Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Honey?


Mommy, daddy dan Gitta langsung tersenyum saat mendengar jawaban spontan Khanza. Sementara Al yang mendengarnya langsung membulatkan mata dan mulutnya sambil menatap wajah Khanza lekat-lekat.


Khanza yang menyadari mulutnya telah keceplosan bicara langsung tergagap. Dia terlihat salah tingkah sambil melirik ke arah orang tuanya.


"Eh, itu, maksudku iya begitu, anu." Dia terlihat malu saat menatap wajah mommy, daddy dan Gitta. Dia terlihat salah tingkah sambil memperbaiki posisi duduknya.


Jika dia hanya bersama Al, mungkin dia tidak akan semalu itu. Namun, saat ini dia tengah bersama orang tuanya. Dia tidak mau dianggap ngebet nikah oleh keluarganya. Meskipun, kebenaran memang begitu adanya.


"Kamu ini Za, memang kamu sudah siap untuk apa?" Goda daddy.


Khanza yang merasa tengah digoda sang daddy hanya bisa merengut kesal. Dia hendak menjawab godaan daddynya namun sang kakak sudah kembali.


"Al, lo sudah off kan. Boleh minta tolong?" Tanya Ken sambil berjalan menuju ke arah Gitta.


"Iya, gue sudah off. Ada apa Ken?" Tanya Al.


"Gue cuma bawa satu mobil. Mang Jo nggak bisa datang menjemput, masih mau mengantar mama dan papa. Lo bisa bantu bawakan barang-barang gue dan Gitta?" Pinta Ken. Dia meminta bantuan Al karena kebetulan arah rumah mereka searah. 


"Okay. Gue bantu bawa barang-barang lo." Jawab Al.


Seketika Khanza menoleh menatap wajah Al. Merasa ada yang memperhatikan, Al pun mendongakkan wajahnya.


"Ada apa?" Tanya Al.


"Ehm, aku ikut kak Al ya. Nanti mommy dan daddy kan ikut mobil kak Ken." Jawab Khanza sambil tersenyum menatap wajah Al.


Al yang merasa jadi pusat perhatian banyak orang pun hanya bisa mengangguk mengiyakan.


Setelah semua siap, Ken memindahkan Gitta pada kursi roda. Dia mendorongnya hingga sampai pada tempat kendaraannya terparkir. Sementara Khanza membawa barang-barang Gitta dan Ken. 


"Sayang, kamu bedrest dulu ya. Jangan pergi ke butik dulu sampai calon cucu mommy benar-benar kuat." Kata mommy yang duduk di kursi belakang bersama Gitta. Mommy masih terus mengusap rambut Gitta dengan lembut.


"Iya, Mom. Nanti aku akan istirahat dulu di rumah." Jawab Gitta sambil tersenyum ke arah ibu mertuanya. Dia sangat bersyukur mempunyai mertua seperti mommy dan daddy. Mereka sangat perhatian dengan Gitta.


"Minggu depan untuk acara nikahannya Vita dan Gilang bagaimana?" Tanya Ken yang saat itu sedang menyetir dan fokus pada jalanan yang ada di depannya. "Sepertinya aku juga tidak bisa datang." Lanjut Ken.


Gitta menoleh menatap punggung suaminya sebelum menjawab pertanyaannya.


"Ah, iya Mas. Kemarin aku sudah kasih tahu Vita jika aku kena musibah, jadi kemungkinan tidak bisa hadir di acara nikahannya. Bahkan kemarin Vita juga sempat mau datang. Tapi aku langsung melarangnya." Jawab Gitta.


"Iya, sebaiknya begitu." Kata Ken.


"Kamu jadi ke Singapura dengan Ken Mas?" Tanya mommy kepada daddy yang saat itu berada di samping Ken.


"Iya, Sayang. Kami harus menyelesaikan beberapa masalah disana. Jika ada Ken, pekerjaan bisa cepat selesai. Kita bisa bagi tugas untuk mengurusnya." Jawab daddy.


"Berapa lama disana Mas?" Tanya mommy lagi.


"Ehm, kemungkinan dua atau tiga hari. Kenapa, takut kangen ya?" Goda daddy.


"Elaaahh Mas, apane sing dikangeni." Dengus mommy kesal.


Daddy yang mendengar jawaban mommy hanya bisa tergelak dengan keras. Sementara Ken dan Gitta hanya bisa menggelengkan kepalanya setelah mendengar interaksi keduanya.


Sementara di rumah sakit, Khanza masih menunggu Al yang tengah mengembalikan peralatannya. Khanza masih duduk di depan kamar perawatan Gitta. Dia masih memainkan ponselnya saat ada seseorang yang menyapanya.


"Khanza, sedang apa disini?"


