
"Kalian tidak menanyakan gawangnya?" Kata Gitta tiba-tiba. Namun, seketika dia tersadar dengan perkataannya. Dia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia merasa sangat malu. Gitta merutuki kecerobohan mulutnya yang seenaknya ketika ngomong. Entah apa yang dipikirnya barusan, dia benar-benar merasa malu.
Ketiga orang yang mendengarnya seketika diam, lalu setelahnya, mereka tertawa dengan keras. Terutama Vanno dan Retta. Retta yang saat itu tengah berada di samping Gitta segera memeluk bahu Gitta sambil mengusap-usap lengannya.
"Jangan khawatir sayang, Ken tidak segalak itu. Dia cuma besar di omongan. Tapi kenyataannya pasti meleset." Kata Retta memanas-manasi sang putra.
Dan benar saja, Ken benar-benar terpancing dengan omongan sang mommy.
"Ccckkk. Mommy sembarangan saja kalau ngomong. Bisa-bisanya bilang Ken cuma besar di omongan. Tuh, tanya saja Gitta. Semalam dia sudah melihatnya, sebesar apa python suaminya." Kata Ken dengan bangga.
Retta seketika menoleh menatap Gitta. "Benar begitu sayang?" Tanya Gitta penasaran. Dia berpikir berarti semalam memang sudah pembukaan jalan tol.
"I-iya Mom." Jawab Gitta dengan polosnya.
Dalam hati Gitta benar-benar merutuki kelemesan mulutnya. Bisa-bisanya dia ikut nimbrung pada percakapan absurd keluarga suaminya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Retta benar-benar merasa sangat bahagia. Seketika dia menatap Vanno, suaminya.
"Mas, kita benar-benar akan segera mempunyai cucu. Nanti aku mau cucu perempuan." Kata Retta penuh semangat.
"Laki-laki dong." Jawab Vanno tak kalah antusiasnya.
"Iihh, kok laki-laki sih. Perempuan saja. Aku ingin buatkan dia baju yang lucu-lucu." Kata Gitta penuh semangat.
"Aku juga ingin mengajak cucuku bermain bola. Akan aku bawa ke kantor dan aku pamerkan kepada itu si Purbo jika aku juga bisa punya cucu. Hahaha." Kata Vanno tak kalah hebohnya.
Seketika Ken mendengus kesal saat mendengarkan obrolan mommy dan daddynya.
"Mom, Dad, bisa tidak jangan suka ngadi-ngadi kalau ngomong. Ini pabriknya saja belum dibuka, adonan juga belum dibuat, belum dicetak juga, sudah ngomongin cucu. Masih jauh kali." Kata Ken dengan ketus.
Gitta yang mendengar obrolan absurd ketiganya hanya bisa menghela napas berat. Setelahnya mereka masih saja berdebat mengenai banyak hal. Namun, baik Retta maupun Vanno selalu mempunyai kesepakatan setelahnya.
Seperti tentang tempat tinggal Ken dan Gitta setelah menikah. Mereka sepakat jika Ken dan Gitta akan tinggal di rumah lama mereka yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah Retta dan Vanno. Awalnya, Ken menolak dengan keras. Bisa-bisa dia tidak jadi membuka jalan tol jika masih ada mommynya di dekatnya. Namun, setelah berdebat cukup lama, akhirnya Ken bisa menerima pendapat sang mommy.
Malam itu selepas makan malam, Retta mengajak Gitta untuk ikut pengajian yang diselenggarakan setiap malam Kamis dua minggu sekali di masjid kompleks perumahan mereka. Retta juga ingin memperkenalkan Gitta pada ibu-ibu yang ada di sana.
Sementara di rumah, hanya ada Vanno dan Ken. Ken sudah berkutat dengan laptopnya sejak selesai makan malam. Dia harus menyelesaikan proyek yang ditanganinya secepat mungkin.
Sementara itu, Vanno terlihat celingak celinguk di sekitar ruang tengah dan ruang tamu rumah mereka. Tak berapa lama kemudian, Vanno terlihat keluar rumah hingga berjalan sampai jalan depan rumah. Di tangannya terlihat sedang membawa sebuah toples berisi sentrat atau makanan kucing. Dia berjalan kesana kemari sambil celingak celinguk.
"Diit, Diitttt, Puuss, Puuss," kata Vanno sambil melongokkan kepalanya pada tumbuhan keladi yang tumbuh subur milik istrinya.
Saat itu, ada sepasang suami istri yang sedang berjalan melewati rumah Vanno sambil membawa barang belanjaan. Mereka seperti habis belanja di minimarket dekat pos satpam.
"Diitt, Diiitt Puuussss." Teriak Vanno lagi.
"Waahh sedang mencari kucing ya pak Vanno?" Tanya pak Tri sambil berjalan mendekat ke arah Vanno.
Vanno segera menoleh menatap ke arah dua orang yang berjalan mendekatinya. "Eh, iya Pak. Mungkin lari keluar rumah." Jawab Vanno.
"Itu kucing yang sering ikut Bu Retta belanja sayur itu bukan sih Ma?" Tanya pak Tri kepada istrinya.
"Iya Pa, yang mutih mulus itu lho." Jawab bu Rika. "Bagus sekali nama kucingnya Pak Vanno, Adit ya namanya?" Tanya bu Rika, istrinya pak Tri kepada Vanno.
"Bukan Bu." Jawab Vanno.
"Kalau begitu, Radit ya pak?" Tanyanya masih penasaran.
"Bukan juga Bu." Jawab Vanno lagi sambil menggoyang-goyangkan tempat makan kucing yang dibawanya berharap kucingnya mendengar dan segera pulang.
