengah berada di rumah sakit agar segera pulih dan dapat kembali ke rumah.
Saat itu, banyak para wartawan menanyakan apa penyebab istri Ken berada di rumah sakit. Daddy Vanno menoleh menatap om Arya dan yang segera dijawab dengan anggukan oleh om Arya sebagai tanda mengerti maksud dari daddy Vanno.
Seketika muncul sebuah rekaman cctv di sebuah mall yang menampilkan peristiwa kecelakaan yang dialami oleh Gitta. Disana juga terlihat jelas Salsa dan Gitta yang menghina Gitta dengan kata-kata kasarnya. Semua kamera wartawan merekam kejadian itu dengan sangat antusias.
Daddy Vanno menjelaskan peristiwa tersebut kepada awak media. Mereka juga menjelaskan siapa saja yang terlibat pada kejadian tersebut dan memberikan ancaman bagi siapapun yang masih memiliki hubungan dengan orang-orang yang terlibat pada peristiwa tersebut akan ikut menanggung akibatnya.
Setelah itu, acara konferensi pers masih terus berlanjut dengan banyaknya pertanyaan dari para awak media yang ingin mendapatkan berita eksklusif tersebut.
Sementara itu, di mall tempat Salsa dan Dina berada, kejadian kembali terulang. Hingga kini Salsa dan Dina merasa sedikit ketakutan karena sudah tidak terhitung banyaknya laki-laki yang 'menawar' mereka. Salsa dan Dina memutuskan untuk segera pergi dari mall tersebut sebelum terjadi hal-hal yang tidak mereka inginkan.
Namun, saat mereka tiba di di lantai satu mall tersebut, suara riuh ramai dari beberapa pengunjung menghentikan mereka. Rupanya para pengunjung tersebut sedang memandangi sebuah layar yang menampilkan acara konferensi pers yang dilakukan oleh Vanno.
Salsa dan Dina bagai disambar petir saat melihat adegan dirinya tengah mengintimidasi Gitta beberapa hari yang lalu di sebuah mall. Semua percakapan dan tingkah laku mereka sangat jelas terdengar dan terlihat. Bahkan, saat Salsa dan Dina mengobrol setelah Ken membawa pergi Gitta pun bisa terlihat dan terdengar dengan sangat jelas.
Bulu kuduk Salsa dan Gitta langsung meremang setelah melihat berita tersebut. Mereka benar-benar tidak menyangka jika Gitta adalah menantu dari Vanno Alexander.
"Gu-gue juga tidak tahu." Jawab Salsa dengan wajah tak kalah pucatnya. Keringat dingin langsung keluar pada pelipis mereka.
"Sepertinya kita akan tamat setelah ini Sa." Kata Dina sambil masih memandangi layar lebar di depannya. "Ini semua gara-gara lo. Mulut resek lo benar-benar tidak bisa dibiarkan." Geram Dina.
Salsa yang sudah merasa khawatir langsung menoleh menatap wajah Dina. Dia terlihat sangat geram dengan perkataan Dina barusan.
"Apa maksudmu hah?" Tanya Salsa dengan sedikit berteriak.
Namun naas, teriakan Salsa barusan justru membuat beberapa pengunjung mall memperhatikan mereka.
"Lhoh, mereka kan yang ada di berita itu?" Kata seseorang yang berada tak jauh dari Salsa dan Dina.
"Eh iya, mereka kan yang telah mendorong menantu pak Vanno." Kata yang lainnya.
"Waahh, iya benar. Jadi d
Mereka ini sugar baby ya?" Cibir yang lainnya.
"Siap-siap saja mbak, hidup kalian tidak akan bisa tenang setelah ini." Tambah yang lainnya.
Seketika Salsa dan Dina langsung menoleh ke kiri dan ke kanan. Mereka ternyata sudah menjadi pusat perhatian pengunjung di lantai satu tersebut. Salsa dan Dina segera beranjak pergi dari sana. Telinga mereka sudah sangat panas mendengar ejekan dan cemoohan dari beberapa pengunjung disana.
Saat Salsa dan Dina sudah berada di pintu utama mall tersebut. Tiba-tiba mereka diguyur oleh beberapa timba air comberan yang sangat bau. Seketika Salsa dan Dina berteriak. Namun, saat melihat siapa yang ada di dekat mereka, Salsa dan Dina langsung terdiam.
"Ini hanya permulaan. Kalian tidak akan mendapatkan ketenangan setelah ini."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon maaf lagi ngedrop banget ini, lagi sakit kepala.
Untuk yang bilang sedikit sekali, saya mohon maaf. Setiap up Ken Series othor tidak pernah up di bawah seribu kata. Jadi mohon jangan bilang sedikit sekali, othor jadi pen mewek, othor gembengan lho 🥺
Jika masih mau lanjut up, mohon dukungannya like, comment dan votenya ya. Othor usahakan bisa ngetik lagi.
Habis selesai masalah Ken dan Gitta, akan beralih ke cerita Khanza.
Thanks atas dukungannya selama ini. 🙏