
Retta tersenyum melihat tingkah Abel. Setelahnya, dia mulai menceritakan asal mula dia harus menikah dengan pak Kurdi yang sudah memiliki banyak istri, hingga dia bisa menikah dengan Vanno sampai peristiwa kemarin yang menimpanya.
Retta juga menceritakan sejarah keluarga Vanno dan siapa sebenarnya keluarga suaminya itu.
"Hhhaaa, jadi selama ini lo sudah menjadi menantu pemilik GC Ta?" tanya Abel tidak percaya. Dia masih membulatkan matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda dia masih sulit mempercayai penjelasan Retta.
Sementara itu, Retta hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Abel. Dia memberi waktu kepada Abel untuk mencerna seluruh ceritanya.
"Gue benar-benar nggak nyangka Ta, lo benar-benar jadi menantu pemilik GC. Lo tahukan GC?" tanya Abel lagi.
Retta hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya, dan gue juga baru tahu semua itu setelah satu bulan lebih menjadi menantu keluarga itu," jelas Retta.
"Bener-bener lo Ta, mimpi apa lo bisa jadi menantu keluarga Geraldy," kata Abel sambil menggelengkan kepalanya. "Bahkan, sangat sedikit informasi yang dapat diakses tentang Geraldy Corp atau GC itu. Pemilik dan semua perusahaan yang berada dibawah naungan GC pun tidak ada yang tahu pasti," lanjut Abel.
"Itu benar. Daddy memang merahasiakan semuanya. Daddy tidak ingin banyak orang yang tahu tentang hal itu. Daddy cuma ingin orang-orang tahu tentang GC berdasarkan kinerjanya, bukan tentang siapa saja orang yang berada di baliknya," jelas Retta. "Asal lo tahu, karyawan Daddy pun banyak yang tidak tahu jika Daddy adalah pendiri dan pemilik GC," lanjut Retta.
Mendengar penjelasan Retta, Abel hanya bisa membulatkan mata semakin lebar. Dia benar-benar terkejut dengan kenyataan yang baru saja di ceritakan oleh Retta. Sementara Retta hanya tersenyum melihat reaksi Abel.
"Lalu, apa lo sudah melakukan hal itu dengan Vanno?" tanya Abel setelah dia berhasil menyerap informasi yang disampaikan Retta.
Retta yang masih belum paham maksud Abel hanya bisa menoleh memandang Abel dengan tatapan bingung. "Melakukan apa?" tanya Retta dengan polosnya.
Abel mendengus kesal mendengar pertanyaan Retta. Dia lupa jika sahabatnya ini benar-benar polos. Dia sampai berpikir bagaimana suaminya menghadapi Retta yang benar-benar polos ini, batinnya.
"Aduh Ta, lo ini kan sudah menikah, apalagi yang bakal dilakukan pasangan suami istri jika sudah menikah kalau bukan melakukan hubungan suami istri," geram Abel. "Jangan bilang selama ini kalian belum melakukan hubungan suami istri. Kalian menikah sudah hampir setengah tahun Ta," lanjut Abel.
"Hheehh, siapa bilang kami belum melakukannya. Kami setiap hari melakukannya. Nggak cuma sekali bahkan, bisa dua atau tiga kali," kata Retta penuh semangat. Namun, Retta segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika menyadari dia sudah keceplosan bicara. Dia segera menarik selimut untuk menutupi wajahnya, malu. Retta benar-benar merasa malu pada Abel.
Sementara Abel hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Retta. "Jadi selama ini lo sudah tidak�" tanya Abel terputus sambil menarik selimut Retta yang menutupi wajahnya.
Retta hanya mengangguk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia benar-benar merasa malu.
Retta melihat wajah Abel sekilas sebelum kemudian menganggukkan kepalanya. Melihat Retta yang mengangguk membuat Abel hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalian ini benar-benar sulit dipercaya. Lo itu sedang sakit Ta, lihat kaki lo terluka seperti ini, bisa-bisanya kalian masih melakukan hal itu. Di rumah sakit pula," kata Abel sambil menahan geram.
"Tadi cuma sebentar kok Bel, cuma sekitar satu jam, itu pun nggak direncanakan. Mas Vanno membantuku mandi, entah kenapa kami jadi melakukannya di kamar mandi," kata Retta dengan polosnya.
"Apaa?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa kasih dukungan ya, like, vote dan komen π€π€
Biar tambah semangat up agar cepat end
Cerita baru sudah menunggu ππ
Jika tidak merepotkan kasih rating juga ya, ratingnya menurun, jadi sedih akutuh π’π’