
"Kalau begitu, daddy buatkan satu kamar lagi buat boneka ya, yang buesaarr. Biar dia bisa punya kamar tidur sendiri. Kalau tidur di luar kasihan Dad, tidak ada yang peluk dan menghangatkan. Biasanya juga daddy bilang begitu jika terkunci di luar kamar oleh mommy." Kata Khanza dengan polosnya.
Glek.
Vanno dan Retta begitu terkejut mendengar perkataan sang putri. Retta segera menoleh menatap wajah Vanno dengan tatapan menuduh. Sementara Vanno yang sudah bisa menebak maksud tatapan Retta langsung menggeleng dengan cepat.
Retta kembali menatap wajah sang putri. "Kenapa ngomongnya begitu sayang?" Tanya Retta pada Khanza.
Khanza menatap wajah kedua orang tuanya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. "Biasanya, malam-malam daddy kalau terkunci dari luar kamar selalu bilang begitu." Jawab Khanza dengan polosnya. "Daddy suka bilang begitu sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mommy." Lanjutnya.
Retta segera menoleh menatap wajah Vanno yang tengah tersenyum nyengir. Dia hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia sudah sangat hafal dengan kelakuan absurd suaminya. Retta segera mengajak Khanza pergi ke menuju kamarnya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga tahun pun kini telah berganti. Saat ini Ken sudah dewasa. Dia sudah berusia 22 tahun. Dia mewarisi sifat dingin Vanno. Ken dewasa sangat irit bicara. Dia juga terkesan sangat dingin. Cowok jutek yang memiliki segudang prestasi itu sangat digilai banyak wanita sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Keenan Alexander Geraldy (22 tahun)
Ken mengikuti jejak sang daddy mengambil jurusan arsitektur. Mungkin, karena sejak kecil sudah sering melihat sang daddy menggeluti dunia itu, jadi hingga dewasa dia sudah mengenal sedikit banyak tentang jurusan itu. Ken, bahkan sejak awal kuliah sudah bekerja di kantor cabang perusahaan daddynya. Perusahaan itu memang lepas dari GC yang saat ini dikelola oleh Vanno.
Daddy Evan, ayah Vanno sudah mempersiapkan masa-masa beliau pensiun. Saat ini, daddy dan mommy Vanno menetap sementara di Surabaya. Khanza, sejak memasuki sekolah menengah atas, sudah pindah ke ke Surabaya menemani mama dan papanya (panggilan untuk oma dan opa). Sementara Ken, tetap tinggal di Jakarta bersama dengan Vanno dan Retta. Retta bahkan melarang Ken untuk tinggal sendiri di rumahnya, atau apartemen. Dia tidak ingin terpisah jauh dengan anak-anaknya
Ken beserta Ega, sahabatnya juga bekerja sama membuka studio foto. Dia bahkan mulai menjalankan usahanya itu semenjak kelas sebelas sekolah menengah atas. Tak jarang juga Ken bekerja sama dengan butik yang dikelola oleh mommynya. Sang mommy sering merekomendasikan studio foto Ken untuk melakukan foto prewedding atau acara pernikahan.
Sama seperti hari ini, mommy tengah menyiapkan pakaian prewedding, pesanan milik seorang putri pengusaha terkenal di Bandung. Pagi itu, mommy terlihat sudah sangat sibuk di kantor. Arini, sang asisten sedang membantu mengurusi pesanan klien yang lainnya. Bulan-bulan ini memang musimnya para calon pengantin untuk melakukan foto prewedding, jadi bisa dipastikan pesanan gaun pengantin di butik mommy juga membludak.
Selama hampir satu minggu ini, mommy tidak pergi ke hotel yang dikelolanya. Mommy lebih banyak menghabiskan waktunya di butik untuk menyelesaikan pesanan gaun pengantin. Mommy lebih mempercayakan kegiatan yang ada di hotelnya melalui laporan Debby, sang asisten yang sudah bekerja sangat lama di sana. Bahkan sudah sejak hotel itu dikelola oleh sang mertua.
Mommy terlihat melakukan pemeriksaan terakhir sebelum pakaian itu akan dibawanya sore nanti ke sebuah bumi perkemahan untuk melakukan sesi foto prewedding oleh si pemesan. Mommy menoleh menatap Gitta, asisten mommy yang lainnya.
Mommy sangat suka dengan Gitta, gadis yang sangat sabar, murah senyum dan sangat sopan. Dia juga sangat rajin. Hal itu juga yang membuat mommy selalu menyerahkan hampir semua urusan lapangan kepada Gitta. Meskipun dia masih berusia dua puluh tahun dan masih duduk di bangku kuliah, namun kemampuan gadis yang sudah hampir dua tahun bekerja di butik Retta ini patut diacungi jempol. Hampir semua klien yang ditangani Gitta merasa puas.
"Git, nanti sore jangan lupa sebelum berangkat di check sekali lagi, agar besok pagi tidak kebingungan." Kata Retta.
