Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Cerita


"Lalu, bagaimana lo bisa ada di rumah Vita?" Tanya Ken pura-pura tidak tahu.


Al menghembuskan napas beratnya sebelum menjawab pertanyaan Ken.


"Gue datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada orang yang telah berjasa pada keluarga gue." Jawab Al.


Ken mengerutkan dahinya bingung. Dia masih belum bisa mencerna maksud dari perkataan sang sahabat.


"Maksudnya apa?" Tanya Ken.


Al menyesap minumannya sebelum mulai menceritakan sesuatu kepada Ken. Sementara Ken terlihat tidak sabar karena penasaran. (Seperti para aunty mungkin ya 🤗🤗)


"Waktu gue kelas sebelas SMA, papa terkena gagal ginjal. Saat itu, kami sudah mengusahakan berbagai macam cara agar papa bisa sembuh. Aku dan mama juga sudah mencoba memeriksakan ginjal kami, namun tidak cocok. Kami juga sudah mencoba untuk mencari pendonor ginjal, namun kembali gagal."


"Saat kondisi papa sudah sangat drop, kami bertemu dengan om Wiryawan, ayah Vita. Beliau mau mencoba untuk mendonorkan ginjalnya. Setelah diperiksa, ternyata ginjal beliau cocok. Dan, akhirnya om Wiryawan mendonorkan ginjalnya untuk papa. Alhamdulillah papa bisa sehat sampai saat ini." Kata Al menjelaskan.


Ken mengangguk mengerti setelah mendengar penjelasan Al.


"Apa karena itu lo dijodohkan dengan Vita?" Tanya Ken tanpa sadar. Namun, dia buru-buru menutup mulutnya saat sadar telah keceplosan bicara.


Ah sial, kenapa mulutku sekarang lemes banget seperti mulut Gitta. Apa gara-gara ketularan Gitta karena sering adu mulut dengannya ya? Batin Ken. (Mana ada yang seperti itu paijo 🙄)


Al mengerutkan dahinya sambil menatap wajah Ken. Dia bingung dari mana Ken tahu jika dia dijodohkan dengan Vita, padahal dia sendiri belum cerita.


"Dari mana lo tahu jika gue dijodohkan dengan Vita?" Tanya Al.


Ken masih menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Eh, itu sebenarnya istri gue yang tidak sengaja cerita. Dulu dia cerita jika sahabatnya itu dijodohkan dengan anak seorang polisi, namanya Alfaro. Entah kenapa yang ada di otak gue saat itu adalah nama lo. Saat gue tanya nama lengkapnya, ternyata itu beneran lo." Kata Ken.


Al hanya mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Ken.


"Lalu, lo menerima begitu saja saat di jodohkan dengan Vita?" Tanya Ken.


Al kembali menatap wajah Ken. Kali ini dia menghembuskan nafas beratnya sebelum menjawab pertanyaan Ken.


"Gue nggak mau mengecewakan orang tua gue Ken. Papa dan mama berharap sekali gue bisa cepet nikah dan segera punya anak. Lo tahu sendiri kan, papa gue nikah selama sepuluh tahun dengan istri pertamanya tapi tidak dikaruniai anak hingga istrinya meninggal. Lalu, papa dan mama menikah dan baru ada gue sekitar tujuh tahun pernikahannya. Gue ingin membahagiakan orang tua gue selagi mereka masih sehat dan gue masih mampu." Kata Al.


Ken mengangguk mengerti setelah mendengar alasan Al. Dia juga berusaha memahami posisi Al sebagai anak tunggal di keluarganya.


"Lalu, apa lo sudah pernah bertemu dengan Vita sebelumnya?" Tanya Ken.


Al menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Ken.


"Gue belum pernah bertemu dengannya sebelum ini. Bahkan, gue nggak punya nomor ponselnya." Jawab Al.


Ken jadi serba bingung menanggapi jawaban Al. Di satu sisi, dia tahu jika Vita sudah punya kekasih. Sementara di sisi lain, ada sahabatnya yang tidak ingin mengecewakan orang tuanya dengan perjodohan ini.


"Lalu, apa yang akan lo lakukan sekarang?" Tanya Ken.


Al menggelengkan kepalanya sambil menyesap minuman yang ada di depannya.


"Entahlah. Gue juga bingung." Jawab Al.


Saat hendak mengajukan pertanyaan lagi, ponsel Ken berbunyi. Dia melihat ponselnya dan ternyata sang istri memintanya untuk di jemput.


