
Ken yang samar-samar mendengar perkataan Khanza langsung tertawa terbahak-bahak. Dia sampai memegangi perutnya saking kencangnya dia tertawa. Al yang mendengar sahabat sekaligus kakak iparnya itu tengah menertawakannya langsung mendengus kesal.
"Sudah diam. Jangan ngetawain gue." Gerutu Al.
"Hahahaha. Bagaimana gue nggak ketawa coba. Itu si Khanza kedengeran minta kelon. Emang dia nggak mikir suaminya apa. Hahahaha." Kata Ken di tengah-tengah tawanya.
"Kasihan sama gue? Maksud lo apa Ken?" Tanya Al yang masih merasa ambigu dengan perkataan Ken.
"Ya emang lo nggak merasa pengen iya-iya saat peluk-peluk Khanza gitu. Atau jangan-jangan lo belok lagi? Hahahahaha." Tanya Ken.
Al mendengus kesal saat mendengar tuduhan Ken.
"Enak saja lo ngatain gue belok. Gue lurus kali, gue normal." Gerutu Al.
"Ya kali gue kira belok. Hahahaha." Kata Ken.
"Sembarangan kalau ngomong." Dengus Al. "Sudah, gue mau istirahat dulu. Capek gue." Lanjut Al.
"Oke. Jangan lupa pesanan gue. Bisa ditagih Gitta nanti jika lo sampai lupa." Kata Ken.
"Hhhmmm."
Al mematikan panggilan telepon dari Ken. Setelahnya, dia berjalan menuju tempat tidur dan segera merangkak di atasnya untuk merebahkan diri di samping Khanza. Al yang melihat Khanza sudah tertidur pulas hanya bisa memandang wajah teduhnya saat tidur.
Senyum lebar terbersit pada bibir Al saat dia memandangi wajah Khanza. Tanpa sadar tangan kanannya terulur hingga pipi sang istri. Dibelainya wajah cantik yang tengah tertidur pulas itu. Seketika, mata yang tengah terpejam itu membuka perlahan-lahan. Kedua netra mata mereka bertemu seolah saling mengunci.
"Maaf aku membangunkanmu ya?" Tanya Al.
Khanza menggeleng pelan sambil menggeser tubuhnya mendekat ke arah Al. Dia melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Al dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Tidak Kak. Aku ingin memelukmu seperti ini." Kata Khanza sambil mengeratkan pelukannya.
Al yang menerima perlakuan seperti itu dari Khanza pun membalas pelukan sang istri. Di usap-usapnya punggung Khanza untuk memberikan kenyamanan kepadanya.
"Tidurlah lagi." Kata Al.
Khanza terasa menggelengkan kepalanya pada dada bidang Al. Khanza sedikit mendongakkan kepalanya hingga sampai pada ceruk leher Al. Hembusan nafas Khanza bisa dirasakan Al mengenai lehernya. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Namun, sebisa mungkin dia menahan karena tidak mau merusak momen saat itu.
"Kak, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Khanza sambil memindah tangan tangan kirinya ke dada Al.
Al menurunkan pandangannya hingga bisa menatap wajah Khanza dengan jelas.
"Ada apa? Apa kamu ingin sesuatu?" Tanya Al.
Khanza menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah Al.
"Aku mau tanya, nanti apakah kak Al masih mengijinkan aku untuk kuliah?" Tanya Khanza sambil menggigit bibirnya. Dia merasa sedikit khawatir dengan hal itu. Dia khawatir jika Al tidak memberikannya izin untuk melanjutkan kuliah. Mengingat, Khanza belum begitu mengenal sifat Al. Mereka masih mulai untuk beradaptasi dengan hal itu.
Al yang melihat wajah cemas Khanza merasa gemas. Dia tahu jika Khanza tengah khawatir jika dirinya tidak akan mengizinkannya untuk melanjutkan kuliah. Al masih tersenyum sambil mengusap pipi kiri Khanza.
"Kamu maunya bagaimana?" Bukannya menjawab Al malah balik bertanya kepada Khanza.
Khanza terlihat menggigiti bibir bawahnya. Dia terlihat sedang berpikir, meskipun dia sudah tahu jawabannya. Khanza hanya bingung bagaimana cara menyampaikan keinginannya kepada Al.
Al yang melihat kebingungan Khanza memberikan sebuah kecupan pada kening sang istri. Dia ingin Khanza jujur dengan apa yang dirasakannya, apa yang diinginkan dan tidak disukainya. Dia tidak ingin membuat sang istri merasa tidak nyaman.
"Katakan apa pun yang kamu rasakan, jangan di pendam. Aku bukan cenayang yang bisa menebak isi hatimu atau menebak keinginanmu hanya dengan tatapan mata." Kata Al sambil masih mengusap pipi Khanza.
Khanza masih memainkan bagian depan kaos tipis Al. Dia memberanikan diri untuk berbicara kepada suaminya.
