Mendadak Istri

Mendadak Istri
Extra Part 6


Akan ada ujian di setiap step kehidupan yang dijalani. Namun, akan ada hikmah juga setelahnya. 


*****


Tak terasa saat ini Ken sudah memasuki usia lima tahun. Dia juga sudah mulai masuk di taman kanak-kanak. Retta dan mommy selalu bergantian mengantar dan menjemputnya ke sekolah. 


Saat ini, Vanno sudah mulai merintis usahanya sendiri di bidang properti. Meskipun begitu, dia juga masih aktif di perusahaan daddy. Retta juga membantu daddy dibeberapa usahanya yang sesuai dengan bidangnya. Kali ini, dia fokus pada hotel baru yang di bangun oleh daddy.


Siang itu, Vanno yang harus menjemput Ken. Retta meneleponnya karena dia masih mengadakan rapat dengan investor asing. Sementara mommy dan daddy sudah dua hari ini berada di Dubai untuk acara fashion show mommy.


Vanno menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang sekolah Ken. Dia melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Masih sekitar lima belas menit lagi, batin Vanno. Dia memutuskan untuk keluar dari mobil dan berjalan menuju sebuah tempat yang biasa digunakan oleh para orang tua untuk menunggui anak-anak mereka.


Vanno mendapati banyak para mama muda tengah berada di sana. Dia mendengus kesal. Lagi-lagi Vanno harus berbaur dengan para mama muda. Vanno mendudukkan diri di deretan kursi paling ujung. Dia segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeans miliknya. Vanno berusaha untuk menyibukkan diri dengan mengecheck email yang masuk inbox nya. 


Belum juga Vanno membuka satu email yang masuk, sebuah suara mengagetkannya. Vanno menoleh mencari asal suara tersebut. Dilihatnya seorang perempuan tengah berjalan mendekatinya. Vanno tersenyum tipis ketika si perempuan berjalan mendekatinya. Ketika sudah sampai di dekat Vanno, perempuan tadi mengulurkan tangannya dan segera di sambut oleh Vanno. Ya, dia adalah tante Syntia, sahabat sang mommy.


"Apa kabar tante?" Tanya Vanno ketika tante Syntia sudah duduk di sampingnya.


"Baik Van, kamu apa kabar?" 


"Seperti yang tante lihat," jawab Vanno sambil tersenyum tipis.


"Kamu jemput Ken?" Tanya tante Syntia. "Retta dan mommy kamu kemana Van?" Lanjutnya.


"Mommy masih di luar negeri Tan, sedangkan Retta masih menyelesaikan urusan kantor," jawab Vanno.


Tak lama kemudian, terdengar suara bel pulang sekolah. Vanno dan tante Syntia segera beranjak berdiri. Vanno segera mencari Ken, sementara tante Syntia segera mencari sang cucu. Setelahnya, mereka segera berpamitan untuk pulang.


Vanno membawa Ken ke hotel tempat Retta sedang mengadakan rapat. Mereka berniat makan siang bersama. Sesampainya di hotel, Retta tengah menunggu kedatangan mereka di lobby. Retta segera masuk ke dalam mobil. Vanno segera memacu kendaraannya menuju rumah makan kesukaan Ken. Hari ini Ken merengek ingin makan bakso jumbo. Meski sudah dilarang, Ken tetap kekeh ingin makan bakso jumbo. Dia bahkan mau mogok sekolah jika tidak dituruti.


Dan, disinilah mereka sekarang. Di rumah makan dengan pesanan tiga porsi bakso jumbo. Ken benar-benar sangat antusias menghabiskan bakso kesukaannya. Sekitar satu jam kemudian, mereka sudah menyelesaikan makan siangnya. Vanno dan Retta memutuskan untuk kembali ke rumah. Mereka tidak kembali ke kantor.


