
Al memeluk punggung Khanza hingga kini tubuh sang istri sudah menempel sempurna pada tubuhnya. Al yang tengah bersandar pada pintu lemari baju pun sedikit menurunkan tubuhnya agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Khanza.
Kedua pasang netra mata mereka bertemu seolah saling mengunci. Khanza bahkan merasa sangat enggan untuk berkedip. Kedua tangannya mencengkeram erat sweeter yang dipakai sang suami.
Al mengangkat tangan kanannya dan menyusuri bibir Khanza hingga rahang kirinya dengan ujung jari jempolnya. Perlahan tapi pasti, tangan kanannya menelusup pada leher belakang Khanza. Sedikit lebih kuat, tangan kanan Al mendekatkan wajah Khanza agar semakin dekat dengan wajahnya.
Semakin dekat dan semakin dekat. Netra mata Al menatap penuh damba pada bibir ranum sang istri. Entah mengapa sejak memutuskan untuk melamar Khanza, dirinya seperti terhipnotis oleh bibir kenyal itu. Semakin dekat dan semakin menggoda.
Al menempelkan bibirnya pada bibir Khanza. Awalnya, tidak ada gerakan setelahnya, hanya menempel. Entah karena insting atau sudah sama-sama hanyut dalam suasana yang mendukung, perlahan kedua mata mereka otomatis menutup.
Dengan pasti keduanya otomatis menggerakkan bibirnya, saling lu*ma*t dengan suara yang khas pun sudah mereka lakukan. Bahkan, kini kedua tangan Khanza sudah mengalung dengan sempurna pada leher sang suami. Dia juga sudah mulai berani menelusupkan kedua tangannya pada rambut sang suami yang masih agak basah.
Al tidak tinggal diam. Kini tangan kanannya menekan tengkuk Khanza dengan kuat, sedangkan tangan kirinya sudah nangkring pada pinggang Khanza dan mer*masnya dengan sedikit kasar.
Cukup lama mereka melakukan aktivitas tersebut hingga Khanza sedikit mendorong kepala Al. Dia merasa kehabisan nafas. Al segera melepaskan pagutan bibirnya saat mengetahui sang istri tengah ngos-ngosan.
Al menangkup pipi Khanza dan menyatukan kening mereka. Nafas mereka masih memburu karena aktivitas yang baru saja mereka lakukan. Tubuh mereka juga ikut bereaksi. Khanza merasakan kedua kakinya terasa lemas. Sedangkan Al merasakan ada perubahan yang cukup besar. Ada yang terasa sesak tapi bukan nafas.
Sambil mengatur nafa yang masih ngos-ngosan, Al dan Khanza saling menatap. Secercah senyuman muncul dari bibir keduanya. Rupanya mereka cukup puas dengan aktivitas yang baru saja mereka lakukan.
"Maaf jika tiba-tiba." Kata Al.
Khanza menggelengkan kepalanya dengan cepat saat mendengar perkataan sang suami.
"Tidak apa-apa. Aku senang kok." Jawab Khanza sambil menggigiti bibir bawahnya. Tatapan mata Khanza yang masih sayu mengundang sesuatu yang ingin berontak menjadi semakin liar.
Al buru-buru menegakkan tubuhnya. Dia mengerjap-ngerjabkan matanya beberapa kali sebelum memberikan kecupan pada pipi kiri Khanza.
"Ayo kita jalan-jalan di sekitar hotel sebentar. Setelah itu kita bisa segera beristirahat." Kata Al mengalihkan pembicaraan.
Khanza pun segera mengangguk. Dia segera melingkarkan kedua tangannya pada lengan kiri Al dan berjalan ke luar kamar.
Malam itu, Khanza dan Al berjalan di sekitar hotel untuk menikmati malam di Bali. Mereka memutuskan untuk tidak jalan-jalan terlalu jauh dari hotel. Mereka ingin segera kembali agar bisa segera beristirahat. Khanza ingin pergi ke pantai besok pagi.
Menjelang pukul sepuluh malam, Khanza dan Al sudah kembali ke dalam kamar mereka. Segera setelah mereka membersihkan diri dan ganti baju, Al dan Khanza langsung merangkak menuju tempat tidur. Rasa penat yang mereka rasakan sangat membantu mereka untuk cepat terlelap. Malam itu, Al dan Khanza benar-benar tertidur dengan sangat lelapnya. Tidak ada aksi usil bin jahil seperti yang diharapkan reader semua lho ya, mereka capek. 🤭
Pagi itu, mereka sarapan bersama. Khanza memilih outfit yang senada dengan sang suami. Dia ingin mengabadikan momen liburan pertamanya itu sebanyak mungkin.