Khanza mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang tengah menyapanya. Saat melihatnya, Khanza langsung tersenyum.


"Eh, kak Rangga. Iya nih, baru mau pulang." Jawab Khanza sambil tersenyum. Dia memang lumayan dekat dengan Rangga saat masih berada di Surabaya dulu.


Belum sempat Rangga menyahuti perkataan Khanza, terdengar suara seorang wanita memanggilnya.


"Dokter Rangga!" Panggil seorang wanita dengan sedikit berteriak.


Khanza dan Rangga menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda dengan pakaian yang sama seperti Rangga berjalan mendekat ke arah Rangga dan Khanza. Dia berdiri menempel pada Rangga dengan tangannya yang langsung memeluk tangan kiri Rangga dengan posesif. 


"Siapa ini Kak?" Tanya Khanza sambil mengulas senyumannya.


Rangga terlihat menghembuskan nafas beratnya sebelum menjawab. Sedangkan wanita yang berada di samping Rangga masih menatap wajah Khanza dengan tatapan sinisnya.


"Dia dokter Clarissa." Jawab Rangga dengan malas.


Khanza yang melihat keengganan pada wajah Rangga hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Dia menoleh menatap wajah dokter Clarissa.


"Hai, dokter Clarissa, perkenalkan aku Khanza." Kata Khanza sambil mengulurkan tangannya.


Wanita yang bernama Clarissa itu terlihat enggan menjabat uluran tangan Khanza. Namun, karena dirinya masih bersama Rangga, dia membalas uluran tangan Khanza.


"Clarissa." Jawabnya angkuh.


Khanza dapat melihat jika dokter Clarissa ini sepertinya tidak menyukai dirinya. Dilihat dari gelagatnya, kemungkinan dokter Clarissa ini menyukai Rangga. Dia mungkin mengira jika Khanza mempunyai hubungan spesial dengan Rangga, jadi sikapnya terlihat sekali tidak menyukai Khanza.


Khanza mempunyai ide untuk menjahili dokter Clarissa ini. Dia berdehem sebentar sebelum membuka suara.


"Ehem, kak Rangga masih ingat tempat makan favorit kita dulu di Surabaya?" Kata Khanza mulai menggoda dokter Clarissa.


Benar saja, wajah dokter Clarissa sedikit tersentak setelah mendengar pertanyaan Khanza. Dia menoleh ke arah Khanza dan menatapnya dengan tatapan tajam.


Rangga yang mendengarnya mencoba untuk mengingat-ingat dimana dia pernah makan berdua dengan Khanza. Ingatannya kembali melayang pada saat dia dan Khanza makan di pinggir jalan di depan rumah mereka. Saat itu, ada seorang tukang sate keliling yang tengah menjajakan jualannya. Karena saat itu Khanza sedang bermain di rumah Rangga, jadilah mereka menghentikan tukang sate yang biasa menjajakan dagangannya di sekitar komplek rumah mereka. Rangga dan Khanza makan di pinggir jalan di depan rumah mereka. Namun, saat mereka sedang menyantap sate pesanannya, datanglah seorang wanita jadi-jadian yang kebetulan sedang mengamen di sana. Pengamen itu langsung menempel di sisi Rangga sambil meniup-niup telinganya. Karena merasa geli, akhirnya Rangga lari terbirit-birit meninggalkan Khanza dan penjual sate yang sedang tertawa melihat tingkahnya.


Rangga yang mengingat hal itu kembali tersenyum ke arah Khanza. 


"Ah, abang sate." Celetuk Rangga yang diiringi kekehan tawa Khanza.


Dokter Clarissa yang melihat hal itu langsung mendelik tajam menatap wajah Khanza. Namun, bukanya takut Khanza malah semakin tertawa mengejeknya. Menurutnya, menyenangkan membuat wanita itu cemburu. 


Saat Khanza masih terkekeh mengingat kejadian itu, netra matanya tak sengaja melihat sosok Al yang tengah berdiri mematung menatap interaksinya dengan Rangga dan Clarissa. Tatapan matanya menusuk tajam ke arah mata Khanza.


Deg.


Khanza langsung membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Al. Dia berusaha menampilkan senyum terbaiknya agar dapat dilihat oleh Al. Entah keberanian yang datang dari planet mana hingga Khanza berani memanggil Al dengan cukup keras sambil melambaikan tangannya.


"Honeeyyy!" 



Ekspresi Khanza yang terkejut saat melihat Al.



Ekspresi Al yang tengah mengamati interaksi Khanza dengan Rangga dan Clarissa.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Sorry, masih slow up. Masih belum fit 🙏


Mohon tetap untuk dukungannya ya, like, comment dan vote.


Biar othornya berasa ada temennya 🤗