
Kamu bahagia sayang?" tanya Vanno.
"Iya Mas, aku bahagia sekali. Alhamdulillah kita diberi kepercayaan oleh Allah," jawab Retta yang di angguki oleh Vanno.
"Kita harus segera memberitahu kabar ini kepada mommy dan ibuk Mas, aku yakin mereka juga pasti akan sangat bahagia" kata Retta.
Dan benar saja, mommy begitu bahagia mendengar berita kehamilan Retta. Mommy bahkan sudah memesan tiket penerbangan agar bisa segera pulang begitu acara shownya sudah selesai. Ibuk juga akan segera berkunjung jika bapak sudah selesai mengerjakan pekerjaannya.
Retta memutuskan untuk menunda kuliahnya tahun ini, sementara Vanno tetap melanjutkan kuliahnya.
Malam itu, entah kenapa Retta sangat ingin makan sempol. Air liurnya langsung menetes begitu membayangkan dia bisa menikmati sempol pedas kesukaannya. Retta sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, dia terus membolak balikkan badannya.
Menyadari ada gerakan di sampingnya, Vanno segera tersadar. Dia membuka mata dan menemukan Retta tengah memandang langit-langit kamarnya.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Vanno.
Retta menolehkan kepalanya dan mendapati sang suami tengah menatapnya. "Nggak bisa tidur mas," jawab Retta.
"Kenapa?" tanya Vanno. "Kamu menginginkan sesuatu?" lanjutnya.
Retta terlihat menimbang-nimbang sebelum menjawabnya. "Eeehmmm itu.." Retta menghentikan perkataannya. Dia merasa tidak enak hati kepada Vanno.
"Kamu ingin apa?" tanya Vanno sambil menegakkan diri untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Entah kenapa aku sangat ingin makan sempol mas, rasanya benar-benar ingin. Aku seperti bisa merasakannya di lidahku," kata Retta dengan wajah memelas.
Vanno yang paham jika istrinya sedang ngidam segera beranjak turun.
"Mau kemana mas?" tanya Retta ketika melihat suaminya beranjak turun dari ranjang.
"Aku akan mencarikan sempol untukmu. Biasanya di dekat perempatan Prayit ada yang jual" jawabnya.
"Ikut mas, ikuutt" kata Retta sambil melompat turun.
Vanno yang melihatnya langsung memelototkan matanya. "Apaan sih Ta, jangan melompat begitu. Ingat ada baby di dalam perut kamu, bahaya," kata Vanno mengingatkan.
Retta langsung terkesiap mendengarnya. Dia benar-benar lupa dengan kehamilannya. "Maaf mas, aku benar-benar lupa" kata Retta sambil mengusap perutnya yang masih datar.
Mereka segera pergi menuju pujasera di dekat perempatan Prayit. Beruntung bagi Retta karena penjual sempol masih membuka lapaknya di sana. Setelah memesan dan menghabiskan sempol yang di pesan, Retta dan Vanno segera pulang. Mereka juga membawa beberapa sempol untuk cemilan di rumah.
Dalam perjalanan, entah kenapa Retta terus memperhatikan Vanno. Dia suka menatap wajah suaminya. Menyadari Retta terus menatapnya, Vanno menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Vanno di tengah kegiatanya menyetir. "Masih menginginkan sesuatu?" lanjutnya.
Retta menggelengkan kepalanya. Namun, masih tidak memindahkan pandangan matanya pada bibir Vanno. Entah mengapa dia sangat menginginkan bibir itu, ingin merasaknnya dan benar-benar menginginkan suaminya saat itu juga.
Retta masih menatap Vanno sambil menggigiti bibir bawahnya. Vanno yang menyadarinya langsung menoleh. "Kenapa lagi?" tanya Vanno.
Retta mengalihkan pandangannya dan meremas tangannya. "Eehhmm, i-itu…." Retta tidak berani mengungkapkan keinginannya.
"Katakan ada apa Ta, apa yang kamu inginkan. Aku tidak mau jika anakku ileran nanti jika keinginannya tidak di penuhi," kata Vanno.
Retta segera mendongakkan kepala untuk memandang wajah Vanno. Dia mengamati laki-laki yang ada di depannya, laki-laki yang sudah berhasil menempati seluruh ruang di hatinya. Laki-laki yang sudah membuatnya sangat bahagia dengan kehamilannya saat ini.
Retta menelan ludahnya dengan kasar sebelum menjawab. Dia menatap wajah suaminya sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Vanno.
"Aku menginginkanmu mas, saat ini"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Kasih dukungannya ya, sudah mau end ini
Akan ada cerita baru setelah ini, yang pastinya ceritanya lebih uwu 🤭🤭