"Eehhmm, aku mau lanjut kuliah Kak. Kalau boleh jujur, aku mau terus sekolah. Bukan karena apa, tapi karena aku ingin mendapat ilmu sebanyak yang aku bisa, ya meski tidak selamanya ilmu itu di dapat dari bangku sekolah." Jawab Khanza. "Daddy dan mommy selalu mengajarkan tentang pentingnya pendidikan, meskipun aku seorang perempuan." Lanjut Khanza.
Al kembali tersenyum setelah mendengar jawaban Khanza.
"Aku setuju sekali dengan pendapat seperti itu. Aku pun juga ingin melanjutkan ke spesialis." Kata Al.
Mendengar jawaban dari Al, Khanza seolah menemukan jawaban dari pertanyaannya.
"Jadi, apakah aku boleh tetap melanjutkan kuliah?" Tanya Khanza penuh binar bahagia.
Al mengangguk mengiyakan. Khanza yang mendapatkan jawaban Al langsung memeluk erat suaminya. Dia juga memberikan kecupan pada rahang kiri Al, karena hanya itu yang bisa di jangkaunya saat ini.
"Tapi, aku punya satu syarat untuk hal itu." Kata Al.
"A-apa syaratnya Kak?" Tanya Khanza cemas.
Al menjauhkan tubuhnya dari tubuh Khanza agar dia dapat melihat wajah Khanza dengan lebih leluasa.
"Aku akan mengizinkan kamu untuk kuliah, tapi di sini, di Jakarta. Aku tidak akan mengijinkan kamu untuk melanjutkan kuliah di luar kota atau luar negeri. Sama, aku pun juga akan melanjutkan program spesialisku di sini, di Jakarta." Kata Al.
Seketika senyum Khanza merekah setelah mendengar jawaban Al. Ya, memang dia sudah mempunyai niatan untuk melanjutkan kuliah di Jakarta. Sebelum menikah, dia dan mommy sudah membahas ini bersama-sama. Dan keputusan Khanza sudah bulat untuk melanjutkan kuliah di Jakarta sambil membantu mommy di hotel. Dan, keputusannya saat itu ternyata juga merupakan keinginan sang suami. Betapa bahagiannya Khanza saat itu.
Khanza langsung memeluk Al dengan erat. Dia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Al.
"Aku akan melanjutkan kuliah di sini, Honey. Aku sudah tidak ingin melanjutkan kuliah di luar negeri." Kata Khanza.
Al yang mendengar jawaban sang istri pun langsung mengangguk bahagia. Di berikannya beberapa kecupan pada pucuk kepala Khanza setelahnya.
"Terima kasih." Kata Al. "Sekarang, kita istirahat dulu. Nanti kita bisa jalan-jalan sambil mencarikan sarung pantai untuk Gitta." Lanjut Al.
Seketika Khanza mendongakkan kepalanya. Dia menatap wajah Al sambil mengerutkan keningnya.
"Sarung pantai buat kak Gitta? Untuk apa?" Tanya Khanza.
"Gitta ngidam ingin memiliki sarung pantai katanya. Bahkan tadi, kata Ken Gitta meminta Ken sendiri yang langsung terbang ke Bali untuk membeli sarung pantai." Jawab Al sambil terkekeh.
Khanza hanya mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Al. Setelahnya, mereka mulai untuk memejamkan mata.
Sementara di Jakarta, Gitta sedang duduk berselonjor di teras samping bersama Ken yang saat ini telah merebahkan kepalanya pada paha sang istri. Dia memberikan kecupan bertubi-tubi pada perut Gitta yang sudah mulai membuncit.
"Sayang, daddy boleh nggak jenguk kamu? Daddy kan sudah kangen pengen ketemu kamu." Kata Ken di depan perut buncit Gitta.
Gitta yang sudah sangat paham maksud Ken hanya bisa memutar bola matanya dengan jengah.
"Itu sih bukan kamu yang kangen sama anak kamu Mas." Gerutu Gitta.
Ken yang mendengar gerutuan sang istri hanya tersenyun nyengir.
"Hehehe, bagaimana aku tidak kangen Yang. Lihat ini, aku kan jadi gemes lihat perut kamu yang sudah gendut ini. Aku jadi ingin menengok seberapa besar calon anakku di dalam sana." Jawab Ken sambil menaik turunkan alisnya.
Namun, seketika Gitta menatap wajah Ken dengan tatapn tajamnya.
"Jadi, menurut kamu aku ini gemuk ya Mas?!" Tanya Gitta sambil mendelik tajam menatap Ken.
Glek
Ken senyum-senyum
Gitta sebelum hamil
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Tinggal beberapa part lagi end ya kakak 🤗
Sambil nunggu up, bisa mampir dulu ke ceritaku yang satunya, "the ceo's proposal"
Mohon juga jangan lupa dukungannya, like, comment dan vote.
Follow juga ig othor @keenandra_winda. Akan ada info up dan karya baru nanti di sana.
Thank you 🤗