Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 65


Retta terkejut dan segera mendongakkan kepalanya. Dia melihat seorang laki-laki yang tadi pagi membawanya dan seorang perempuan berjalan masuk. Laki-laki itu berjalan mendekati Retta. Melihat ada yang mendekat, membuat Retta segera beringsut semakin kebelakang.


"Jangan bergerak!" perintah laki-laki itu yang membuat Retta terkejut dan berhenti bergerak.


Laki-laki itu berjongkok di depan Retta dan segera melepaskan penutup mulut Retta. Sementara perempuan tadi, berjalan mendekati Retta sambil menyeret kursi yang berada di dekat pintu.


Retta bergidik ngeri. Dia berpikir jika perempuan itu akan memukulnya dengan kursi itu. Mata Retta tak lepas dari kursi yang dibawa perempuan itu.


Namun, pikirannya salah. Perempuan itu meletakkan kursi di samping Retta dan menaruh sebotol air minum di atasnya. Retta masih diam mengamati apa yang kedua orang tersebut lakukan.


Perempuan itu berjalan ke arah belakang Retta kemudian melepaskan ikatan pada tangan Retta. 


"Minumlah," kata perempuan itu.


Retta masih diam tak bergeming mendengar perintah perempuan itu. Dia masih mengamati kedua orang itu.


"Minumlah. Jangan takut, kami tidak memberi racun pada minuman itu," kata perempuan itu lagi.


Retta berusaha mencari kebohongan di mata perempuan itu, namun dia tidak menemukannya. Retta mengulurkan tangannya untuk mengambil botol air minum tersebut. Dia memutar tutup botol tersebut dan membukanya. Tanpa menunggu lagi, Retta segera menenggak air dalam botol tersebut hingga tersisa setengahnya. Tenggorokannya memang terasa sangat kering.


Setelah menuntaskan dahaganya, Retta kembali menutup botol air mineral tersebut dan kembali memandang kedua orang yang ada di depannya. Dia memberanikan diri untuk bertanya.


"A-apa mau kalian?" tanya Retta.


Perempuan tersebut tersenyum tipis sambil berdiri. Dia berjalan mendekati kursi dan sedikit menggesernya agar menjauh dari Retta. 


Sementara itu, sang laki-laki beranjak pergi untuk bersandar pada dinding di dekat pintu meninggalkan Retta dan perempuan itu agar mereka bisa berbicara sedikit lebih santai.


"Apa mauku?" ulang perempuan tadi setelah mendudukkan diri di atas kursi.


Retta mengangguk sambil masih terus mengamatinya.


Retta masih diam mendengarkan. Dia bisa melihat wajah perempuan itu sedikit kalut. Ada emosi yang nampak pada ekspresi wajahnya.


"Lalu, apakah dengan cara menculikku seperti ini kalian bisa mendapat banyak uang?" tanya Retta.


Perempuan itu menoleh ke arah Retta sambil mengangguk sekilas.


"Setidaknya, kami mendapatkan bayaran yang lumayan banyak untuk pekerjaan ini," jawabnya. "Kami harus mengumpulkan uang untuk biaya pengobatan ayah kami. Jika tidak, kami tidak akan bisa memberikan pengobatan terbaik untuknya" lanjut perempuan itu.


Retta masih mengamati wajah perempuan tersebut. Ada cairan bening yang menggenang pada kedua bola matanya yang berusaha keras dia sembunyikan. Retta bisa merasakan jika perempuan ini terpaksa melakukan penculikan ini kepadanya.


"Aku mewakili saudara-saudaraku minta maaf untuk penculikan ini. Kami benar-benar tidak punya cara lain untuk mendapatkan uang dengan segera agar ayah kami mendapatkan perawatan dengan segera" lanjut perempuan itu.


Retta benar-benar merasa prihatin setelah mendengar penjelasan perempuan itu.


"Aku bisa membantu kalian untuk mendapatkan pinjaman uang dan juga pekerjaan" kata Retta. "Tapi, kalian harus membantuku untuk keluar dari sini" 


Perempuan itu memandang Retta dengan tatapan berbinar. Seulas senyum terbersit dari bibirnya. 


"Benarkah?"


.


.


.


.


.