
Keesokan paginya, Retta tengah bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Sementara Vanno masih bergelung di balik selimutnya.
“Mas, bangun ih. Sarapan sudah siap.” Kata Retta sambil menggoyang-goyangkan lengan Vanno. “Aku berangkat dulu ya,” lanjutnya.
Vanno mengerjapkan matanya perlahan-lahan sambil memutar tubuhnya menghadap Retta. Dia menyipitkan matanya untuk melihat ke arah Retta yang tengah berdiri di samping tempat tidurnya.
“Jam berapa ini?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Jam 06.20 Mas, cepat sarapan gih!” kata Retta. “Bukannya pagi ini mas Vanno akan menemui Axcell sebentar sebelum berangkat ke Dubai nanti siang?” lanjutnya.
Vanno mengangguk sambil bangkit dari tempat tidurnya. “Tunggu sebentar. Aku antar ke sekolah” kata Vanno sambil berjalan ke kamar mandi. Belum juga Vanno beranjak melangkah, Retta sudah menghentikannya.
“Nggak usah Mas,” kata Retta sambil menarik lengan Vanno. “Aku sudah pesan ojek online. Lagi pula, arah sekolahku dan tempat Axcell berlawanan arah. Nanti malah kelamaan.” lanjut Retta.
Vanno memperhatikan wajah Retta dan mendekatinya. Cup. Dia memberikan kecupan singkat pada dahi sang istri. Retta tersenyum singkat dan segera menarik tangan Vanno untuk dikecupnya. Setelah berpamitan, Retta segera keluar rumah, karena ojek online pesanannya sudah menunggu di depan rumah.
Setelah Retta berangkat, Vanno segera membersihkan diri dan bersiap untuk menemui Axcell. Dia memang merencanakan sesuatu bersama Axcell dan Neo sahabatnya sebelum keberangkatannya ke Dubai untuk menyusul kedua orang tuanya.
Sementara itu, Retta yang tengah duduk di boncengan belakang ojek online tidak menyadari jika dirinya telah di ikuti oleh seseorang. Ketika melewati jembatan di dekat komplek perumahan elite yang dilaluinya, sebuah mobil berwarna hitam tiba-tiba berhenti di depan ojek yang Retta tumpangi. Sontak sang sopir terkejut dan segera mengerem motornya secara mendadak. Tubuh Retta seketika menabrak punggung sang sopir. Bahkan, helm keduanya saling berbenturan.
“Astaghfirullah, ada apa pak?” tanya Retta.
“Maaf mbak, itu di depan ada mobil yang tiba-tiba berhenti mendadak di depan motor saya,” kata sopir ojek online sambil menunjuk sebuah mobil berwarna hitam yang tengah berhenti di depan mereka. “Saya terkejut, jadi mengerem dadakan” lanjutnya.
Retta mengikuti arah yang ditunjuk sopir tadi. Matanya menyipit ketika melihat dua orang laki-laki berpakaian serba hitam dan berkacamata hitam. Retta masih melongo ketika melihat dua orang laki-laki itu berjalan mendekatinya. Begitu sampai di depan motor yang ditumpangi Retta, salah seorang dari laki-laki berpakaian serba hitam tersebut berbicara.
Retta yang masih kaget hanya bisa mengerjapkan matanya sambil memandang kedua orang asing di depannya. “Mas Vanno yang menyuruh?” tanyanya beberapa saat kemudian.
Kedua orang asing tersebut mengangguk bersamaan. Retta berpikir sebentar. Jika mas Vanno menginginkannya untuk ikut ke cafe menemui Axcell, kenapa tidak dari tadi pagi saja, batinnya.
Reta hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi Vanno, namun ketika dia mencarinya di dalam tas, dia tidak menemukannya. Dia benar-benar lupa mengambil ponselnya yang tengah di charge di atas nakas kamar tidurnya tadi pagi.
Dua orang laki-laki asing tadi masih menunggunya di samping motor yang ditumpangi Retta. Mereka masih meyakinkan Retta agar ikut bersamanya. Mereka membawa-bawa nama Axcell sehingga membuat Retta yakin dengan kedua orang laki-laki tersebut. Akhirnya Retta bersedia ikut dengan mereka. Setelah membayar biaya ojek online, Retta segera berjalan menuju mobil hitam tersebut dan segera masuk ke dalamnya.
Belum juga Retta mendudukkan diri dengan benar pada kursi bagian tengah mobil tersebut, seseorang yang berada ada kursi belakang segera membungkam mulut Retta dengan obat bius. Retta berusaha memberontak. Namun, tiba-tiba tenaganya hilang dan dia mulai kehilangan kesadaran.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Masih slow up ya