Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Meminta Bantuan


"Lalu, bagaimana denganku?" Tanya Al tiba-tiba. Dia sedikit terkejut saat menyadari mulutnya kelepasan bicara.


"Eh?" Khanza langsung menoleh menatap Al.


Belum sempat Khanza menjawab, bunyi ponsel Al menginterupsi pikiran keduanya. Al segera memasang earphone dan mengangkat panggilan telepon tersebut. Ternyata panggilan telepon tersebut berasal dari papanya Al. Al diminta untuk menjemput papa dan mamanya di tempat temannya. Al segera menutup panggilan teleponnya setelah mengiyakan permintaan papanya.


Saat Al menutup panggilan teleponnya, bertepatan mobil yang dikemudikannya sudah sampai di halaman rumah Khanza. Al segera mematikan kendaraannya. Khanza yang sadar jika dia sudah tiba di rumah segera melepas seatbeltnya.


"Terima kasih banyak kak Al. Sekali lagi aku minta maaf untuk yang tadi." Kata Khanza sebelum turun dari kendaraan Al.


"Iya." 


Khanza menghembuskan nafas beratnya saat mendapati jawaban datar dari Al. Khanza segera beranjak dari tempat duduknya dan mengambil barang-barang milik Ken dan Gitta. Setelah semua barang di ambil, Al segera menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Khanza. 


Khanza yang melihat kepergian Al tanpa mengucapkan sepatah kata pun hanya bisa menghembuskan nafas beratnya. Dia berjalan masuk ke dalam rumah sambil membawa barang-barang Ken dan Gitta.


Dua hari berlalu, Gitta masih harus menjalani bedrest nya. Dia sama sekali tidak boleh melakukan aktivitas apapun. Mommy Retta akan sangat protektif terhadapnya. Gitta hanya bisa pasrah melakukan semua perintah sang mommy mertua demi calon anaknya.


Tadi pagi, daddy dan Ken sudah berangkat ke Singapura. Mereka harus menyelesaikan pekerjaan di sana. Kenapa Ken harus ikut? Jawabannya agar pekerjaan cepat selesai dan mereka bisa segera pulang. Jadi daddy Vanno membagi pekerjaan dengan Ken.


Malam itu, seusai makan malam Khanza berjalan menemui Gitta yang berada di dalam kamarnya. Mommy Retta tengah berada di rumah mama dan papa. Rumah mereka juga terletak tidak jauh dari rumah Vanno, hanya berbeda blok saja.


Khanza langsung nyelonong masuk ke dalam kamar Gitta yang pintunya terbuka. Para asisten rumah tangga baru saja membantu Gitta membereskan makan malamnya.


"Kak, jadi besok aku yang gantiin kak Gitta ke acara nikahannya kak Vita?" Tanya Khanza begitu dia mendaratkan tubuhnya pada tepi tempat tidur Gitta.


Gitta yang sedang bersandar pada kepala tempat tidur pun hanya bisa tersenyum.


"Kamu ada acara lain besok?" Tanya Gitta.


"Tidak ada Kak." Jawab Khanza sambil menggeleng cepat. Ya, Khanza memang tidak banyak aktivitas akhir-akhir ini. Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan berada di hotel sang mommy untuk membantu beberapa pekerjaan mommynya. Tak jarang juga dia memberikan beberapa saran untuk design resto yang ada di sana. Khanza memang sangat tertarik dengan design interior.


"Kalau tidak ada acara, kakak mohon besok kamu bisa datang ke acara nikahannya kak Vita menggantikan kakak. Kakak nggak mungkin kan kesana dengan keadaan seperti ini. Apalagi kak Ken juga nggak ada di rumah." Kata Gitta.


Khanza menghembuskan nafas beratnya. Dia tidak tega menolak permintaan kakak iparnya. Dia tambah tidak tega lagi jika membiarkan kakak iparnya itu datang ke acara nikahannya kak Vita.


"Baiklah, aku akan datang ke acara nikahannya kak Vita menggantikan kakak." Jawab Khanza akhirnya.


"Nah, gitu dong. Ini baru adik ipar kakak yang paling baik." Kata Gitta sambil mencubit pipi Khanza. "Lagi pula, kamu kan juga dapat undangan dari kak Vita, masa iya kamu nggak bakal datang." Lanjut Gitta.


"Iya juga sih. Tapi, aku malas jika harus datang ke acara nikahan sendirian Kak." Jawab Khanza sambil merengut.


"Ya sudah, besok kak Gitta carikan teman deh biar kamu nggak sendirian datang ke acara nikahannya kak Vita." Kata Gitta.


Mendengar perkataan Gitta, wajah Khanza langsung berbinar. 


"Beneran kak? Siapa?" Tanya Khanza penuh antusias.


"Mang Jo." Jawab Gitta dengan santainya.


Khanza langsung mengerucutkan bibirnya setelah mendapat jawaban dari Gitta.


"Iihhh, masa sama sopir sih." Gerutu Khanza. Sementara Gitta hanya tertawa-tawa karena berhasil menggoda sang adik ipar.


Beberapa saat kemudian, Khanza mendengar teriakan mommynya untuk meminta bantuan. Khanza segera beranjak keluar dari kamar Gitta untuk menemui mommy Retta.