Setelah sarapan, Khanza dan Al berjalan menyusuri trotoar. Karena masih pagi, banyak sekali wisatawan yang lalu lalang berpapasan dengan mereka. Khanza senantiasa menggandeng tangan sang suami dan menariknya kesana kemari mengikuti langkahnya. Al yang melihat Khanza sangat bahagia pun hanya bisa tersenyum.
Hingga menjelang makan siang mereka kembali ke hotel. Rasa penat dan capek karena berjalan kaki menyusuri toko-toko yang ada di sekitar hotel pun sudah mulai terasa. Khanza langsung merebahkan diri di atas tempat tidur dengan posisi terlentang. Sementara Al, segera meletakkan barang-barang belanjaan Khanza di atas sofa.
Al hanya menggelengkan kepala saat melihat Khanza sudah memejamkan matanya. Dia segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya, dia memesan makan siang untuknya dan Khanza.
"Honey, hei bangun dulu. Bersih-bersih setelah itu makan siang ya." Kata Al sambil menggoyang-goyangkan lengan Khanza.
Khanza mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Dia melihat wajah Al yang ada di depannya. Seketika senyum terbit dari bibirnya.
"Aku mau mandi, tapi sun dulu sini pipi." Kata Khanza sambil menyodorkan pipi dan memanyunkan bibirnya.
Al yang gemas dengan tingkah sang istri langsung menindihnya. Bukannya memberikan kecupan pada pipi Khanza, tapi Al malah membungkam bibir Khanza dengan bibirnya. Al melakukannya dengan sedikit menuntut. Tangannya juga sudah mulai bergerilya hendak mendaki bukit impian. Namun, suara ketukan pintu menginterupsi kegiatan mereka.
Al segera mengangkat kepalanya menjauhi wajah sang istri.
"Itu makan siang kita. Segeralah membersihkan diri. Setelah itu, kita makan siang bersama-sama." Kata Al sambil beranjak berdiri.
Wajah Khanza masih sangat merah dengan perlakuan Al yang tiba-tiba. Namun, dia segera mengangguk dan beranjak berdiri untuk membersihkan diri. Sementara Al segera berjalan menuju pintu untuk membukakannya.
Beberapa saat kemudian, Al dan Khanza sudah terlihat menyantap makan siang mereka. Mereka makan siang di balkon kamar hotel yang menghadap langsung pada pantai. Suara deburan ombak pun masih dapat mereka dengar dari balkon lantai dua puluh empat tersebut.
"Kita tidur siang dulu ya Kak, agar nanti malam tidak capek jalan." Kata Khanza.
"Iya. Istirahatlah dulu." Jawab Al.
"Aku mau kelon Kak." Kata Khanza sambil mengalungkan kedua lengannya pada leher Al sambil berjinjit. Dia juga sudah berani meninggalkan kecupan singkat pada bibir Al.
Al yang gemas pun segera membalas dengan mencium pipi Khanza bertubi-tubi sambil mengangkat tubuhnya menuju tempat tidur.
Khanza merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Al yang hendak menyusul sang istri mengurungkan niatnya saat terdengar bunyi ponselnya. Buru-buru dia meraih ponselnya yang terletak di atas nakas dan memeriksa id penelepon.
Al segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan teleponnya.
"Hallo Ken." Sapa Al setelah panggilan telepon terhubung. Ya, saat itu Ken lah yang tengah menelepon Al.
"Gimana liburan lo?" Tanya Ken.
"Baik. Gue baru balik lagi ke hotel ini." Jawab Al sambil berjalan menuju pintu balkon. Dia berdiri di sana agar tidak ingin menganggu tidur sang istri.
"Bagus lah. Ehm, gue bisa minta tolong?" Tanya Ken.
Al mengerutkan keningnya setelah mendengar pertanyaan Ken.
"Ada apa?" Tanya Al.
"Ehm, bisa tolong belikan sarung pantai khas Bali. Gitta sangat ingin memilikinya. Mumpung lo dan Khanza ada di sana. Lagipula, tidak mungkin aku mengajaknya ke sana kan." Kata Ken.
Al mengangguk mengerti. Dia mengiyakan permintaan Ken.
"Oke. Nanti gue dan Khanza akan mencarinya." Jawab Al.
"Eh, tapi ingat. Cari yang warna motifnya kuning dan merah saja." Kata Ken.
Al pun kembali mengangguk mengerti. Belum sempat Al menjawab Ken, terdengar suara Khanza sedikit berteriak.
"Honeeyy, aku mau kelooooonn."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan senyum, jangan senyum.
Mohon dukungannya ya, like, comment dan vote.
Sambil menunggu up, silahkan mampir di ceritaku satunya "the ceo's proposal"
Jangan lupa juga follow ig othor @keenandra_winda, akan ada informasi kapan up dan bocoran karya baru disana.
Thank you.