Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Diobral


"Lalu, apa aku harus mendekati putrimu?" Tanya Ken dengan tatapan tajamnya.


Seketika wajah paman Gitta berubah. Dia sedikit takut mendapat tatapan tajam dari Ken. Ternyata anak ini mewarisi sikap ayahnya. Tatapan tajamnya saja langsung bisa membuat keringat dingin. Batin paman Gitta.


"Ah, bukan seperti itu maksudnya." Kata paman Gitta. "Tapi, jika anda mau boleh saja. Putriku tak kalah cantik dengan Gitta. Dia juga sudah beberapa kali muncul di iklan televisi." Lanjut paman Gitta dengan bangganya.


Ken malah tak menanggapi perkataan paman Gitta tersebut. Dia malah sibuk mengaduk minumannya dan memperhatikan Gitta. Tanpa menanggapi perkataan paman Gitta, Ken beranjak berdiri. Dia menatap wajah paman Gitta itu sebentar sebelum benar-benar beranjak pergi.


"Mulai sekarang, jauhi Gitta. Jangan coba-coba mengusiknya lagi setelah ini. Jika aku masih melihat kalian mengganggunya lagi, aku pastikan kamu dan keluargamu akan benar-benar tahu siapa kami sebenarnya." Kata Ken sambil beranjak pergi.


Sementara Gitta yang masih berdebat dengan bibinya dan Salsa, masih terus mengunyah potongan buah yang diambilnya. Dia tidak menghiraukan perkataan Salsa maupun bibinya. 


Saat itu, Ken tengah berjalan mendekati Gitta. Dia berjalan dari arah belakang Gitta yang sedang duduk, sehingga Gitta tidak mengetahuinya. Saat Ken sampai di belakang Gitta, dia langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher Gitta dan memberikan kecupan singkat pada pipi kiri Gitta.


"Sayang, pulang yuk. Aku tidak sabar untuk segera menyelesaikan tugas." Kata Ken.


Gitta yang sedikit terkejut langsung menoleh. Namun, seketika dia langsung tersenyum saat melihat wajah suaminya yang juga tengah tersenyum hangat ke arahnya. Gitta mengangkat tangan kirinya untuk membelai pipi kiri Ken yang saat ini wajahnya tengah ditopangkan pada bahu kirinya.


Sekalian saja memanas-manasi dua orang tak tahu diri di depanku ini. Batin Gitta.


"Ayo. Aku juga sudah lelah di sini, capek." Jawabnya sambil beranjak. 


Gitta segera menggandeng lengan Ken dan mereka pun beranjak pergi meninggalkan Salsa dan mamanya.


Salsa dan mamanya masih mematung melihat kepergian Gitta dan Ken. Mereka saling pandang setelah beberapa saat kemudian.


"Cccckkkk, dasar tidak sopan. Tidak tahu diri." Gerutu bibi Gitta.


"Iya Ma, benar. Kenapa si Gitta itu sekarang semakin berubah? Apa hubungannya Gitta dengan Ken Alezander?" Kata Salsa.


"Kamu kok malah tanya mama sih. Kemarin kamu bilang mau tanya pada teman kamu yang satu kampus sama Gitta. Apa hasilnya?" 


Salsa menggeleng sambil menatap wajah mamanya. "Dia nggak tahu Ma. Gitta tidak pernah terlihat bersama dengan Ken atau laki-laki manapun saat di kampus katanya." Jawab Salsa.


Bibi Gitta kembali mendengus kesal. "Kamu harus cari tahu apa hubungan mereka. Kalau perlu, kamu rebut laki-laki itu. Memang apa kelebihan Gitta dibanding dengan kamu." Kata bibi Gitta.


"Mama benar. Aku harus mencari tahu apa hubungan mereka. Dan, boleh juga laki-laki itu. Dia putra Vanno Alexander kan? Wow bisa dipastikan popularitasku akan langsung naik Ma." Kata Salsa dengan semangat empat limanya.


Sementara di dalam mobil, Ken terlihat memandang ke arah Gitta beberapa kali. Dia khawatir jika sang istri sakit hati atau sedih. Gitta yang merasa di perhatikan pun langsung menoleh.


"Ada apa sih Mas? Dari tadi lihatin mulu. Awas lho..." Kata Gitta.


"Awas kenapa?" Tanya Ken sambil menoleh lagi sekilas ke arah Gitta.


"Awas, nanti jatuh cinta. Cinta kepada diriku. Hahahaha." Jawab Gitta sambil bernyanyi dengan suaranya yang seksi, seksi konsumsi.


Ken langsung merengut karena berhasil digoda oleh sang istri.


"Tadi, kenapa nggak menjawab tuduhan bibi angkat kamu?" Tanya Ken. "Pergi ya main pergi saja. Nggak takut di katakan tidak sopan" tanya Ken lagi yang masih heran dengan sikap biasa Gitta.


"Biar saja aku dikatakan tidak sopan. Siapa suruh mereka menghinaku terus dari tadi. Memang mereka pikir aku mau jadi simpanan Mas, ogah. Buat apa juga jadi simpanan suami sendiri. Mending aku obral saja di depan suami sendiri." Jawab Gitta.


Seketika Ken tersenyum mendengarnya. Dia menoleh menatap Gitta dengan tatapan omes nya.


"Beneran ini mau di obral di depan suami?" Tanya Ken sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya. 


