
Retta mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban sang suami. "Awas saja jika mas Vanno macam-macam. Minggu depan ikut dikhitan itu paralon air barengan sama Ken," kata Retta sambil berlalu.
"Hhhaaahhh, aku kan sudah dikhitan sayang. Aku nggak mau jadi uget-uget." Kata Vanno sambil berusaha mengejar sang istri yang hendak masuk ke dalam rumah. Namun, usahanya terhenti saat melihat Ken berdiri di depan pintu.
"Siapa yang mau dikhitan lagi Mom?" Tanya Ken yang sempat mendengar sedikit perdebatan orang tuanya.
Retta yang terkejut mendengar pertanyaan sang putra tersenyum sambil mendekatinya. "Tanya saja sama daddymu sayang. Jika dia mau bisa dikhitan lagi barengan sama kamu minggu depan." Kata Retta sambil tersenyum smirk ke arah Vanno.
Seketika Vanno langsung menggeleng dengan keras. "Tentu saja tidak sayang. Daddy kan sudah tua. Ulet kalau dikhitan lagi." Jawab Vanno singkat.
Retta mendengus kesal mendengar jawaban Vanno. Dia berlalu dari sana sambil menggerutu tidak jelas. Sementara Ken yang melihat sang mommy tengah kesal pun beralih menatap daddynya.
"Mommy kenapa Dad?" Tanya Vanno sambil mengambil bola basket yang tergeletak di bawah ring basket.
"PMS." Jawab Vanno. "Sudahlah, ayo kita bermain basket. Pemanasan dulu gih." Pinta Vanno pada Ken yang segera di angguki oleh Ken.
Seminggu berlalu. Tadi pagi Ken sudah melaksanakan proses khitanan. Saat ini dia tengah duduk bersandar di atas tempat tidur sambil mengotak atik laptopnya yang terletak diatas meja kecil.
Melihat sang kakak tengah serius, Khanza, sang adik berjalan mendekatinya.
"Kak, apakah masih sakit?" Tanya Khanza sambil beringsut duduk di samping lutut Ken.
"Tentu saja sakit. Rasanya panas." Jawab Ken.
"Apa nanti adik juga akan dikhitan seperti kakak?" Tanya Khanza dengan polosnya.
Seketika Ken menoleh menatap sang adik. "Tentu saja tidak. Kamu kan tidak punya selang air." Jawab Ken.
Khanza yang masih bingung pun hanya bisa mengerutkan dahinya. "Apa itu selang air Kak?" Tanya Khanza polos. "Di depan rumah kan ada. Daddy sering pakai buat nyuci bum-bum." Lanjutnya.
Ken memutar bola matanya. "Bukan selang air yang itu. Sudahlah, kamu kan masih kecil, belum mengerti." Kata Ken.
Seketika Khanza merengut mendengar jawaban sang kakak. Ketika hendak bertanya lagi, terdengar panggilan dari sang mommy. Khanza segera beranjak meninggalkan Ken dan pergi untuk menemui sang mommy.
Tiga hari berlalu, Ken sudah mulai bisa beraktifitas seperti biasanya. Namun, dia masih membatasi gerakannya. Ken masih menggunakan sarung saat berada di rumah.
"Sayang, nanti siang kita kontrol ya. Sebentar lagi liburan sekolah sudah habis kan. Minggu depan sudah mulai masuk semester dua." Kata Retta kepada Ken sambil menuangkan jus jeruk ke dalam gelas Vanno.
"Iya Mom." Jawab Ken singkat.
Retta beralih mengambilkan susu untuk Khanza dan mengambilkan nasi buat Vanno. Ya, begitulah aktifitas Retta setiap pagi saat sarapan.
"Nanti siang ingat pulang saat makan siang Mas, antar Ken kontrol. Awas saja kalau lupa." Kata Retta.
"Siap sayang. Aku tidak akan lupa kok." Jawab Vanno sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Adik ikut ya Mom," pinta Khanza antusias.
"Boleh dong." Jawab Retta sambil mengusap rambut Khanza dengan lembut. Sarapan pagi itu di warnai dengan ocehan Khanza dan Ken.
Setelah sarapan, Vanno segera berangkat ke menuju lokasi pembangunan hotel terbaru GC. Dia ingin meninjau langsung proyek tersebut.
Ken dan Khanza tengah bermain lego di ruang keluarga. Sementara Retta sedang mengecheck email dari laptopnya. Selama beberapa hari ini semenjak Ken dikhitan, Retta memang tidak pergi ke hotel ataupun ke butik. Dia selalu memeriksa semua pekerjaannya dari rumah. Dia tidak ingin meninggalkan Ken yang masih dalam masa pemulihan itu sendiri di rumah.
Tiba-tiba bi Mar datang menghampiri Retta. "Non, boleh saya bicara sebentar?" Tanya bi Mar yang tiba-tiba berada di samping Retta.
Mendengar bi Mar bicara, Retta segera meletakkan laptop dari pangkuannya. Dia juga menggeser tempat duduknya agar bi Mar bisa duduk.
"Ada apa Bi? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Retta.
Bi Mar terlihat masih menyusun kata-kata untuk disampaikan kepada Retta. Melihat bi Mar masih diam saja, Retta dibuat semakin khawatir.
"Ada apa Bi?" Tanya Retta semakin tidak sabar.