"Iya Bu. Nanti akan saya check lagi sebelum berangkat." Jawab Gitta. "Nanti, saya jadi pergi dengan mas Ega dan mbak Naura, Bu?" Tanya Gitta.
"Kemungkinan iya, tapi aku tidak tahu nanti yang berangkat siapa, Ega atau Bimo. Tapi, sepertinya Bimo tidak bisa deh, istrinya kan mau melahirkan." Jawab Retta sambil berjalan menuju ruang kerjanya.
Gitta yang masih mengekori Retta di belakangnya pun mengangguk mengiyakan. Dia tahu benar jika istri Bimo sudah mengalami kontraksi sejak semalam dari group WhatsAppnya. Jadi, bisa dipastikan Bimo tidak bisa ikut. Kemungkinan terbesarnya adalah Ega yang akan menjadi fotografer pengambilan foto prewedding tersebut.
Setelah sampai di dalam ruang kerjanya, Retta segera meminta asistennya untuk memesankan makan siang. Sementara dirinya mengambil ponselnya dan segera menghubungi sang suami, Vanno.
"Mas, jadi kapan ke Surabayanya?" Tanya Retta begitu sambungan terhubung dengan sang suami.
"Sabar sayang, pekerjaanku ini masih belum selesai. Lagian, minggu depan Khanza kan ke Jakarta, kenapa harus ke Surabaya sekarang sih?" Tanya Vanno.
"Kangen," Rengek Retta dengan manja pada sang suami. Gitta yang sudah sering mendengar keabsurdan atasan dan suaminya ini hanya bisa tersenyum bahagia. Dia bahkan sering berdoa semoga bisa mendapatkan pasangan sebaik itu nantinya.
"Sama sayang, aku juga kangen sama kamu. Aku masih di kantor ini. Nanti juga pulang. Sabar ya," kata Vanno di seberang sana.
Retta mendengus mendengar jawaban sang suami.
"Ccckkkk. Siapa juga yang kangen sama kamu Mas. Aku kangennya sama Khanza, bukan sama kamu." Jawab Retta dengan ketus.
"Blaassss Mas, blaasssss." Jawas Retta. "Ndak kangen blaassss aku." Lanjut Retta.
"Awas saja nanti minta nambah. Aku nggak mau." Jawab Vanno sok-sok an marah.
"Idiiihhhh, siapa juga yang sering minta nambah. Merengek seperti anak kecil. Ngintilin terus jika nggak dituruti. Bahkan ngambek nggak mau berangkat kerja. Siapa coba?"
"Ya, aku lah," jawab Vanno dengan cepat.
"Lha itu ngaku. Pakai sok-sok an mengancam segala." Jawab Retta dengan ketus.
"Hehehe, jangan ngambek sayang. Jangan marah-marah, nanti cepet tua lho." Kata Vanno.
"Memangnya kenapa jika cepet tua?" Tanya Retta mulai gusar. "Mas Vanno mau cari penggantiku ya, mau macam-macam hah?" Lanjut Retta.
"Enggak sayang, aku kan orangnya setia. Tidak suka macam-macam." Jawab Vanno dengan cepat.
"Iya, tidak suka macam-macam. Kamu kan sukanya satu macam," kata Retta dengan ketus. "Awas saja kalau kamu genitin para model-model yang masih muda-muda itu. Itu paralon air akan aku iris kecil-kecil, aku cincang biar dijadikan makanan Truno." Kata Retta.
"Aduuhhh, ngilu sayang." Jawab Vanno. "Jika tidak percaya, lihat saja hatiku. Ada nama kamu disana." Kata Vanno mulai menggombal.
"Idiihhh ogah. Aku nggak mau jadi janda." Jawab Retta.
"Lhah, siapa juga yang minta kamu jadi janda. Aku kan cuma minta lihat hatiku." Kata Vanno sok dramatis.
"Lha katanya suruh lihat hatinya, dioperasi dong. Dibelah dadanya, di ambil hatinya, dilihat ada tulisan namaku disana apa tidak. Kemudian dikembalikan lagi. Iya kalau berhasil. Jika tidak berhasil, ya jadi janda dong akunya." Jawab Retta dengan santainya.
Mendengar penuturan Retta, Vanno merasa ngeri sendiri. "Sayang, kok aku jadi ngeri ya membayangkannya." Kata Vanno. "Sudah-sudah, aku mau menemui sekretaris Mr. Jimmy. Dia sudah menunggu di ruang meeting." Lanjut Vanno.
"Awas kalau sampai kamu jadi ABC godain sekretaris orang." Kata Retta sebelum Vanno menutup teleponnya.
"ABC?, Apa itu?" Tanya Vanno penasaran.
"Aligator Buaya Crocodile yang keganjenan menggoda para perempuan." Jawab Retta dengan ketus.
"Hhhhaaaaaa"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Sorry baru up. Baru pulang ini tadi, jadi baru sempat pegang hape.
Jika masih suka, mohon jangan lupa dukungannya ya, like, vote dan comment.
Terima kasih 🤗