Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Asal dari Semua Kegesrekan ini


"Aaiisshhh, cakep bener ini keponakan aunty. Siapa namanya Kak?" Tanya Khanza penuh semangat.


"Zoey Alexander Geraldy" Jawab Ken.


"Waahhh, baby Z. Emeeesshh banget sih keponakan aunty, gemoy banget. Jadi pengen gigit pipinya." Kata Khanza sambil menoel-noel pipi baby Z.


"Enak saja main gigit. Nggak tahu apa buatnya susah." Dengus Ken.


Khanza langsung menoleh menatap wajah sang kakak. Tatapan tajam Khanza tertuju pada Ken.


"Susah apanya, enak juga iya." Jawab Khanza tak kalah ketusnya.


Semua yang ada di sana hanya tertawa terkikik mendengar jawaban Khanza. Sementara Gitta yang sedang menyusui semakin menunduk malu.


Tak berapa lama kemudian, Al terlihat masuk ruang perawatan Gitta. Dia terlihat sudah berganti pakaian dengan pakaian biasa. Itu menandakan jika jadwal tugasnya sudah selesai.


Khanza yang melihat kedatangan Al langsung menarik lengan sang suami. Ditariknya lengan tersebut sampai mendekat pada box bayi tempat baby zee tengah tertidur dengan lelap setelah kenyang.


"Kak, lihat baby Z. Gemoy banget deh. Emeesshh jadi pengen nyubit. Nanti buatkan aku yang gemoy seperti ini ya Kak?" Rengek Khanza.


Seketika Al merasa sangat malu. Bagaimana tidak. Dalam ruang perawatan tersebut ada Ken, Gitta, mommy, daddy, papa, mama, dan nenek. Sementara kakek (ayah mommy Retta) tidak ikut karena masih harus menghadiri undangan di balai desa. Hampir semua anggota keluarga berkumpul di sana. Mereka semua terkekeh geli saat mendengar rengekan Khanza kepada Al.


"Apaan sih Yang, malu tau." Bisik Al pada telinga Khanza.


Khanza yang mendengar bisikan sang suami pun langsung menoleh.


"Kenapa harus malu. Aku kan minta pada suamiku sendiri, bukan suami orang lain ini." Jawab Khanza sambil menoel-noel pipi baby Z.


"Ya, nggak usah diucapkan begitu juga dong. Nanti saja langsung praktek." Kata Al.


Sontak Khanza langsung menoleh menatap wajah sang suami. Wajahnya berbinar bahagia dengan senyum mengembang pada bibirnya.


"Benarkah?! Ayo pulang sekarang." Kata Khanza sambil menarik lengan Al.


Ken yang melihat tingkah sang adik pun menggodanya.


"Lhah, ini anak mau main pulang saja. Jangan pulang dulu Al. Aku kasih resep deh biar nanti anaknya biar gemoy seperti baby Z." Kata Ken.


Kali ini Khanza yang menoleh menatap wajah sang kakak.


"Nggak usah pakai resep kakak. Aku nggak mau nanti anakku ketularan gesrek seperti kakak." Ketus Khanza.


"Aku kan begini juga karena keturunan daddy." Jawab Ken sambil mendengus kesal.


"Sudah-sudah jangan ribut. Gen daddy kan memang paling unggul. Seharusnya kalian bangga memiliki gen unggul dari daddy." Kata daddy vanno melerai keributan dua putra dan putrinya.


"Gen gesrek kok bangga." Jawab Khanza, Ken dan mommy bersamaan.


Sontak daddy langsung tertawa nyengir. Dia melirik ke arah sang ayah.


"Lihat Dad, cucu dan menantumu memprotes gen unggul daddy. Bukan salahku kan jika gen unggul ini warisan dari daddy." Kata daddy Vanno meminta perlindungan dari sang ayah.


"Tenang Van. Mereka hanya protes di mulut, tapi tubuh mereka lebih jujur dari mulutnya." Jawab papa Evan.


Sontak semua menoleh menatap wajah daddy Evan. Mommy Nadia yang mendengar perkataan sang suami pun langsung mencubit pahanya.


"Apaan sih Dad. Sudah punya cicit juga masih saja error itu otak." Gerutu mommy Nadia.


Hampir semua orang disana tertawa melihat tingkah mama dan papa. Tak berapa lama kemudian, Khanza dan Al segera pamit, dan di susul oleh keluarga yang lainnya. Kini, tinggal Ken dan Gitta yang masih berada di ruang perawatan.


"Sayang, apa masih sakit?" Tanya Ken sambil mengusap-usap kepala Gitta.


Gitta mendongak menatap Ken sambil tersenyum. Dia menggelengkan kepalanya sambil mengusap pipi Ken.