Gitta yang keceplosan pun segera merutuki mulut lemesnya. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu. Bakal tidak bisa istirahat nanti. Batin Gitta.


"Apaan sih Mas, itu tadi kan cuma perumpamaan." Elak Gitta. Dia tidak berani menatap suaminya.


"Tapi memang bener kan, buat apa juga jadi simpanan suami sendiri, lebih baik di obral kan." Kata Ken sambil masih tersenyum. "Kita nggak jadi balik ke Jakarta sekarang. Kita ke menginap di hotel mommy malam ini." Lanjut Ken.


Glek glek glek.


Gitta menelan salivanya dengan susah payah. Apa yang akan terjadi nanti, aku kan sedang datang bulan. Batin Gitta sambil menggigit bibir bawahnya.


Ken yang menyadari Gitta tengah khawatir langsung tergelak. Hahahaha. Sementara Gitta yang terkejut segera mendelik ke arah suaminya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Apaan sih Mas, ketawa gitu. Nyeremin." Gerutu Gitta.


Ken menoleh sekilas untuk menatap wajah istrinya.


"Kamu takut mendengar aku tertawa, tapi kamu malah tidak takut padaku saat di ranjang. Hahahaha." Kata Ken.


Seketika Gitta langsung malu. Entah mengapa suaminya ini suka sekali menggodanya.


"Nggak usah khawatir, nanti aku kasih tahu bagaimana cara memafaatkan semua aset yang kamu miliki." Kata Ken membuyarkan lamunan Gitta.


Deg.


Wis, ngalamat ra leren iki. Batin Gitta.


(Sudah dipastikan nggak akan beristirahat ini nanti)


Sementara itu di Surabaya, mommy Retta tengah menunggui sang putri yang baru saja bangun dari tidurnya. Orang tua Vanno sudah pulang ke rumah sejak pagi, karena harus beristirahat. Vanno sedang makan siang di luar saat itu.


"Mom, kapan aku boleh pulang?" Tanya Khanza. "Aku mau cepet pulang." Rengek Khanza.


"Sayang, dirawat di rumah sakit dulu ya. Biar benar-benar pulih." Kata Retta.


Khanza mengerucutkan bibirnya. Dia sudah bisa menggerakkan tangan kanan dan kakinya. Namun, tangan kirinya masih belum bisa digerakkan pasca operasi.


"Makanan disini nggak enak Mom, aku mual jika makan makanan rumah sakit." Kata Khanza.


Retta masih mengulas senyumannya setelah mendengar keluhan Khanza.


"Makanan rumah sakit memang begitu sayang. Memangnya kamu ingin makan apa?" Tanya Retta.


"Bubur kacang ijo Mom." Jawab Khanza dengan cepat. Retta langsung mengangguk mengerti.


"Di depan ada yang jual bubur. Mommy tanyakan dulu semoga mereka jual bubur kacang ijo." Kata Retta sambil beranjak berdiri.


"Thanks mommy." Kata Khanza sambil tersenyum lebar.


Retta segera pergi untuk mencarikan bubur kacang ijo. Sementara itu, Khanza segera meraih ponselnya dan mengecheck akun sosmednya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu diketuk. 


Khanza mempersilahkan masuk, dan ceklek. Pintu terbuka. Terlihat seorang dokter muda dan seorang perawat berjalan masuk melewati pintu tersebut.


Khanza belum mengalihkan pandangannya dari ponsel yang sejak tadi dimainkannya.


"Bagaimana keadaanmu nona Khanza?" Sapa sang dokter.


Seketika Khanza mendongakkan kepalanya. Dan, deg deg deg deg. Jantungnya mendadak berlompatan kesana kemari seperti sedang bermain trampolin. Mulutnya sampai terbuka seperti hendak oleng.


"Nona Khanza, apa anda baik-baik saja?" Tanya dokter lagi.


"Ti-tidak Dok. Saya tidak baik-baik saja." Kata Khanza masih tak mengalihkan pandangan dari sang dokter.


"Apa yang anda rasakan? Apa masih ada yang sakit?" Tanya dokter lagi.


"Iya. Jantung saya mendadak sakit Dok." Kata Khanza. 


Sang dokter mengernyitkan dahinya. Dia sedikit bingung dengan pasien yang ada di depannya ini.


"Apa anda mempunyai riwayat sakit jantung?" Tanya dokter.


"Tidak Dok."


"Lalu, sejak kapan jantung anda terasa sakit?" Tanya dokter sedikit bingung.


"Sejak dokter masuk ke ruangan ini." Jawab Khanza.


"Hhhaaahhh?" Sang dokter pun semakin bingung.


"Dok, sepertinya saya akan jatuh." Kata Khanza lagi.


Sang dokter pun semakin mendekat. Dia terlihat khawatir jika pasiennya ini merasa pusing.


"Apakah terasa pusing?" Tanya dokter.


"Tidak Dok." 


"Lalu, kenapa terasa seperti akan jatuh?" Tanya dokter bingung.


"Sepertinya saya akan jatuh cinta sama dokter."


Eeeeaaaaa 🤣🤣🤣


Dokter





Khanza





\=\=\=\=\=


Jangan oleng ya 🤗🤗


Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote


Jika berkenan, mampir juga ke ig ku ya @keenandra_winda88


Thank you 🤗