
Setelah memesan makan siang untuk dirinya, Retta dan mommy, Vanno kembali duduk di samping Retta yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Vanno mendengus kesal mendapati istrinya justru sedang asik berselancar di dunia maya daripada berbicara dengannya.
Eheemmm. Vanno berdehem keras untuk mengalihkan perhatian Retta.
Merasa tersindir, Retta mendongakkan kepalanya sekilas dan menatap Vanno. "Sebentar Mas, aku ingin memastikan sesuatu," kata Retta sambil mengalihkan pandangannya kembali pada ponselnya.
Vanno masih diam mengamati Retta yang masih sibuk dengan ponselnya. Beberapa saat kemudian, Retta tersenyum sambil meletakkan ponselnya di atas meja. Dia menoleh menatap Vanno sambil tersenyum. Entah keberanian dari mana, tiba-tiba Retta mendekatkan wajahnya pada pipi Vanno. Dan, cup. Retta memberikan sebuah ciuman pada pipi Vanno.
Vanno yang terkejut segera menoleh. Dia menyipitkan mata sambil mengamati wajah Retta yang tengah malu.
"Ada apa?" Tanya Vanno pada Retta. "Kenapa tiba-tiba menciumku, bukannya kamu malu melakukannya di tempat umum?" Lanjut Vanno.
Mendengar pertanyaan Vanno, Retta langsung menghembuskan napas dengan kasar. Dia langsung mencebikkan bibirnya sambil menatap tajam ke arah Vanno.
"Mas Vanno ih, kalau nggak suka dicium bilang saja," kata Retta sambil mengalihkan pandangannya. Sementara Vanno yang memperhatikannya segera menghembuskan napas dengan kasar.
Sebegini sulitkah menghadapi istri hamil, batin Vanno.
"Sayang, jangan ngambek dong," kata Vanno sambil mengusap bahu Retta pelan. "Bukannya aku nggak suka di cium istri, aku cuma kaget kenapa kamu tiba-tiba cium aku, di tempat umum pula," lanjut Vanno. Dia berusaha memasang wajah seimut mungkin, biasanya Retta akan luluh jika dia memasang wajah seperti itu.
Dan, benar saja. Retta menoleh dan menatap Vanno yang tengah merajuk. Retta mendekatkan wajahnya lagi pada pipi Vanno. Cup. Retta mendaratkan sebuah ciuman pada pipi Vanno. Seketika wajah Retta terlihat merah karena menahan malu. Sementara Vanno, dia hanya tersenyum mendapatkan hadiah dua kali ciuman dari Retta yang berhasil mendarat di pipinya.
Retta masih menatap wajah suaminya dengan tatapan bahagia.
"Terima kasih Mas, terima kasih sudah menjaga hati ini," kata Retta sambil menepuk dada Vanno pelan sambil tersenyum. "Terima kasih telah mau menjadi suami dan ayah dari calon anakku. Love you Mas," kata Retta sambil memeluk Vanno dari samping.
Vanno yang mendapat pelukan dari Retta segera melingkarkan tangan kirinya pada bahu Retta. Tak lupa juga dia memberikan kecupan pada puncak kepala Retta.
"Love you too, sayang" katanya di tengah kecupannya.
Retta mendongakkan kepalanya untuk menatap Vanno sambil tersenyum hangat.
"Iya, aku tahu kok," kata Retta melepas pelukannya sambil tersenyum.
Vanno mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Retta. "Tahu?" tanya Vanno bingung.
Retta tersenyum sebentar sebelum menjawab pertanyaan Vanno.
"Iya, tahu kok" kata Retta sambil tetap menyunggingkan senyumannya. "Axcell yang memberi tahu tadi. Dia bilang jika di kampus ada perempuan-perempuan keganjenan yang deketin mas Vanno, mas Vanno selalu bilang jika Mas sudah menikah. Dan, mas Vanno juga sangat menyayangi istri. Jadi tidak mungkin dia akan mendua, mentiga ataupun mengempatkan istri," lanjut Retta sambil tertawa lebar.
Vanno mendengus dengan kasar mendengar jawaban Retta. "Apaan itu mendua, mentiga dan mengempat?. Dikira aku playboy apa" jawab Vanno sambil memanyunkan bibirnya.
Retta tersenyum melihat suaminya tengah berada dalam mode ngambek.
"Ih gemesnya," kata Retta sambil mencubit hidung Vanno. "Iya percaya kok, aku yakin mas Vanno bukan laki-laki seperti itu. Buktinya, dulu salah-salah melulu mau jebol gawang, meleset-meleset terus. Hahahaha," kata Retta sambil menutup mulutnya agar tidak terlalu keras tertawanya.