"Lha, kok salah Pak. Tadi panggilnya Dit Dit gitu. Lalu namanya siapa?" Kali ini pak Tri ikut penasaran.
"Nyedit Pak namanya." Jawab Vanno.
Seketika kedua orang yang ada di depannya melongo mendengar jawaban Vanno.
Kasih nama kucing kok ndak mbuoiss, mosok yo Nyedit. Batin pak Tri.
Sakne sakne, kucing bagus-bagus begitu namanya kok gitu. Pantesan kucingnya melarikan diri. Batin bu Rika.
Setelahnya, pak Tri dan istrinya segera pamit untuk pulang.
Vanno yang masih kebingungan mencari kucingnya pun bergegas masuk ke dalam rumah. Dia ingin meminta bantuan sang putra untuk mencarinya.
"Ken, tolong bantuin daddy sekarang dong." Pinta Vanno saat sudah berada di depan Ken.
Ken mendongak melihat daddynya yang sudah berada di depannya. "Ada apa Dad?' tanya Ken.
Seketika Ken membulatkan mata dan mulutnya. Dia cukup terkejut saat mendengar jika Nyedit, kucing kesayangan sang mommy hilang. Bisa tidak tenang ini rumah nanti. Ken segera beranjak berdiri mengikuti sang daddy untuk mencari Nyedit.
Mereka berpencar untuk mencari di dalam rumah dan di halaman. Namun, sang buronan tak juga ditemukan.
"Memangnya tadi daddy ngapain sih, kok Nyedit bisa ilang?" Gerutu Ken.
"Tadi sehabis kasih makan, daddy lupa tidak menutup kandangnya. Daddy buru-buru terima telepon dari mama kamu." Jawab Vanno.
"Waahhh, bisa-bisa daddy puasa ini jika sampai Nyedit hilang dan tidak ditemukan." Kata Ken. "Dulu saja mommy marah-marah karena Nyedit sempat keluar kandang malam-malam tanpa pengawasan." Lanjut Ken.
Vanno yang menyadari apa yang dikatakan Ken ada benarnya, langsung mendadak panik. Dia akan benar-benar puasa jika sampai Nyedit benar-benar hilang. Vanno jadi ngeri sendiri membayangkannya.
"Cepat bantuin daddy cari Nyedit sampai ketemu. Daddy bisa digoreng dadakan oleh mommy kamu jika Nyedit tidak ketemu." Kata Vanno sambil menarik lengan Ken.
"Baiklah, tapi nanti biayain modif mobil Ken di bengkel Om Axcell ya Dad." Kata Ken.
"Ho oh. Sudah cepetan." Jawab Vanno.
Mereka kembali mencari Nyedit hingga sampai halaman rumah tetangga. Namun, masih juga tak ditemukan. Vanno semakin panik karena saat itu sudah waktunya Retta pulang dari masjid. Bisa-bisa dia akan puasa jika tidak menemukan Nyedit.
Dan benar saja. Saat Vanno dan Ken berjalan ke ujung jalan, Retta dan Gitta juga terlihat berjalan ke arah mereka. Seketika Vanno dan Ken membulatkan mata dan mulutnya saat melihat Nyedit tengah berlari-lari kecil mengikuti Retta.
"Matilah aku!" Kata Vanno.
Retta dan Gitta berjalan ke arah Vanno dan Ken. Retta melayangkan tatapan tajam pada kedua laki-laki yang ada di depannya ini.
"Kalian ngapain saja sih, kok sampai Nyedit berkeliaran di luar rumah malam-malam begini?" Tanya Retta sambil memasang tatapan tajam.
"Maaf sayang, tadi aku lupa menutup kandangnya. Ada telepon dari mommy tadi." Kata Vanno merajuk pada Retta.
"Halah alasan saja kamu ini Mas." Kata Retta sambil beranjak berjalan meninggalkan suami dan anaknya itu. "Nanti tidur sama Nyedit di luar. Awas saja masuk kamar." Kata Retta pada Vanno.
Seketika Vanno mendadak panik dan segera menyusul istrinya.
"Sayang, jangan gitu dong. Tahu sendiri kan aku tidak bisa tidur jika tidak bermain tombol ajaib." Rajuk Vanno.
"Biarin. Itu tombol lampu banyak di rumah. Tidur saja sana nempel pada tembok."
"Emoohhh, emang cicak apa. Nggak mau. Rasanya nggak enak, nggak empuk, dan nggak bisa bunyi." Kata Vanno sambil masih mengekori sang istri.
"Bisa. Pencet saja tombol alarm kebakaran agar bisa bunyi." Ketus Retta.
Vanno masih tidak mau menyerah. Dia masih mengekori sang istri dan membujuknya hingga sampai rumah.
Sementara Ken dan Gitta yang memang masih tertinggal di belakang, terlihat masih canggung.
"Bagaimana acara di masjid?" Tanya Ken.
"Baik Mas. Banyak ibu-ibu yang masih tidak percaya jika mas Ken sudah menikah. Selebihnya, mereka baik kok." Jawab Gitta.
Gitta tidak menceritakan jika tadi ada beberapa gadis terlihat tidak menyukainya. Beberapa gadis itu bahkan terang-terangan berbisik-bisik sambil melihat ke arahnya.
Ken hanya manggut-manggut mengiyakan.
"Eehhmm, nanti kita coba kebiasaan baru lagi ya." Kata Ken sambil mengedipkan matanya ke arah Gitta.
Deg.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Hayo, jangan travelling lho ya 🤭🤭
Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote.
Biar tambah semangat upnya.
Thank you 🤗