Mendadak Istri

Mendadak Istri
Daddy Evan 6


Malam itu, Evan benar-benar menuruti permintaan sang mama untuk tidak keluar rumah. Dia juga menuruti permintaan sang mama untuk bersiap-siap. Malam itu, Evan memakai celana dan kaos berkerah yang masih sopan.


Evan bisa melihat sang mama terlihat sangat bahagia menyiapkan jamuan makan malam tersebut. Wajahnya bahkan terlihat berbinar dengan senyuman tak lepas dari bibirnya. Ternyata, apa yang dilihat Evan tersebut juga diperhatikan oleh sang papa.


"Kamu lihat, Van? Mama kamu benar-benar sangat bahagia. Apa kamu tega membiarkan kebahagiaan itu hilang?" Tiba-tiba papa Jimmy sudah berada di samping Evan.


Evan menoleh ke arah sang papa. Dia menggelengkan kepala. Bagaimanapun juga, bagi Evan kebahagiaan orang tua adalah yang paling penting.


"Aku tidak akan tega melihat mama bersedih, Pa." Evan masih menatap ke arah sang mama yang kini sedang menyiapkan hidangan makan malam.


"Papa tau kamu pasti tidak akan tega melakukannya. Oleh karena itu, papa minta tolong kepadamu untuk menerima perjodohan ini. Kamu tenang saja, papa yakin kamu tidak akan kecewa. Putri teman mama kamu itu sangat cantik. Dia juga cukup sopan. Papa dan mama sudah pernah bertemu dengannya dua kali."


Evan langsung menolehkan kepalanya ke arah sang papa.


"Papa sudah pernah bertemu dengannya? Kapan?"


"Dulu waktu dia baru wisuda."


Seketika kedua bola mata Evan membulat. Dia langsung berpikir jika gadis yang akan dijodohkannya berusia lebih tua darinya.


"Dia sudah lulus kuliah, Pa? Usianya lebih tua dariku?"


"Eh, siapa bilang? Usianya lebih muda dari kamu, kok. Dia bukan baru lulus kuliah, tapi baru lulus SMA."


Evan begitu terkejut saat mendengarnya. Bagaimana mungkin orang tuanya menjodohkan dirinya dengan gadis yang baru lulus SMA? Evan benar-benar tidak habis pikir.


"Bagaimana mungkin papa dan mama akan menjodohkanku dengan gadis yang baru lulus SMA, Pa?"


"Memangnya kenapa?"


Evan hanya bisa mendengus kesal. "Dia kan masih kecil dan belum mengerti apa-apa," jawab Evan.


Papa Jimmy menggelengkan kepala sambil berlalu meninggalkan sang putra. "Kalau untuk masalah itu, akan menjadi tugas kamu setelah kalian menikah nanti. Hehehe," ucap papa Jimmy.


Evan hanya bisa menghembuskan napas beratnya setelah kepergian sang papa. Entah apa lagi yang harus dilakukannya. Sepertinya, satu-satunya jalan adalah dengan menerima rencana perjodohan tersebut. Evan juga tidak akan mungkin  isa menolaknya, mengingat sang mama benar-benar mengharapkan hal itu.


Menjelang jam makan malam, terdengar suara ketukan pintu. Saat itu, kedua orang tua Evan sedang berada di dalam kamar. Evan yang kebetulan berada di ruang tengah, segera berjalan untuk membukakan pintu.


Ceklek.


Terlihat sepasang suami istri berdiri di depan pintu utama rumah Evan. Keduanya menyunggingkan senyuman ramahnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Evan.


"Silahkan masuk, Om, Tante." Evan mempersilahkan tamunya untuk masuk.


"Ah, iya, Om."


"Kenalkan, saya Leo Utomo. Ini istri saya, Ratna. Dan ini, putri saya Nadia." Laki-laki tersebut memperkenalkan istri dan putrinya.


Evan segera menjabat tangan kedua tamunya tersebut. Namun, saat netranya menatap ke arah gadis yang berada di sebelah ibunya tersebut, Evan benar-benar terkejut. Dia bahkan tak berkedip saat melihat gadis itu.


Melihat tingkah Evan yang masih terdiam, Om Leo menepuk bahu Evan sambil terkekeh.


"Sudah, nanti saja kalian berdua berkenalan. Mam dan papa kamu ada?"


Evan benar-benar gelagapan. Dia merasa malu saat menyadari tingkah konyolnya tersebut. Buru-buru Evan meminta para tamunya untuk segera masuk.


Mama dan papa Evan langsung menyambut kedatangan para sahabatnya tersebut dengan cukup heboh. Bahkan, saat makan malam sudah dimulai pun mereka tak berhenti bercerita. Sementara Evan dan Nadia, mereka hanya diam mendengarkan obrolan para orang tua, tanpa ada niatan untuk saling berkenalan.


Hingga acara makan malam itu selesai, baru mereka mulai membicarakan hal yang serius. Kini, semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga rumah Evan. Mereka ingin membicarakan rencana perjodohan tersebut.


"Ehem, seperti kesepakatan kita sebelum pertemuan malam ini, saya ingin menanyakan kesediaan putra dan putri kita. Bagaimana?" tanya papa Jimmy kepada Om Leo.


"Benar. Sebaiknya, kita tanyakan dulu kepada anak-anak, Mas Jimmy."


Papa Jimmy mengangguk-anggukkan kepala. Dia menoleh ke arah sang istri yang tak berhenti mengulas senyuman. Kini, netranya tertuju pada Evan yang duduk di samping sang mama.


"Van, kamu sudah mengetahui rencana pertemuan kali ini adalah membicarakan tentang perjodohan kamu. Bagaimana, apa kamu bersedia?" 


Evan menoleh ke arah kedua orang tuanya. Dia bisa melihat wajah-wajah penuh harap dari mama dan papanya. Jika sudah seperti itu, mustahil bagi Evan untuk menolak rencana perjodohan tersebut. Mau tidak mau, Evan menerima rencana itu.


"Iya, Pa. Aku bersedia."


Terdengar hembusan napas lega dan syukur dari para orang tua. Kini, giliran Om Leo yang juga menanyakan hal yang sama kepada putrinya.


"Nadia, seperti yang kamu ketahui, Nak Evan sudah menyetujui rencana perjodohan ini. Kalau kamu bagaimana?"


Nadia terlihat menatap wajah-wajah yang berada di sana, sebelum akhirnya menatap ke arah Evan. Entah apa yang dirasakannya. Evan merasa Nadia akan menolaknya. Jika Nadia menolaknya, Evan bisa bernapas sedikit lebih lega. Dia tidak harus bersusah payah untuk membatalkan rencana perjodohan itu.


Namun, ternyata dugaan Evan salah. Nadia mengangguk dan menyetujui rencana perjodohan tersebut. Mendengar jawaban Nadia, sontak kedua orang tua langsung bersyukur bahagia. Malam itu juga, langsung dibicarakan prosesi lanjutan untuk mengukuhkan rencana pernikahan tersebut.


\=\=\=


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.