
Pagi itu, Ken masih bergelung di dalam selimut bersama dengan Zee yang masih berusia dua puluh bulan tersebut. Mereka kembali tertidur saat Zee bangun dan menyusul kedua orang tuanya.
Gitta yang sudah sejak pagi berkutat di dapur untuk membuatkan sarapan, segera menyiapkannya di atas meja makan. Meskipun ada asisten rumah tangga, Gitta lebih suka turun tangan sendiri untuk membuatkan sarapan keluarga kecilnya.
"Bi, ini tolong di bereskan ya. Aku akan membangunkan mas Ken dan juga Zee dulu." Kata Gitta sambil melepas apron yang dipakainya.
"Baik, Non."
Setelahnya, Gitta segera beranjak menuju kamar tidurnya. Dia harus membangunkan kedua orang laki-laki paling berharga di hidupnya tersebut. Meskipun hari ini weekend, Gitta tetap akan mengajarkan kedisiplinan kepada sang putra.
Ceklek.
Gitta membuka pintu kamarnya. Terlihat Zee tengah tidur tengkurap di atas perut sang daddy. Jangan lupakan air liurnya yang sudah membasahi kaos daddynya. Mulut yang terbuka tersebut membuat gemas siapapun yang melihatnya.
Gitta segera berjalan menuju tempat tidurnya. Dia menepuk-nepuk punggung sang putra untuk membangungkannya.
"Zee Sayang, bangun yuk. Mandi." Kata Gitta sambil masih menepuk-nepuk punggung sang putra.
Bukannya bangun, Zee justru malah menggeliat dan berpindah posisi. Kedua tangannya malah melingkar erat pada leher sang daddy.
Melihat hal itu, Gitta hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Mau tidak mau, dia harus membangunkan sang suami agar sang putra ikut bangun.
"Mas, bangun ih. Sudah siang ini." Kata Gitta sambil menggoyang-goyangkan paha sang suami.
"Hhhhmmm,"
"Jangan ham hem ham hem saja ih, Mas. Sudah siang ini. Zee kan mau di ajak mommy dan daddy jalan-jalan hari ini. Ayo cepetan bangun, Mas. Anak kamu nggak mau bangun nanti."
Ken menolehkan kepalanya dan membuka kedua matanya perlahan-lahan. Dia mengusap-usap punggung sang putra dengan lembut sambil sesekali mencium kepala Zee yang berada di depan wajahnya.
"Boy, ayo bangun dulu. Mandi bareng Daddy." Kata Ken mencoba membangunkan sang putra.
Masih belum ada gerakan dari Zee. Ken beranjak duduk perlahan-lahan sambil memegangi tubuh sang putra hingga kini dia berhasil duduk dan memangku Zee.
Dan benar saja. Zee langsung menjauhkan wajahnya dari tubuh sang daddy dan melepaskan pelukannya. Zee mendongakkan wajahnya sambil menatap wajah Ken dengan sengit.
"Indak oyeh ambin mimi ami. Tu punya Ji." Kata Zee sambil beranjak berdiri dan menghambur ke dalam pelukan sang mommy.
Tanpa dikomando lagi, Zee langsung membuka kancing baju Gitta dan mencari sumber nutrisinya. Hap. Dia langsung mengenyot sumber nutrisinya dengan rakus. Zee melirik ke arah sang daddy seolah pamer jika dia sudah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
Melihat hal itu, Ken tidak tinggal diam. Dia mengikuti apa yang dilakukan oleh Zee dan membuka sumber nutrisi sang satunya dan mengeluarkannya dari tempatnya.
Gitta yang kaget dengan apa yang dilakukan oleh Ken langsung mencubit perutnya.
"Mas?! Apa-apaan sih! Jangan aneh-aneh, deh."
Zee yang melihat tingkah sang daddy langsung melepaskan kenyotanya. Dia menampik tangan sang daddy yang sudah nangkring di sumber nutrisi miliknya.
"Angan ambin. Jauh-jauh. Ini milik Ji. Tak oyeh!" Kata Zee dengan ekspresi galaknya yang justru terlihat imut.
Ken hanya bisa mencebik sambil beranjak berdiri. Untuk menuju kamar mandi.
"Nggak tahu apa si bocil jika setiap malam aku yang selalu menyabotasenya tanpa harus repot-repot memeras isinya." Kata Ken sambil berjalan.
Gitta yang mendengarnya langsung mengerutkan keningnya karena tidak mengerti maksud perkataan Ken.
"Apa maksudnya itu?"
Ken menghentikan langkahnya saat hendak memasuki kamar mandi dan berbalik menatap wajah sang istri.
"Aku cukup mengerjai yang bawah tapi yang atas ikut mengalir. Dan begitu juga sebaliknya."
Halah embuh, opo maksudmu Ken. Othor ndak mudeng.