"Eeehhmmm, begini Non, apa boleh saya meminta ijin untuk pulang kampung?" Tanya bi Mar ragu-ragu.
Mendengar pertanyaan bi Mar merasa lega. Dia tersenyum sambil menjawab pertanyaan bi Mar. "Bi Mar kenapa takut begitu. Tentu saja boleh. Kami akan memberi ijin untuk bi Mar kapan pun jika bi Mar ingin pulang." Kata Retta sambil masih mengulas senyumannya.
Bi Mar tersenyum mendengar jawaban Retta. "Terima kasih Non. Tapi, saya tidak pulang ke kampung halaman saya." Kata bi Mar.
Seketika Retta terkejut. Dia bingung apa maksud perkataan bi Mar kali ini. Jika dia tidak pulang ke kampung halamannya, kemana lagi dia akan pulang. Batin Retta.
"Eehhhmm, sebenarnya begini Non. Tadi malam anak bi Mar satu-satunya, Leni, menelepon bibi. Saat ini dia tengah hamil anak keduanya. Usia kehamilannya sudah tiga puluh minggu. Beberapa minggu lagi dia akan melahirkan. Leni ingin bibi menemaninya di Kalimantan sana sampai lahiran Non." Kata bibi sambil menunduk.
Retta melihat wajah sendu bi Mar. Sebagai orang tua, sudah pasti dia sangat merindukan anak dan cucunya. Lebih dari separuh usia bi Mar dihabiskan untuk bekerja di rumah keluarga Vanno. Akan sangat egois jika Retta tidak mengabulkan keinginan putri semata wayang bi Mar tersebut.
Retta tersenyum sambil mengusap punggung tangan bi Mar. "Tentu saja boleh Bi. Bi Mar boleh pergi ke Kalimantan untuk menemani putri bi Mar sampai melahirkan. Bi Mar tidak usah khawatir. Kami akan selalu mengijinkannya." Kata Retta.
Bi Mar tersenyum bahagia mendengar perkataan Retta. "Lalu, bagaimana dengan den Vanno, Non?" Tanya bi Mar. Bi Mar merasa sedikit tidak enak. Biar bagaimanapun juga, bi Mar bekerja di keluarga Vanno sudah hampir tiga puluh tahun. Menurut bi Mar, akan sangat tidak enak jika dia mengecewakan keluarga Vanno.
Retta yang melihat raut wajah khawatir bi Mar, segera menenangkannya. "Bi Mar tenang saja. Mas Vanno urusanku." Kata Retta sambil mengulas senyumannya.
Bi Mar merasa sangat bahagia. Dia berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Retta. Bi Mar segera pamit untuk berkemas. Karena esok lusa, dia berniat untuk berangkat ke Kalimantan.
Saat menjelang makan siang, Vanno terlihat sudah berada di depan rumahnya. Dia segera masuk ke dalam rumah untuk menemui keluarganya. Vanno melihat mereka sudah berada di ruang makan. Vanno segera membersihkan diri dan ikut bergabung di sana.
Setelah makan siang, vanno dan keluarganya segera bersiap untuk mengantar Ken pergi kontrol. Retta segera membantu Khanza untuk bersiap-siap. Setelahnya, dia juga mempersiapkan diri. Saat berada di dalam kamar, dia berusaha untuk berbicara dengan Vanno.
"Mas, tadi pagi bi Mar minta izin untuk pulang kampung. Aku sudah mengijinkannya." Kata Retta.
Vanno menoleh menatap Retta yang tengah mengambil baju. "Barapa hari?" Tanya Vanno.
Retta berbalik menatap Vanno. "Bukan hari Mas, tapi bulan. Bi Mar akan pergi ke Kalimantan untuk menunggui anaknya yang akan melahirkan."
"Apa?!" Kaget Vanno. Dia benar-benar terkejut mendengar hal itu. "Kalau begitu, kita harus mencari asisten rumah tangga sementar selama bi Mar ke Kalimantan." Kata Vanno.
"Kenapa harus cari lagi? Aku kan masih bisa mengerjakan semuanya sendiri Mas." Kata Retta.
"Tidak boleh." Kata Vanno.
"Kenapa?" Tanya Retta. "Bukannya tugas istri mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Kenapa tidak boleh?" Lanjutnya.
"Kamu kan harus bekerja juga sayang." Jawab Vanno. "Lagi pula, jika kamu kecapekan bekerja dan mengerjakan semua pekerjaan rumah, jadwal kita untuk duet maut akan berkurang. Dan aku tidak mau itu sampai terjadi." Lanjut Vanno.
Retta yang paham maksud sang suami segera menghadiahi cubitan pada pinggangnya. "Dasar kamu Mas. Itu otak isinya selain iya-iya apa tidak ada lagi sih?" Gerutu Retta.
Vanno yang kesakitan karena cubitan Retta hanya bisa meringis sambil mengerucutkan bibirnya. "Tentu saja ada sayang," kata Vanno.
"Apa?" Tantang Retta.
"Konser musik tunggal satu suara, aaaahhhhh aaahhhhh aaahhhh."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Masih menunggu kisah kehidupan Ken dewasa kah?
Jangan lupa dukungannya ya aunty dan uncle, like, vote dan comment untuk authornya. Dia gembengan jika di bully dan tidak di dukung nanti
Thank you
Peyuk dan kecup online baby Ken
Eeemmuuaaahhh