Mendadak Istri

Mendadak Istri
Extra Part 12


*Extra Part 11 kemarin sudah ditambahkan ya. Jika ada yang belum baca, bisa dibaca ulang. Terima kasih.


Hari senin pagi, Ken sudah bersiap-siap pergi ke kantor cabang di Surabaya bersama sang daddy. Namun, saat makan siang dia dan Gitta akan menemui pak Wisnu. Ken dan Gitta sudah menceritakan perihal pak Wisnu kepada mommy dan daddy. Mereka sangat antusias mendengar cerita Ken dan Gitta. 


"Sayang, mommy sangat berharap apa yang akan disampaikan pak Wisnu nanti membawa kabar bahagia." Kata mommy sambil mengekori baby Z yang sedang berjalan mengelilingi ruang keluarga tersebut. Sementara Gitta tengah membereskan meja makan yang sudah selesai dipergunakan.


"Aamiin. Aku juga berharapnya seperti itu, Mom." Ucap Gitta sambil menoleh menatap wajah mommy.


"Mom-mom-mom-ma-cu-cu-cu." Celoteh baby Z. 


Dia berjalan sambil berpegangan pada kursi dan meja menuju Gitta. Gitta langsung meraupnya ke dalam gendongan dan membawanya ke sofa bed yang ada di dekat jendela. Gitta segera menyusui sang putra.


Tak berapa lama pun baby Z sudah tertidur lelap. Gitta membaringkannya di sofa bed tersebut. Dia juga memberi bantal dan guling di sekitar baby Z.



"Nanti, biar Zee di rumah sama mommy. Kamu pergi saja sama Ken." Kata mommy sambil berjalan ke arah Gitta.


Gitta yang mendengar sang mommy pun menoleh dan segera mengangguk mengiyakan.


"Iya, Mom. Nanti aku akan bilang kepada mas Ken." Jawab Gitta.


"Sayang, jangan terlalu tegang. Berdo'a saja semuanya sesuai dengan apa yang kita harapkan. Jangan menjudge apapun dulu sebelum benar-benar mengetahui apapun alasannya." Kata mommy sambil mengusap bahu Gitta.


Gitta mengangguk mengiyakan. Air matanya mendadak luruh mengalir pada pipinya. Gitta langsung memeluk tubuh mommy mertuanya. Dia sangat bersyukur mendapatkan mertua seperti daddy Vanno dan mommy Retta. Mereka sangat baik kepadanya. Bahkan, mommy dan daddy menganggapnya seperti anak kandung mereka sendiri.


"Aku bahagia, Mom. Aku bahagia sekali menjadi bagian dari keluarga ini. Aku bahagia bisa menjadi putri mommy." Kata Gitta sambil berurai air mata.


Mommy Retta mengusap punggung Gitta dengan lembut. Dia juga sangat menyayangi menantunya tersebut. Dia tahu perjuangannya untuk melanjutkan kuliah dan bertahan hidup. Mommy Retta berharap yang terbaik untuk menantunya.


Menjelang makan siang, Ken sudah bersiap-siap untuk pulang. Dia sedang ada di ruangan sang daddy saat itu. Saat Ken hendak beranjak pergi, dia juga melihat daddynya juga beranjak pergi.


"Lah, mau kemana Dad?" Tanya Ken sambil menatap sang daddy.


"Pulang."


"Kok pulang, sih. Mau ngapain?" Tanya Ken heran.


"Pekerjaan kan sudah selesai kita check. Mau ngapain lagi memangnya. Kamu kan juga mau pergi sama Gitta kan. Lebih baik aku di rumah main sama Zee dan mommy kamu." Jawab daddy Vanno sambil berjalan mendahului sang putra.


Ken hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Jika sudah seperti itu, mana mungkin bisa mencegah sang daddy. Ken mengikuti sang daddy hingga tempat parkir mobilnya. Mereka segera pulang menuju rumah.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah. Baby Z yang sudah bangun dan melihat sang daddy datang pun langsung melonjak-lonjakkan tubuhnya. Dia merentangkan kedua tangannya minta digendong.


Ken berjalan mendekati sang putra dan segera meraup baby Z ke dalam gendongannya.


"Hhhmm, Zee bau kecut. Mainan apa tadi, hhhmm?" Kata Ken sambil menciumi pipi sang putra. Sementara baby Z hanya tertawa-tawa sambil mendorong wajah daddynya.


Tak berapa lama kemudian mommy Retta datang menemui Ken dan daddy Vanno.


