Mendadak Istri

Mendadak Istri
Daddy Evan 2


Menjelang makan malam, Papa Jimmy, papanya Evan sudah sampai di rumah. Wajahnya terlihat sangat kusut dan lelah. Mama yang melihat hal itu langsung bergegas menemui sang suami.


"Ada apa, Pa? Apa ada masalah lagi?" Mama menatap wajah papa dengan wajah khawatirnya.


Sebuah senyuman langsung terbit pada wajah papa Jimmy. Dia membalas pelukan sang istri dan berusaha menenangkannya.


"Nggak ada apa-apa, Ma. Semuanya baik-baik saja. Aku hanya capek, karena tadi langsung ke bandara. Dimana Evan?" Papa mengalihkan perhatian mama sambil mengedarkan pandangan ke arah lantai dua tempat dimana kamar sang putra berada.


"Dia di kamarnya. Bersih-bersih dulu ya, setelah itu makan malam."


Papa langsung mengangguk mengiyakan. Setelah itu, papa segera beranjak ke kamar untuk membersihkan diri. Sementara mama, mempersiapkan makan malam untuk suami dan putra semata wayangnya.


Tak berapa lama kemudian, Papa dan Evan terlihat keluar kamar. Mereka langsung bergabung di ruang makan.


"Bagaimana perjalananmu, Van?" tanya laki-laki berusia setengah abad tersebut.


"Lancar, Pa." Evan menjawab pertanyaan sang papa sambil mengunyah makan malamnya.


"Semua berkas untuk kepindahan kuliah kamu sudah lengkap?"


"Sudah, Pa. Aku sudah menyelesaikan semuanya sebelum berangkat ke Indonesia."


"Baguslah. Setelah ini, kamu harus segera mendaftar kuliah. Jika butuh bantuan, Papa punya kenalan yang bisa membantu kamu mengurus administrasi perkuliahan."


"Nggak usah, Pa. Aku masih bisa sendiri kok."


Papa hanya mengangguk-anggukkan kepala. Selanjutnya, obrolan ringan tentang banyak aktivitas harian mengiringi makan malam mereka hari itu. Hingga setelah makan malam, obrolan kembali dilanjutkan di ruang tengah.


"Van, kamu harus segera mempersiapkan diri untuk membantu Papa di kantor," ucap papa saat berada di samping sang putra. Keduanya tengah memperhatikan acara televisi yang sedang menayangkan film hollywood tersebut.


Evan menoleh ke arah sang papa dengan kening berkerut. "Harus secepat ini, Pa?"


"Kalau tidak sekarang kapan lagi? Papa ini sudah tua, Van. Kamu anak papa satu-satunya. Jika bukan kamu siapa lagi?"


Evan hanya bisa mendesahkan napas ke udara. Iya, dia memang sudah mengetahui rencana sang papa sejak lama.


"Lalu, kuliahku bagaimana, Pa?"


"Kamu masih bisa kuliah seperti biasa. Papa juga tidak minta kamu membantu papa dengan penuh. Setidaknya, kamu harus belajar mengenal perusahaan keluarga."


"Iya, Pa. Nanti akan Evan pikirkan lagi."


Papa Jimmy mengangguk-anggukkan kepala. Laki-laki keturunan Korea tersebut terlihat cukup puas dengan jawaban sang putra. Setelah itu, kembali obrolan ringan mereka lakukan hingga film asing tersebut selesai.


***


Keesokan hari, papa Jimmy sudah berangkat ke kantor. Sedangkan Evan juga bersiap untuk mendaftarkan diri di kampus baru. Mama menghampiri sang putra ke dalam kamarnya.


"Berangkat jam berapa?" tanya mama sambil berjalan memasuki kamar Evan.


Mendengar pertanyaan sang mama, Evan menoleh ke arah pintu.


"Sebentar lagi, Ma. Ini masih menyiapkan keperluan."


Mama mengangguk-anggukkan kepala. Dia masih menatap wajah sang putra dengan tatapan sendu. Menyadari apa yang dilakukan sang mama, Evan langsung menoleh.


"Ada apa, Ma?"


Mama berusaha tersenyum sambil mendudukkan diri di samping sang putra. "Nggak ada apa-apa, Nak. Mama hanya takut tidak akan lama lagi bisa melihatmu."


Kening Evan berkerut. Bibirnya langsung mengerucut tidak suka mendengar perkataan sang mama. "Mama ini bicara apa? Jangan suka bicara aneh-aneh, Ma. Evan nggak suka."


Mama hanya tersenyum sambil mengangguk. Namun, hatinya berdenyut nyeri. 


\=\=\=


Othor kasih tambahan buat halu nih


Evan



Nadia