Mendadak Istri

Mendadak Istri
Daddy Evan 7


Setelah keluarga Nadia pulang, kini tinggallah Evan dan kedua orang tuanya tengah mengobrol di ruang keluarga. Evan tengah bersandar pada bahu sang mama yang sedang mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Apa kamu terpaksa menerima perjodohan ini, Nak?" tanya Mama sambil masih mengusap-usap surai hitam Evan.


Evan mendongakkan kepala sambil menatap dalam-dalam kedua bola mata sang mama. Tampak wajah mamanya tersebut sangat lelah. Tentu saja Evan tidak akan sampai hati mengatakan keberatan.


Evan menggelengkan kepala. "Tentu saja tidak, Ma. Jika aku keberatan, aku pasti akan menolaknya tadi." Evan berusaha mengulas senyuman. 


Wajah mama Evan langsung sumringah setelah mendengar ucapan sang putra. Kedua tangannya langsung menangkup pipi Evan dan mengecup kening putra semata wayangnya tersebut.


"Mama tahu kamu pasti tidak akan menyesal nanti, Sayang. Mama yakin kamu pasti bisa bahagia."


Evan hanya bisa mengangguk dan membenamkan tubuh sang mama ke dalam pelukannya. Rasa sayang kepada orang tuanya, melebihi rasa sayangnya kepada diri sendiri.


Kalau boleh jujur, Evan tentu saja keberatan dengan perjodohan tersebut. Namun, dia tidak sampai hati menolak rencana perjodohan tersebut dan membuat sang mam akan kepikiran. Jika sudah seperti itu, bukan tidak mungkin mamanya itu nanti akan mogok untuk melakukan pengobatan. Evan dan papa Jimmy lah nantinya yang akan repot.


"Evan percaya dengan pilihan Mama. Evan yakin, pilihan mama pasti terbaik untukku."


Mama Evan semakin mengeratkan pelukannya. Beliau sangat bersyukur saat mendapati putranya mau menerima perjodohan tersebut.


Setelah itu, Evan meminta mamanya untuk beristirahat. Mau tidak mau, Mama mengikuti permintaan sang putra. Setelah sang putra setuju dengan rencana perjodohan tersebut, semangat mama untuk sembuh semakin besar. Beliau ingin bisa segera sembuh agar bisa melihat Evan menikah dan mempunyai cucu yang lucu-lucu.


Papa Jimmy membantu mama untuk beristirahat. Setelah itu, papa baru menemui Evan yang sudah menunggunya di balkon samping.


Papa datang menghampiri Evan sambil membawa secangkir kopi. Seperti biasa, kebiasaan papa Jimmy memang minum kopi sebelum tidur.


"Mama sudah tidur, Pa?" tanya Evan saat sang papa menggeser kursi di sampingnya.


Evan hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Dia juga tahu apa yang dilakukan mamanya itu sejak siang hari. Mamanya itu bahkan sudah terlihat bahagia sejak siang. Evan tidak sampai hati mengecewakan mamanya tersebut dengan menolak perjodohan itu.


Papa Jimmy yang melihat ekspresi wajah Evan, hanya bisa mendesahkan napas berat. Papa tahu bagaimana perasaan Evan sebenarnya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Van, Papa minta maaf karena tidak bisa membantu kamu," ucap Papa Jimmy pada akhirnya. "Kamu tahu dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi. Papa juga tidak mungkin menolak keinginan Mama jika ini menjadi satu-satunya penyemangat Mama untuk bisa sembuh."


Evan hanya menoleh ke arah sang papa dan mengangguk mengiyakan. Dia tidak mungkin juga menyalahkan sang papa.


"Aku tahu, Pa. Papa tidak usah merasa bersalah. Aku yakin ini yang terbaik buatku nanti. Meskipun belum mengenal Nadia, aku berjanji akan berusaha mengenalnya dengan baik."


Papa mengangguk-anggukkan kepala sambil menepuk-nepuk bahu Evan. Sebuah senyuman terbit dari bibir laki-laki paruh baya tersebut.


"Papa bangga dengan kamu, Van. Papa yakin kamu pasti bisa meraih kebahagiaan dengan istri kamu kelak."


Evan menoleh ke arah sang papa sambil mengulas senyumannya.


"Terima kasih, Pa. Doakan selalu yang terbaik buat kami."


"Pasti, Nak."


\=\=\=


Mohon maaf, upnya benar-benar slow yang ini. Ada tiga cerita othor yang juga up daily. Mohon maaf untuk semuanya. Terima kasih yang sudah mau bersabar 🙏