Mendadak Istri

Mendadak Istri
Daddy Evan 5


Evan hanya diam mematung. Entah apa maksud sang mama memintanya untuk tidak keluar rumah. Memang biasanya Evan lumayan sering nongkrong dengan teman-teman kampusnya hanya sekedar merokok. Meskipun begitu, Evan bukanlah perokok aktif. Dia hanya sesekali ikut bergabung dengan teman-temannya.


Evan segera beranjak menuju kamarnya. Seharian tadi dia merasa cukup lelah. Meskipun begitu, Evan cukup bahagia dengan perkembangan kesehatan sang mama yang membaik. Senyum mamanya juga lebih banyak dilihatnya akhir-akhir ini membuat Evan merasa sangat bersyukur.


Evan merebahkan diri di atas sofa. Tubuhnya terasa lelah. Hingga lama kelamaan dia memejamkan mata dan terlelap.


Menjelang petang, Evan merasakan tubuhnya berguncang. Sebuah panggilan terdengar di telinganya. Evan segera membuka mata dan mengerjap-ngerjapkannya.


"Pa?" uca Evan dengan suara seraknya.


"Bangun dan segera mandi. Kenapa kamu tidur di sofa? Tubuhmu pasti sakit nanti." Papa Jimmy masih berdiri di samping sofa.


Evan menggeliatkan tubuhnya. Dia memutar-mutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan hingga merasakan tulang-tulangnya bergemeletuk.


"Tadi capek sekali, Pa. Nggak sadar langsung tertidur di sini."


Papa Jimmy hanya mendesahkan napas ke udara. "Ya sudah. Segera mandi sana. Setelah itu, bersiap-siap. Akan ada tamu nanti saat makan malam."


Evan menolehkan kepala ke arah sang papa. Keningnya berkerut saat mendengar akan ada tamu di rumahnya.


"Tamu? Siapa, Pa? Tadi mama juga bilang seperti itu. Tapi, saat aku tanya, mama tidak memberitahukannya."


Papa Jimmy mengerutkan keningnya. Dia tidak menyangka jika Evan belum diberi tahu oleh sang istri.


"Kamu belum tau, Van?" 


"Tau apa, Pa? Memangnya ada apa?" Evan terlihat semakin bingung.


Papa Jimmy mendesahkan napas berat ke udara sebelum menjawab pertanyaan sang putra.


"Nanti malam, teman papa dan mama yang akan berkunjung. Kita sudah kenal cukup lama. Dia teman mama kamu sewaktu sekolah," jelas papa Jimmy.


"Bisa dibilang begitu, sih. Tapi, ada hal penting yang akan dibicarakan."


"Hal apa, Pa?"


Papa Jimmy menatap Evan dengan tatapan dalam. Dia berharap, Evan akan menerima apa yang dikatakannya.


"Kami ingin menjodohkan kamu dengan putri mereka, Van."


Evan membulatkan mata dan mulutnya. Dia begitu terkejut dengan perkataan sang papa.


"Menjodohkan? Papa dan mama mau menikahkanku?"


"Iya, Van. Mama kamu mempunyai ide itu saat bertemu dengan mereka di rumah sakit waktu pemeriksaan kesehatannya. Mama kamu sangat menyukai putri mereka. Tenang saja, Papa juga sudah bertemu dengannya, kok. Dia sangat cantik. Dan yang pasti, dia baik. Dia bisa menyayangi mama kamu."


Evan masih belum bisa menerima perkataan sang papa. Dia masih cukup terkejut dengan berita yang baru saja di dengarnya tersebut.


"Tapi, Pa, aku belum punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat ini. Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya? Lagipula, kami juga belum saling mengenal, Pa. Dua orang asing yang sama sekali belum pernah bertemu, bagaimana bisa akan menikah?"


Papa Jimmy mengetahui jika Evan pasti akan sulit untuk menerima rencana tersebut. Sepertinya, dia harus menggunakan cara terakhir untuk membujuk sang putra. Papa Jimmy tidak mau jika sampai kesehatan mamanya Evan ngedrop kembali.


"Van, sebelum kamu memutuskan untuk menolak rencana perjodohan ini, papa mohon kamu mempertimbangkannya terlebih dahulu. Kamu tahu, sebelum ini mama kamu benar-benar menolak untuk berobat. Namun, setelah kamu pulang, mama kamu mulai mau berobat. Dan, yang lebih membuat mama kamu bersemangat, adalah saat dia bertemu dengan temannya. Keinginan mama kamu untuk sembuh semakin meningkat."


"Hampir setiap malam mama kamu selalu bercerita jika dia ingin melihat kamu menikah dan mempunyai cucu. Dia sudah punya gambaran apa yang akan dilakukannya dengan cucunya tersebut."


"Namun, mama kamu juga mengerti hal itu tidak akan mudah untuk didapat, mengingat kamu masih sendiri. Satu-satunya cara adalah dengan menjodohkanmu. Tentu saja mama kamu sudah memilih calon terbaik untuk kamu, Van," ucap papa Jimmy.


Evan hanya bisa meraup wajahnya dengan kasar. Entah apa yang harus dilakukannya saat itu. Mau maju, terasa berat, mundur pun justru terasa tidak mungkin.