
Vanno segera mengobati bagian bawah Retta. Dia tidak mau berlama-lama agar tidak tergoda lagi. Setelah selesai, Vanno mengembalikan obat tersebut ke dalam laci. Ketika berbalik, Retta benar-benar terkejut menyadari punggung Vanno yang penuh dengan cakaran.
"Mas!, it-itu punggung kamu habis dicakar drakula?" teriak Retta.
Vanno hanya mendengus mendengar teriakan istrinya. "Iya, dicakar drakula yang sepanjang malam terus merintih keenakan, aahh aahhh" kata Vanno sambil berjalan mendekati Retta.
Retta membulatkan mulut dan matanya. Dia baru sadar jika dialah pelakunya.
"Jadi aku yang melakukannya Mas?" tanya Retta tak percaya. Dia bergidik ngeri membayangkan punggung Vanno telah penuh dengan cakaran. Sedangkan bahunya juga terdapat bekas gigitan yang lumayan dalam.
Melihat Retya yang terlihat bersalah, Vanno berjalan menghampirinya. "Tidak apa-apa. Ini tidak seberapa rasa sakitnya jika dibandingkan semalam" kata Vanno sambil mengusap bahu Retta. "Mau mengulanginya lagi?" tanya Vanno sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum.
Retta mencubit pinggang Vanno dengan gemas. "Bagaimana kamu bisa berpikir melakukannya lagi Mas, lihat ini ladang kamu sudah bengkak" sungut Retta. "Kamu benar-benar ingin membuat aku tidak bisa berjalan selama seminggu ya?" lanjutnya.
Vanno hanya bisa tertawa mendengar istrinya menggerutu.
"Tentu saja tidak," jawab Vanno. "Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar sehat" lanjutnya.
Setelahnya, Vanno meminta Retta beristirahat. Dia tidak mengijinkan Retta untuk keluar kamar. Bahkan, sarapan juga dilakukannya di dalam kamar.
Vanno meminta untuk menyiapkan semua sarapannya dan dibawa ke dalam kamar. Vanno juga meminta pak Andi dan istrinya untuk pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah sarapan, Retta benar-benar mengantuk. Entah kenapa tubuhnya terasa sangat lelah. Mengetahui Retta sudah sangat mengantuk, Vanno segera menggendong Retta menuju tempat tidur dan membaringkannya di sana.
"Mas, aku masih sakit lho. Kamu tidak mau macam-macam kan?" tanya Retta khawatir.
Vanno tersenyum sambil merapatkan pelukannya pada Retta. "Tidak. Aku tidak akan macam-macam. Sekarang tidurlah. Jangan banyak bergerak, atau aku akan menyerangmu lagi." Kata Vanno.
Retta bergidik ngeri mendengar perkataan Vanno. Tak berapa lama kemudian, Retta sudah terlelap ke alam mimpi.
Pukul 09.18 Vanno terbangun karena dering ponselnya. Dia segera memeriksa penelepon tersebut. Vanno mengernyitkan kening ketika mengetahui Tora asisten daddynya menelepon. Vanno segera beranjak dari tempat tidur menuju balkon kamarnya. Dia tidak ingin Retta terganggu dengan suaranya yang berisik ketika bertelepon.
"Hallo, ada apa?" tanya Vanno ketika sambungan telepon sudah terhubung dengan Tora.
"Maaf Mas Vanno mengganggu. Saya ingin menyampaikan beberapa informasi penting." kata Tora. "Bisa kita bertemu Mas?" lanjutnya.
"Kamu di sini?" tanya Vanno.
"Iya Mas, saya sudah ada di rumah pak Andi."
Setelah menutup teleponnya, Vanno segera kembali ke dalam kamar. Dilihatnya Retta masih terlelap di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Vanno merapikan selimut Retta sebelum beranjak ke kamar mandi. Dia membersihkan diri sebentar sebelum menemui Tora.
Tiga puluh menit kemudian, Tora sudah tiba di villa Vanno. Dia menunggu Vanno di gazebo samping villa. Vanno segera turun menuju gazebo tersebut untuk menemui Tora.
"Ada apa?, apa yang membuat kamu sudah ada di sini sejak pagi?" tanya Vanno begitu dia sudah berada di depan Tora.
"Maafkan saya Mas, saya hanya menjalankan perintah Bapak." jawab Tora.
"Daddy yang memintamu datang ke sini?" Vanno sedikit mengernyitkan dahinya mengetahui sang daddy yang menyuruh Tora datang menemuinya.
"Iya Mas," jawab Tora. "Ada hal penting yang ingin saya sampaikan," lanjutnya.
"Ada apa?"
"Jessika masih hidup. Dia dalang di balik kecelakaan mas Vanno kemarin" jawab Tora.
Deg.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
Like, vote dan komen.
Terima kasih. 🥰🥰