"Sini, biar Zee sama mommy. Kamu segera berangkat sama Gitta. Dia sudah keluar lewat pintu samping agar tidak dilihat oleh putramu." Kata mommy sambil mengambil alih baby Z.


Ken segera menyerahkan sang putra kepada mommy. Dia segera beranjak keluar untuk menyusul Gitta. Setelahnya, Ken dan Gitta segera berangkat menuju restoran tempat mereka membuat janji dengan pak Wisnu.


Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di restoran tersebut. Ken dan Gitta segera mencari tempat yang nyaman agar bisa mengobrol. Mereka memilih tempat di bagian ujung dekat jendela yang terbuka lebar. Udara yang berasal dari taman kecil di samping bangunan tersebut terasa masuk ke dalam.


"Maaf, jika menunggu lama." Kata pak Wisnu sambil mendudukkan diri di kursi dekat dengan Ken.


"Tidak lama kok, Pak. Kami juga baru sampai." Kata Ken. "Sebelum kita ngobrol, bagaimana jika kita makan siang dulu Pak?" Tawar Ken.


"Baiklah. Kebetulan tadi saya juga belum makan. Hehehe." Jawab pak Wisnu.


Setelahnya, mereka segera memesan makan siangnya. Sambil menunggu makan siang, mereka mengobrol santai terlepas dari obrolan utama mereka.


"Jadi, pak Vanno hanya mempunyai satu putra?" Tanya pak Wisnu sambil menunggu pesanan makan siang mereka.


"Tidak, Pak. Saya punya seorang adik perempuan. Dia baru saja menikah sekitar satu tahun yang lalu." Jawab Ken.


"Benarkah? Waahh, saya ketinggalan informasi ini." Gumam pak Wisnu.


Tak berapa lama kemudian, pesanan makan siang mereka sudah datang. Mereka segera menyantap makan siang mereka sambil sesekali mengobrol.


Sekitar lima belas menit kemudian, makan siang mereka sudah habis. Gitta meminta pelayan untuk membereskan piring dan membawakan minuman lagi untuk mereka. Setelahnya, pak Wisnu mulai bercerita.


"Sebelumnya, saya ingin tahu masa lalu yang kamu ingat Git. Kamu bisa menceritakannya kepada saya." Kata pak Wisnu sambil menatap wajah Gitta.


Gitta menoleh menatap wajah sang suami dan dijawab dengan anggukan oleh Ken. Ken memegang tangan Gitta dan meremasnya dengan lembut untuk memberikan dukungan kepadanya.


"Saya tidak mengingat banyak Pak. Saya hanya ingat saat berusia sekitar empat atau lima tahun, saya bersama keluarga pergi ke Yogyakarta. Seingat saya, ada papa dan mama juga di sana. Namun, saat itu entah mengapa kami berhenti di tempat yang sangat ramai. Saya hanya mengingat banyak kereta api di sana. Mungkin itu stasiun kereta api, tapi saya tidak tahu pastinya."


"Kami berdesak-desakan saat itu. Yang saya ingat, saat itu tangan saya digandeng oleh bibi Asti. Namun, pegangan tangan saya terlepas. Setelah itu, saya tidak ingat apa-apa lagi. Begitu saya terbangun, saya sudah berada di panti asuhan. Hampir tiga bulan saya tidak bisa beraktivitas. Saya hanya bisa menangis dan menangis mencari mama dan papa, hingga saya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Saat itu, saya bertemu ibu angkat saya. Beliau mengadopsi saya hingga saya berusia enam belas tahun." Kata Gitta sambil berurai air mata.


Pak Wisnu menghembuskan napas beratnya. Di wajahnya terlihat guratan kesedihan yang sangat jelas. Ken yang melihat hal itu langsung bertanya.


"Sekarang, bisa tolong pak Wisnu ceritakan apa yang bapak ketahui tentang Gitta?" Pinta Ken.


Pak Wisnu mengangguk mengiyakan. Dia kembali menatap wajah Gitta dengan tatapan sendunya.


"Baiklah. Saya akan mencoba menceritakan apa yang saya ketahui." Jawab pak Wisnu. "Pertama, bagaimana saya bisa mengenali kamu adalah Gitta? Karena saya melihat ada tahi lalat di dagu dan ujung mata kiri kamu. Saya bisa mengetahui itu karena dulu saya adalah supir pribadi kamu, Git." Lanjut pak Wisnu.


"Apaa?!"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon bersabar ya, othor banyak banget kerjaan di RL pada akhir bulan ini.


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa follow ig othor @keenandra_winda


Thank you