Sesampainya di rumah, dilihatnya Ken tengah tertidur di kursi belakang. Retta segera menggendongnya dan membawanya ke kamar. Setelahnya, dia segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Begitu memasuki kamarnya, Retta mendapati suaminya hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya tengah berjalan-jalan di dalam kamarnya sambil memainkan ponsel.


"Mas ih, apa-apaan itu hanya pakai handuk saja. Kalau mau mandi cepetan gih, gantian," kata Retta sambil melepas blezernya.


Vanno menoleh memandang Retta, namun tidak beranjak dari posisinya. 


"Aku membalas email Jonathan sayang, ini harus segera di kirim," jawabnya santai.


Retta mendengus kesal. Sementara Vanno tersenyum smirk. Melihat istrinya tengah kesal, Vanno segera meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Dia berjalan menuju walk in closet untuk menyusul Retta. Vanno segera memeluk Retta dari belakang ketika Retta sedang mengambil baju di dalam almari.


Retta yang terkejut memukul lengan suaminya. Puk.


"Mas ih, lepasin. Sana cepat mandi gih," kata Retta.


Bukannya melepaskan pelukannya, Vanno tambah mengeratkan pelukannya. Dia juga berbisik di telinga Retta. 


"Aku sengaja tidak kembali ke kantor hari ini. Pokoknya aku mau lembur," kata Vanno sambil memberikan kecupan pada bibir Retta.


Ya, Retta benar-benar marah jika Vanno membawa banyak pekerjaan di rumah. Selain karena akan mengurangi quality time bersama keluarganya, Retta juga tidak mau Vanno jadi kecapekan karena gila kerja. Retta benar-benar disiplin untuk hal itu. Dia akan mengijinkan suaminya bekerja ketika di rumah, jika memang itu benar-benar penting dan mendesak.


Vanno mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Retta. "Bukan lembur pekerjaaan sayang. Aku mau lembur membuat anak" jawab Vanno.


Seketika Retta diam membeku. Pipinya terasa panas dan badannya terasa meremang membayangkan aktifitas iya-iya yang akan terjadi. Ya, mereka memang merencanakan untuk menambah momongan. Selama hampir dua minggu ini, mereka berusaha lebih giat lagi. Meski bukan berarti hari-hari biasanya mereka tidak giat. Namun, mereka benar-benar tidak melepaskan kesempatan yang ada.


Melihat Retta yang diam saja, Vanno langsung membawanya keluar walk in closet menuju tempat tidurnya. Sudah bisa dipastikan apa yang akan mereka lakukan disana.


Silahkan berimajinasi sendiri ya, kira-kira Vanno dan Retta sedang main apa?


Dakon


Lompat tali


Petak umpet 🤭🤭🤭


*****


Tak terasa satu tahun kemudian, Retta sudah hendak melahirkan. Saat ini, Retta tengah berada di dalam ruang persalinan dengan Vanno yang setia menamani di sampingnya. Setelah perjuangan yang luar biasa, Retta berhasil melahirkan bayinya, baby girl. Vanno memberikan banyak kecupan pada wajah Retta sambil mengucap syukur dan terima kasih. 


Beberapa saat kemudian, Retta dan baby girl dipindahkan ke ruang perawatan. Di sana sudah ada Ken yang sangat antusias menunggu sang adik.


"Daddy, siapa nama adik Ken?" Tanya Ken di tengah-tengah kegiatannya menciumi sang adik yang tengah dipangku oleh sang nenek.


Vanno dan Retta yang melihatnya merasa sangat bahagia." Khanza Alexandra Geraldy, kakak bisa panggil Khanza," kata Vanno.


Vanno dan keluarganya sangat bahagia dengan segala anugrah yang di dapat. Tak henti mereka mengucap syukur kepada Sang Pemberi Nikmat untuk mereka. 


End


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Terima kasih untuk semua supportnya. Jangan lupa dukungannya untuk cerita ini ya,


Cerita baru juga akan segera hadir InsyaAllah, bisa di lihat di profilku.


🤗🤗