
Hansen menoleh ke arah Vanno sebentar dan mengangguk sebelum menjawab pertanyaannya.
"Lima belas tahun yang lalu, Andi Lesmana sebenarnya adalah kaki tangan Arya Hendrawan. Tapi, dia berhasil menipu Arya dan komplotannya dan berbalik mendukung tuan dan nyonya. Sebenarnya, nyonya tidak benar-benar percaya dengan Andi. Oleh sebab itu, dia hanya diberi pekerjaan untuk mengurus villa dan perkebunan di Bali."
"Meskipun begitu, tuan tidak benar-benar mempercayainya. Tuan meminta saya dan yang lainnya untuk menyelidiki motif Andi berbalik memusuhi atasannya waktu itu. Dan, kenyataannya adalah Andi merupakan adik dari ayah kandung Angela Kurniawan"
"Apa?!" tanya Vanno terkejut. "Bagaimana mungkin?" lanjutnya.
"Jessika dan Angela mempunyai ibu yang sama, namun memiliki ayah yang berbeda. Tidak ada yang tahu siapa ayah kandung Jessika. Namun, ayah kandung Angela adalah Edi Lesmana, kakak kandung dari Andi Lesmana" kata Hansen.
"Lalu, kenapa Angela tidak menggunakan nama belakang ayah kandungnya, kenapa malah menggunakan nama Kurniawan?" tanya Vanno.
"Saat itu, Edi Lesmana sudah berkeluarga. Dia sudah memiliki seorang istri dan tiga orang anak yang berada di Kalimantan. Dia menjalin hubungan dengan ibunya Jessika ini hingga lahirlah Angela" jelas Hansen.
Vanno hanya manggut-manggut menanggapi penjelasan Vanno. Besar kemungkinan motif Andi melakukan penculikan terhadap Retta adalah untuk balas dendam, batinnya.
Namun, jika untuk balas dendam, apa hubungannya. Andi tidak memiliki hubungan darah dengan dengan Jessika, kecuali,... Angela.
Vanno sangat yakin jika Andi melakukan ini karena permintaan Angela. Vanno dan keluarganya tahu jika Angela sangat menyayangi Jessika. Dia bahkan rela menikah dengan putra pendiri Emergo dan mengganti identitasnya untuk menghilangkan jejak agar dapat membalaskan dendam sang kakak.
Lamunan Vanno buyar seketika saat Hansen membelokkan kemudi pada jalan setapak.
"Inikah jalannya?" tanya Vanno sambil mengamati keadaan sekelilingnya.
Vanno hanya mengangguk mendengar penjelasan Hansen. Mobil yang ditumpangi Vanno dan Hansen melaju membelah jalan setapak yang terdapat pada hutan tersebut. Meskipun hutan tersebut cukup lebat, namun masih bisa dilewati oleh kendaraan. Banyak kendaraan yang lewat jalan itu untuk menuju pos pendakian gunung yang ada di ujung hutan.
Sementara itu, di dalam bangunan tua tersebut, Retta sudah mulai sadarkan diri. Dia mulai mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Dilihatnya sebuah ruangan kosong berlantai kayu. Ada sebuah kursi kayu yang diletakkan di dekat pintu.
Retta mengamati sekitar ruangan. Dia melihat ada sebuah jendela kaca yang terletak setinggi dua meter di seberang pintu masuk. Retta berpikir, jika dia bisa membawa kursi itu mendekati jendela, dia pasti akan bisa memanjat jendela tersebut. Namun, saat ini kondisi tangan dan kakinya sedang terikat. Mulutnya juga ditutup sehingga dia sama sekali tidak bisa berteriak minta tolong.
Retta berusaha duduk dari posisi awalnya yang masih tergeletak di atas lantai kayu. Dia berhasil duduk dengan susah payah. Ketika Retta hendak berusaha berdiri, pintu kamar tersebut dibuka. Ceklek.
Retta terkejut dan segera mendongakkan kepalanya. Dia melihat seorang laki-laki yang tadi pagi membawanya dan seorang perempuan berjalan masuk. Laki-laki itu berjalan mendekati Retta. Melihat ada yang mendekat, membuat Retta segera beringsut semakin kebelakang.
"Jangan bergerak!"
.
.
.
.
.