Keesokan harinya, Khanza sudah bersiap-siap pergi ke butik mommy untuk mengambil baju. Dia tidak membawa dress saat ke Jakarta dulu. Setelahnya, dia pergi ke salon untuk merapikan rambutnya yang sudah lumayan berantakan. Khanza diantar sopir saat itu.


Sementara di rumah, Gitta tengah menerima panggilan video dari Ken. Saat itu, Ken tengah dalam perjalanan ke kantor cabang di Singapura.


"Mas, kapan pulang ih. Jangan lama-lama di sananya." Kata Gitta.


"Sabar, Sayang. Ternyata disini banyak sekali masalah yang harus ditangani." Kata Ken.


"Jadi, pulangnya molor nih?" Tanya Gitta sambil menggembungkan pipinya.


"Iya Sayang, maaf ya. Mungkin dua hari lagi baru bisa pulang. Kenapa, kangen ya?" Goda Ken sambil menaik turunkan alisnya.


"Ih, nyebelin." Gitta tambah mengerucutkan bibirnya.


Ken tertawa-tawa melihat tingkah sang istri.


"Sayang, maafkan aku. Bukan keinginanku untuk berlama-lama disini. Tapi memang ada pekerjaan yang benar-benar harus aku dan daddy kerjakan disini. Jangan ngambek lagi dong." Kata Ken berusaha membujuk sang istri.


Gitta hanya mengangguk mengiyakan.


"Eh, hari ini Khanza jadi pergi ke nikahannya Vita?" Tanya Ken berusaha mengalihkan pembicaraan.


Dan benar saja, Gitta benar-benar teralihkan perhatiannya. Dia sedikit tersenyum mendengar pertanyaan Ken.


"Iya, Khanza mau menggantikan kita pergi ke nikahannya Vita. Lagipula, dia juga dapat undangan kan." Jawab Gitta.


"Tapi, dia tidak begitu bersemangat tadi saat berangkat." Kata Gitta sedikit murung.


"Kenapa memangnya?" Tanya Ken.


"Khanza bilang, dia tidak ada temannya nanti disana. Memang benar sih, Khanza kan belum punya banyak teman di Jakarta." Jawab Gitta.


Seketika muncul ide di kepala Ken saat mendengar perkataan sang istri.


"Coba aku telepon Al. Sepertinya, dia juga akan datang hari ini. Aku akan meminta bantuannya untuk pergi dengan Khanza." Kata Ken.


Seketika wajah Gitta semakin berbinar. Kenapa dia tidak kepikiran ide itu dari kemarin. Adik iparnya itu pasti akan sangat bahagia dengan ide itu. Setelah mengucapkan salam, Ken segera mematikan panggilan video tersebut dan segera menghubungi Al.


"Hallo Ken." Jawab Al setelah beberapa saat panggilan telepon Ken berdering tanpa di angkat.


"Hallo Al, lo kemana saja sih, lama banget angkat teleponnya." Gerutu Ken.


"Sorry, gue habis mandi ini tadi. Ada apa lo nelpon gue?" Tanya Al.


"Hari ini lo pergi ke nikahannya Vita?" Tanya Ken.


"Iya, habis ini gue mau berangkat. Ada apa? Lo mau barengan?" Tanya Al.


"Gue nggak bisa datang Al, gue di Singapore sejak kemarin. Istri gue juga nggak mungkin datang." Kata Ken.


"Lalu?" Tanya Al sambil mengusap rambutnya yang masih basah.


"Gue minta tolong lo temeni Khanza. Dia yang mewakili Gitta dan gue datang ke acara nikahannya Vita hari ini." Kata Ken.


"Hhhaaahh?! Kenapa harus gue?" Tanya Al.


"Khanza itu baru di Jakarta Al, dia lama tinggal di Surabaya. Jadi, dia belum punya banyak teman di sini. Gue minta tolong lo temenin adik gue ya." Kata Ken.


Al yang tahu hal itu pun menjadi tidak tega.


"Baiklah. Gue langsung jemput di rumah gitu?" Tanya Al beberapa saat kemudian.


"Dia ada di salon XYZ. Lo langsung jemput dia di sana aja. Nanti, biar gue suruh sopir langsung pulang." Jawab Ken.


"Okay."


"Thanks Al." Kata Ken sambil mematikan teleponnya.


Setelah mematikan panggilan teleponnya, Al langsung bersiap-siap. Tak berapa lama pun dia sudah siap. Al segera mengambil kunci mobilnya dan pergi ke salon tempat Khanza berada.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Al sudah sampai di depan salon yang dimaksud oleh Ken. Dia memarkirkan mobilnya dan segera berjalan masuk. Al celingak-celinguk mencari keberadaan Khanza namun tak menemukannya di sana. Al memutuskan untuk menanyakan pada resepsionis disana.


Al mendapat informasi dari resepsionis jika Khanza masih berada di dalam. Al memutuskan untuk menunggu di dekat tangga sambil bersandar di dinding dekat jendela, karena menurut resepsionis tadi, Khanza tidak akan lama.


Dan benar saja, lima menit kemudian Khanza terlihat menuruni tangga dengan mengenakan dress berwarna merah sepanjang lutut.



Khanza begitu terkejut saat melihat Al berada di sana. Sementara Al dibuat terkesima saat melihat Khanza tengah menuruni tangga.



"Mas Imam?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Dalem 🤣🤣🤣


Hehehe mungkin gitu kali jawabnya Al, atau mungkin ada referensi jawaban yang lainnya? 🤭🤭


Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote


Thank you 🤗