
Zee, batita yang berusia dua puluh bulan tersebut terlihat sangat aktif. Dia sudah sering berinteraksi dengan banyak orang. Zee terlihat tidak takut berada di kerumunan banyak orang.
"Sayang, sama papa dulu, ya. Mama mau ke toilet sebentar," kata mama Retta sambil menurunkan Zee dari gendongannya.
Batita tersebut mengangguk dengan antusias. Dia langsung berjalan menuju sang kakek yang tengah menerima telepon di dekat lift. Mama Retta membuntuti sang cucu hingga sampai pada kakeknya.
"Mas, aku tinggal ke toilet sebentar ya. Jaga Zee. Awas jangan sampai lepas!" Peringat mama Retta.
Seketika Zee langsung menoleh menatap sang papa sambil mendongakkan kepalanya.
"Iya, Yang. Tenang saja. Aku akan menjaga Zee." Jawab papa Vanno sambil mematikan panggilan teleponnya.
"Papa, ndong." Kata Zee sambil merentangkan kedua tangannya ke arah papa Vanno.
"Uuhhh, cucu papa sudah besar minta gendong. Nggak mau jalan sendiri nih," ucap papa Vanno sambil mengangkat tubuh sang cucu ke dalam gendongannya.
"Ndak au. Ji apek," jawab Zee sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher sang kakek.
Saat itu, terlihat seorang laki-laki dan berjalan untuk menghampiri papa Vanno dan juga Zee.
"Pak Vanno? Waahh, kebetulan sekali bertemu dengan Anda di sini. Apa kabar?" Sapa seorang laki-laki yang berusia sekitar lima puluh tahun tersebut.
"Selamat siang. Saya baik, pak Bram. Anda bagaimana kabarnya? Kebetulan bertemu di sini. Sendirian Pak?"
"Saya baik, Pak. Saya sedang menemani istri belanja di dalam sana," jawab pak Bram sambil menunjukkan sebuah gerai baju.
Papa Vanno hanya mengangguk-angguk mengiyakan.
"Waahh, ini putra Anda, pak Vanno? Tidak disangka Anda yang sudah berusia diatas empat puluh tahun masih bisa menggoyang pulau kapuk hingga membuat bu Vanno melahirkan lagi, hehehe." Kata pak Bram setelah menatap wajah Zee yang bisa dikatakan mirip dengan papa Vanno.
"Anda bisa saja, pak Bram. Kalau untuk menggoyang pulau kapuk saja tidak harus melihat usia, Pak. Yang harus diperhatikan adalah stamina dan pandai-pandai memberikan rangsangan kepada pasangan. Dijamin, hal itu pasti akan membuat kita puas lahir batin." Jawab papa Vanno sambil berbisik kepada pak Bram.
Seketika pak Bram tertawa lepas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Vanno akan mengatakan hal seperti itu. Pasalnya, saat mereka bertemu di kantor, hal yang dibahas adalah seputar pekerjaan.
"Waahh, Anda bisa saja, Pak Vanno. Diusia saya yang sudah memasuki lima puluh satu tahun, saya harus berjuang sangat keras agar bisa melakukannya. Bisa dikatakan, perjuangan hidup, Pak. Hehehe."
"Banyak-banyak olahraga, mengkonsumsi makanan sehat, dan yang paling penting, jangan terlalu stress, Pak."
"Saya sudah melakukannya dengan baik, Pak. Bahkan, saya juga sudah konsultasi dengan dokter. Namun, hasilnya tetap saja sama. Perlu perjuangan lebih keras agar bisa hidup, Pak."
"Entahlah, Pak. Atau mungkin, saya membutuhkan power socket baru ya Pak? Hehehe."
"Waahh mungkin perlu dicoba itu, Pak. Siapa tahu dengan power socket yang baru bisa berubah dari perjuangan hidup menjadi pandangan atau pegangan hidup. Hehehe." Canda papa Vanno.
Belum sempat pak Bram menjawab candaan papa Vanno, terdengar suara istri pak Bram memanggil namanya. Pak Bram buru-buru berpamitan kepada papa Vanno untuk menghampiri sang istri.
Setelahnya, papa Vanno segera berbalik. Dan, betapa terkejutnya dia saat melihat keberadaan mama Retta di belakangnya.
Glek.
Papa Vanno benar-benar kaget melihat mama Retta berdiri di belakangnya dengan tatapan tajamnya.
"Yang?"
"Apa yang yang segala? Mau nyoba colokan baru, iya?!"
"Eh, enggak kok. Kata siapa? Aku nggak mau coba-coba yang baru, kok." Jawab papa Vanno sambil menggelengkan kepalanya.
Mama Retta langsung berjalan mendekati papa Vanno dan mengambil alih Zee ke dalam gendongannya.
"Ayo Zee, kita pulang. Kita tinggalkan papa kamu jika dia mau cari colokan baru."
"Olokan?" Tanya Zee sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher mama Retta.
"Colokan Zee, bukan olokan."
"Tuk asak Ami?"
"Itu ulekan Zee yang dipakai masak mommy kamu."
Hohoho, semerdeka kamu lah Zee.
Spoiler MI 2 ini akan ada 10 part ya. Tidak urut. Jangan tanya kapan up, othor belum tahu. Maunya sekali up langsung banyak, meski bisa dijadwalkan waktunya. Othor bisa up sewaktu-waktu.
Bagi yang sudah follow akun othor, nanti akan ada pemberitahuan di sana. Terima kasih.