"Al, istri gue minta dijemput sekarang. Lo mau balik lagi ke rumah Vita atau masih mau disini?" Tanya Ken sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Gue cabut saja. Ada perlu dengan sesorang di rumah sakit pusat." Jawab Al yang juga hendak beranjak dari duduknya.


"Oke, nomor lo tetap sama kan?" Tanya Ken.


"Yoi. Nanti gue hubungi lagi sebelum gue balik Surabaya." Jawab Ken.


"Oke. Gue cabut dulu." Jawab Ken sambil beranjak pergi dan diikuti oleh Al beberapa saat kemudian.


Ken segera menjalankan mobilnya kembali ke rumah Vita untuk menjemput sang istri. Beberapa saat kemudian, Ken dan Gitta sudah sampai di rumah mereka. Ken dan Gitta segera membersihkan diri setelahnya. 


Setelah makan malam dan membereskan meja makan, Gitta melangkahkan kakinya menuju ruang tengah tempat buku-buku kuliahnya masih berserakan disana sejak kemarin malam. Dia kembali duduk di karpet di ruang tengah tersebut sambil membuka buku kuliahnya.


Satu jam lebih Gitta sudah berkutat dengan buku kuliahnya. Sang suami yang sejak setelah makan malam juga sedang memeriksa pekerjaannya pun sudah beranjak dari sampingnya.


Ken masih terlihat menelepon seseorang di teras depan. Sepertinya, masalah pekerjaan yang ditinggalkan daddy harus segera di selesaikan oleh Ken. Setelah selesai menelepon, Ken segera mengunci semua pintu dan segera bergabung dengan Gitta di ruang tengah.


"Sudah selesi teleponnya Mas?" Tanya Gitta saat menyadari Ken sudah ada di sampingnya dan mulai mengganggunya.


"Hhhmmm." Jawab Ken sambil merebahkan kepalanya pada pangkuan Gitta. Tangannya mulai digerak-gerakkan pada ujung kancing baju tidur yang dipakai oleh Gitta.


Karena merasa dalam bahaya, Gitta mencegah tangan Ken yang sudah mulai melepas kancing baju tidurnya.


"Mas ih, jangan mulai deh." Kata Gitta sambil menahan tangan Ken.


"Mulai apa sih Yang?" Tanya Ken pura-pura tidak mengerti.


Gitta yang mulai kesal pun langsung mendelik menatap wajah sang suami. 


"Tangan kamu di kondisikan dong Mas. Aku lagi belajar ini, jangan mancing-mancing deh." Kata Gitta.


"Aku nggak mancing kok Yang. Kalau mancing kan di empang kalau ini kan di emp*eng." Jawab Ken tanpa dosa.


Gitta hanya memutar bola matanya dengan jengah. Dia tidak akan jadi belajar jika terus meladeni suaminya itu. Gitta membiarkan suaminya melakukan apa yang di inginkan.


Satu menit, dua menit, tiga menit hingga beberapa menit kemudian Gitta menahan suara agar tidak keluar dari bibirnya. Sementara Ken, sudah semakin gencar menjalankan aksinya.


"Mas ih, tangannya dikondisikan ih. Aku lagi belajar ini." kata Gitta menahan gejolak sang sudah hampir menguasai dirinya.


Ken masih tidak mengindahkan perkataan Gitta. Dia masih saja melakukan hal yang sangat disukainya itu. Apa ya? 🙄


Gitta yang semakin kesal langsung menoleh menatap wajah sang suami.


"Mas, aku masih belajar ya. Masih ujian ini. Duet mautnya di tunda dulu ya," pinta Gitta sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Ken yang selalu kesal saat Gitta merajuk seperti itu hanya bisa mendengus kesal. Dia selalu gagal menolak permintaan Gitta jika dia memasang ekspresi seperti itu.


"Yasudah, aku tidak akan mengganggumu lagi." Jawab Ken sambil menggeser tubuhnya.


Gitta yang merasa senang segera memberikan hadiah berupa kecupan singkat pada pipi sang suami.


"Terima kasih Mas." Kata Gitta.


Ken hanya bisa mendengus kesal mendapat hadiah dari Gitta.


"Ya, terima kasihnya jangan mancing-mancing juga dong. Jika terpancing nanti siapa yang mau tanggung jawab." Gerutu Ken.


"Hehehe maaf Mas." Jawab Gitta sambil nyengir.


Selanjutnya Gitta melanjutkan belajarnya, sementara Ken memainkan ponselnya di samping Gitta.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote


Thank you 🤗