"Enggak sesakit itu kok Mas. Jangan terlalu khawatir." Kata Gitta.


"Tapi aku tidak tega Yang. Aku khawatir jika kamu masih sakit. Aku tidak tega melihat kamu mengandung dan melahirkan lagi." Kata Ken berkaca-kaca.


"Dengar Mas, jangan pernah berpikiran seperti itu. Sebagai seorang istri, dapat mengandung dan melahirkan adalah anugerah terindah dalam hidupnya. Aku, sangat bahagia sekali dapat mengandung dan melahirkan putra kita. Aku bersyukur, kita diberi kepercayaan untuk memiliki buah hati. Jadi, jangan berpikir macam-macam. Aku bahagia bisa mengadung dan melahirkan Mas." Kata Gitta. Tak lupa juga dia memberikan sebuah kecupan pada bibir sang suami.


Ken tertegun mendengar perkataan Gitta. Dia cukup lega mendengar jika Gitta bahagia mengandung dan melahirkan putranya.


"Terima kasih Sayang. Aku bahagia sekali memilikimu dan baby Z." Kata Ken sambil menghadiahi beberapa kecupan pada bibir Gitta. Satu kecupan, dua kecupan, tiga kecupan dan sekarang bukan kecupan lagi yang di berikan. Namun, lu*ma*tan yang cukup dalam yang dia berikan. 


Gitta sempat terkejut mendapat perlakuan dari sang suami. Namun, bukan Ken namanya jika tidak bisa membuat Gitta ikut terbawa arus yang diciptakannya. 


Hhmmmm Maasshhh, eeemmpphh.


Gitta memukul-mukul dada Ken saat tangan sang suami sudah mulai bergerilya ke dalam baju Gitta. Kenyal-kenyal basah, itu yang dirasakan oleh Ken. Gitta langsung mendorong tubuh sang suami agar menjauh dari tubuhnya.


"Huh huh huh huh. Mas Ken apaan sih. Bajuku jadi basah ini." Gerutu Gitta dengan napas tersengal-sengal. 


"Waahhh jadi itu balon tiup jika disentuh sedikit saja langsung nyembur ya." Kata Ken dengan wajah beebinar bahagia.


Gitta yang menyadari tatapan 'horor' sang suami langsung menutup asenya dengan bantal yang ada di sebelahnya.


"Apaan sih Mas. Jaga mata, jaga pandangan. Ini punya adik, awas jika macam-macam." Ancam Gitta sambil memeluk bantal dengan posesif.


Ken mencebikkan bibirnya sambil berusaha merebut bantal yang di peluk Gitta. Sret. Dengan sekali tarikan, bantal tersebut sudah terlepas dari dekapan Gitta.


"Nggak usah ditutupi juga Yang. Aku lebih suka jika basah seperti itu, jadi seperti puding jelly yang kenyal-kenyal eeehhmm." Kata Ken sambil menjilati bibirnya sendiri dengan lidahnya.


Gitta merengut mendengar perkataan Ken. Dia memukul-mukul Ken dengan menggunakan bantal.


"Awas saja kamu bertingkah nanti Mas. Jangan mengganggu aset milik adek." Ancam Gitta.


"Lhah, kok gitu sih Yang. Berbagi juga dong. Nggak apa-apa sih siang buat adek, malam buat aku. Asal jangan di ambil adek semua." Jawab Ken sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya ampun Mas, kamu ini. Adek paling juga hanya dua tahun, setelah itu jadi milik kamu lagi. Sampai segitunya tidak mau berbagi dengan anak sendiri." Gerutu Gitta.


"Aku kan juga dalam masa pertumbuhan Yang, jadi nggak masalah jika mimik cucu." Jawab Ken sambil memanyun-manyunkan bibirnya.


"Pertumbuhan apanya?" Ketus Gitta.


"Ya itu, si Kj kan juga masih sering tumbuh Yang." Kata Ken.


"Dasar gesrek." Gerutu Gitta.


Selama tiga hari, Gitta dan baby Z berada di rumah sakit. Hari ini, mereka sudah boleh pulang. Mommy bersikeras tetap meminta Ken dan keluarganya untuk tinggal sementara di rumah utama. Dia masih ingin memantau perkembangan baby Z hingga Gitta cukup bisa merawatnya sendiri.


Kebahagiaan yang dialami oleh keluarga Geraldy sangat berlipat-lipat. Tak berhenti semua anggota keluarga mengucap syukur atas semua yang di terima.



.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Onty, yakin nggak mau cium aku yang gemoy nih? ~ baby Z


Jangan lupa dukungannya ya, like, komen dan vote.


Thank you.