Sementara Vanno yang mendengarnya hanya melongo sambil membulatkan matanya dengan lebar. Bisa-bisanya Retta mengungkit hal itu di sini, batin Vanno.
Belum sempat Vanno melayangkan protes, suara pelayan membawa makanan pesanan mereka datang. Bersamaan dengan kepergian pelayan tersebut, mommy juga sudah kembali dan ikut bergabung untuk menikmati makan siang tersebut.
"Tadi, apa yang mommy bicarakan dengan tante Sintya?" Tanya Vanno di tengah aktifitasnya mengunyah makan siangnya.
Mommy menatap Vanno sebentar sebelum menjawabnya.
"Oh itu, tadi tante Sintya cuma kasih tahu mommy, Angela Kurniawan sudah tidak menjadi menantu pemilik Emergo Corp," jawab mommy dengan santai.
Vanno menoleh sambil menatap mommynya. "Kok bisa?!" Tanyanya sedikit keras.
Puk. Retta memukul lengan Vanno karena terlalu keras berbicara. "Suaranya Mas," kata Retta.
"Ya bisa saja," jawab mommy. "Apa yang tidak bisa dilakukan oleh mereka. Kata tante Sintya, sekarang bahkan Angela sudah di kirim ke luar negeri," kata mommy.
Vanno hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Baguslah. Biar tidak macam-macam lagi," jawab Vanno.
Setelahnya, mereka melanjutkan obrolan sambil menyantap makan siang mereka.
****
Hari itu, hari terakhir ujian semester Vanno. Dia segera berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya. Vanno melihat Axcell yang melambaikan tangan ke arahnya. Vanno berhenti untuk menunggu Axcell mendekat.
"Selesai ujian lo?" Tanya Axcell ketika sudah berada di depan Vanno.
"Hhmm," jawab Vanno datar. "Ada apa?" Lanjutnya. Vanno tahu Axcell ingin menyampaikan sesuatu terkait cafe yang di kelolanya.
"Seperti yang gue bilang kemarin, ada investor yang tertarik dengan coffee shop Lo. Gimana?" Tanya Axcell.
Vanno menatap Axcell dengan wajah datarnya. "Entahlah. Gue belum bisa ambil keputusan. Perkiraan hari kelahiran sudah semakin dekat. Gue konsen ke sana dulu baru mikir cafe," jawab Vanno.
Axcell yang paham dengan keadaan Vanno segera mengangguk mengiyakan.
"Akan gue sampaikan ke investor alasan Lo," kata Axcell yang segera di angguki oleh Vanno.
Setelahnya, Vanno segera memacu motornya menuju rumah. Sesampainya di rumah, Vanno segera mencari keberadaan Retta di dalam kamarnya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Namun, tak menemukan keberadaan Retta.
Ketika Vanno hendak berbalik, bersamaan dengan Retta yang membuka walk in closet. Vanno tersenyum melihat sang istri sudah ada di depannya.
"Mas, kok sudah pulang?" Tanya Retta sambil mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Vanno
"Sudah," jawab Vanno.
"Bersih-bersih dulu gih. Aku siapkan makan siang ya," kata Retta.
"Makan kamu aja deh Ta," kata Vanno sambil mengedip ke arah Retta. " Sekitar seminggu lagi kan lahiran, masa iya aku harus puasa mulai dari sekarang" lanjut Vanno sambil memanyunkan bibirnya.
Retta menoleh ke arah Vanno sambil melotot. "Apaan sih Mas, sudah mau punya anak, pikiran gesreknya dihilangkan ih," kata Retta.
Vanno mendengus kesal. "Kok gitu sih Ta," Vanno merajuk sambil merengut. "Dulu, waktu awal-awal kehamilan kamu selalu menyerangku. Bahkan, kamu tidak pernah membiarkanku tidur nyenyak setiap malam" kata Vanno.
Retta bergidik membayangkan betapa agresifnya dia dulu. Bahkan, dia merasa sangat malu hanya karena mengingatnya. Entah mengapa dulu dia bisa menjadi seagresif itu.
"Ta..," panggil Vanno ketika melihat sang istri hanya diam mematung.
Retta segera tersadar dan menoleh menatap Vanno. "Apa sih Mas?" Tanya Retta pura-pura tidak paham maksud Vanno.
Jika dulu awal-awal kehamilan Retta yang begitu agresif, sekarang berbalik menjadi Vanno yang benar-benar agresif. Jika Retta menuruti kemauan Vanno, bisa-bisa setiap malam dia harus begadang untuk menemani Vanno lomba adu lemas di atas ranjang.
.
.
.
.
.