Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 45


Pagi itu, Vanno dan Retta segera berangkat untuk liburan. Setelah sarapan, mereka segera berangkat menuju bandara. Sementara mommy dan daddy sudah berangkat sejak dini hari.


Vanno dan Retta akan berlibur selama tiga hari di Bali. Mereka akan tinggal di villa keluarga yang ada di sana.


Pukul 13.35, Vanno dan Retta tiba di Bali. Mereka memutuskan untuk makan siang dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke villa. Pak Andi, orang kepercayaan daddy, sudah menjemput di bandara. 


Mereka bertiga memutuskan untuk makan siang di rumah makan terdekat dengan bandara. Perjalanan dari bandara ke villa memakan waktu hampir dua jam. 


Vanno dan Retta tiba di villa pukul 16.50 sore. Retta begitu kagum dengan design villa keluarga Vanno. Modern in nature. Retta tak berhenti menyembunyikan senyuman kekagumannya.



Vanno yang melihat wajah Retta tengah berbinar pun ikut tersenyum sambil memeluknya dari samping.


"Suka?" tanya Vanno sambil mengecup pucuk kepala Retta.


Retta menoleh ke arah Vanno dan segera menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Melihat Retta menggeleng, Vanno mengernyitkan dahinya. Bingung.


Retta segera tersenyum sambil berjinjit dan mengecup bibir Vanno sekilas. "Bukan suka, tapi sukaaaa bangeettt." katanya sambil tersipu.


Mendapat serangan singkat dari Retta, Vanno segera membalasnya dengan mel*mat bibir Retta dengan lebih lama. Retta yang masih terkejut hanya diam menikmati serangan Vanno. Dia bahkan sudah mengalungkan kedua lengannya pada leher Vanno.


Merasa mendapat angin hijau, Vanno berusaha memasukkan lidahnya pada mulut Retta. Menyadari keinginan Vanno, Retta segera membuka sedikit mulutnya agar Vanno bisa menjelajahi bagian dalam mulutnya.


Vanno yang sudah merasakan darahnya mulai memanas segera menyambar tubuh Retta dan hendak membawanya masuk ke dalam villa. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara pak Andi. "Maaf Den, ini kopernya mau di taruh di kamar sebelah mana?" tanya pak Andi.


Mendengar pertanyaan pak Andi, Vanno dan Retta segera berbalik. Mereka lupa jika masih ada orang lain di dekatnya. Seketika wajah Retta langsung merah padam. Dia merasa malu dengan aktifitas yang baru saja mereka lakukan. Retta segera menyembunyikan wajahnya pada punggung Vanno. Dia sama sekali tidak berani mendongakkan kepalanya. Malu.


Sementara Vanno, dia langsung mengubah wajahnya menjadi ekspresi datar seperti biasanya. "Bawa saja di kamar atas pak. Mulai sekarang aku akan menggunakan kamar itu bersama Retta." kata Vanno.


"Baik Den," jawab pak Andi sambil berjalan membawa koper Vanno dan Retta menuju kamar atas.


"Sudah, ngapain juga malu. Kita sudah menikah ini. Wajar jika melakukan hal itu." kata Vanno.


"Wajar katamu Mas?," Retta mendongak memandang Vanno sambil mendelik. " Iya jika dilakukan di dalam kamar, lha ini di teras depan rumah" lanjutnya.


"Kamu sendiri tadi yang mulai" jawab Vanno. "Bilang saja kamu sudah tidak sabar bermain semprotan selang air kan?" goda Vanno sambil tersenyum smirk.


"Ccckkk. Otak kamu Mas. Apa nggak ada yang lainnya." dengus Retta. "Dari dulu isinya selang air mulu," lanjut Retta sambil memanyunkan bibirnya.


"Itu karena kamu belum merasakannya. Coba jika kamu sudah merasakannya sekali saja, dijamin kamu pasti lari." jawab Vanno sambil tersenyum smirk.


"Lari?" tanya Retta bingung. "Memangnya kenapa harus lari, menakutkan?" lanjutnya.


"Lari mencari tempat maksudnya," jawab Vanno.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Masih slow up ya