
Melihat maksud Amira yang hendak memeluk Vanno, Retta segera menepis tangannya. Amira kembali menoleh ke arah Retta sambil mendelik kesal. "Apaan sih lo!" teriaknya kepada Retta. "Jangan halangin gue. Gue mau peluk cowok gue!" hardiknya pada Retta.
Retta kembali menoleh ke arah Vanno. "Benar dia cewek mas Vanno?" tanyanya.
"Cckk. Bukan!" jawab Vanno dengan ketus. Vanno mengalihkan pandangannya kepada Amira. "Sudah berapa kali gue katakan, jangan ganggu gue. Lo masih ngeyel juga." kata Vanno.
Amira yang sedari tadi berdiri di samping Vanno, berusaha meraih lengan Vanno. Namun, secepat kilat Vanno menepisnya.
"Kenapa sih dari dulu lo nggak pernah mau lihat gue. Gue kurang apa, gue cantik, imut, sexy. Kurang apa coba gue, jawab Van!" kata Amira. "Banyak cowok ngejar-ngejar gue. Tapi lo, sama sekali nggak mau lihat ke arah gue." lanjutnya.
Ccckkk. Vanno mendengus kesal. Dia sudah jengah dengan semua sikap Amira.
"Nggak usah muna deh lo. Gue tau maksud lo apa ngedeketin gue. Lo itu cuma dijadikan alat oleh bokap lo." kata Vanno. "Jangan lo kira gue nggak tau siapa bokap lo, Arya Hendrawan. Dia adalah orang yang menghancurkan perusahaan bokap gue lima belas tahun yang lalu. Dia bahkan dengan tega menghasut semua klien bokap gue hingga mereka menarik menghentikan kerjasama."
"Setelah semua yang bokap lo dan komplotannya lakukan, masih punya muka juga lo ngedeketin gue dan keluarga gue hah?" hardik Vanno. "Gue tau sejak empat tahun yang lalu bokap lo sudah bangkrut, dia sekarang hanya bekerja sebagai sopir di Emergo Corp. Dan, gue yakin bokap lo pasti tau jika Emergo Corp bekerjasama sama dengan perusahaan bokap gue. Maka dari itu, dia menyuruh lo buat ngedeketin gue dan keluarga gue," lanjutnya.
Amira tersentak mendengar perkataan Vanno. Dia sangat terkejut. Dia yakin selama ini telah menyembunyikan identitasnya dengan rapi. Bagaimana bisa dia mengetahui identitas dan rencananya. Pikirnya.
"A-apa ma-maksudmu Van?" tanya Amira gelagapan. "Itu tidak benar," lanjutnya.
"Ccckk. Sejak awal kelas sepuluh lo berusaha ngedeketin gue, gue sudah tau. Bahkan orang tua gue pun sudah tau siapa lo sebenarnya." kata Vanno. "Lo pikir akan sangat gampang buat lo ngedeketin gue hanya demi harta, hah? Bagi gue dan keluarga gue, lo dan bokap lo itu sama saja. Sama-sama gila harta," lanjutnya.
"Ini terakhir kali buat lo untuk kesini. Jika gue dan keluarga gue masih lihat lo lagi di sekitar sini atau ganggu keluarga gue, gue bisa pastikan keluarga lo hanya tinggal nama." Hardik Vanno dengan tatapan tajam.
Amira yang selama ini tidak pernah melihat wajah Vanno yang begitu menyeramkan langsung terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka jika selama ini Vanno dan orang tuanya sudah mengetahui siapa dia sebenarnya. Berulang kali Amira selalu berusaha untuk mendekati Vanno dan keluarganya tapi tidak pernah berhasil.
Setiap kali dia datang ke rumah Vanno, dia selalu mendapat perlakuan datar. Bahkan perlakuan yang sama pun dia dapatkan dari semua sahabat Vanno. Saat itu, Amira mengira jika sikap Vanno yang dingin kepada perempuan hanya disebabkan karena traumanya. Jadi, dia tidak berpikir jika Vanno dan keluarganya sudah mengetahui identitasnya.
"Va-Van, a-aku…" Amira berusaha berbicara kepada Vanno. Namun, belum sempat dia menyelesaikan perkataannya sudah dipotong oleh Vanno. "Gue nggak mau dengar omongan lo lagi. Segera pergi dari rumah gue. Jangan pernah kembali lagi kesini. Jika tidak, gue jamin lo bakal menyesal," hardik Vanno.
Amira terkesiap mendengar perkataan Vanno. Dia segera tersadar dan mengambil tasnya yang diletakkan di atas kursi. Dia memperhatikan wajah Retta sebentar sambil mendelik kesal sebelum pergi meninggalkan mereka.
"Apa?" tanya Vanno.
Retta mendengus kesal. "Jadi, selama hampir tiga tahun ini mas Vanno selalu di kintilin sama uler keket itu?" tanya Retta sambil memanyunkan bibirnya.
Vanno memperhatikan wajah Retta yang ditekuk, seketika tersenyum. Dia mendekati Retta dan menangkupkan kedua tangannya pada pipi Retta. Cup.
Tanpa aba-aba Vanno mendaratkan bibirnya pada bibir Retta. Seketika Retta terkejut dan wajahnya memerah.
Melihat wajah Retta yang memerah, Vanno menjadi semakin gemas. "Kamu cemburu?" tanyanya.
Retta tidak menjawab, dia segera membuang muka untuk menghindari tatapan Vanno. Dia berusaha melepaskan tangan Vanno dari wajahnya.
Bukannya melepaskan Retta, Vanno malah memeluknya dengan erat. "Jangan marah. Aku sama sekali tidak berminat sama perempuan kurus seperti itu. Nggak asik. Squishynya kecil banget, nggak bisa buat pegangan ketika mendaki. Enakan punya kamu, bisa pegangan dan menghasilkan suara merdu." kata Vanno sambil masih memeluk Retta.
"Maaasss!" teriak Retta sambil memukul punggung Vanno.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Maaf slow up ya