Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Menggantikan


Setelah makan siang, Retta segera meminta Gitta untuk bersiap-siap. Jam empat sore ini dia harus sudah siap berangkat dengan para kru untuk menuju bumi perkemahan. Gitta segera pamit undur diri untuk pulang kos-kosannya untuk bersiap-siap. Sementara Retta masih berada di butik.


Arini terlihat terburu-buru masuk ke dalam ruang kerja Retta. Dia terlihat cemas. Retta yang melihatnya mengernyitkan dahinya.


"Ada apa Rin?" Tanya Retta.


"Mbak, Ega kecelakaan." Jawab Arini dengan cemas.


"Innalillahi, kapan? Bagaimana keadaannya?" Tanya Retta tak kalah cemasnya.


"Baru saja mbak. Ini masih di IGD." Jawabnya. "Ini si Naura baru ngabari mbak. Keadaannya tidak begitu parah, tapi ada benturan di bahunya, jadi tidak bisa digerakkan." Jelas Arini.


"Alhamdullillah jika tidak parah." Jawab Retta. Namun, seketika Retta teringat dengan jadwal pemotretan kliennya esok pagi. Jika Bimo dan Ega tidak bisa, satu-satunya orang yang bisa diandalkan adalah Ken, sang putra. Ternyata hal itu juga tengah dipikirkan oleh Arini.


"Mbak, jika mas Bimo dan Ega tidak bisa berangkat sore ini, siapa yang akan berangkat?" Tanya Arini. "Kita tidak bisa sembarangan kan untuk klien kali ini." Lanjut Arini.


Retta mengangguk membenarkan. "Aku akan telepon Ken. Dia yang harus berangkat ke sana." Jawab Retta.


Retta segera mengambil ponselnya untuk menghubungi sang putra. Beberapa kali panggilan tidak diangkat oleh Ken. Namun, pada panggilan keempat, panggilan tersebut akhirnya bisa tersambung.


"Kemana saja sih Ken?" Tanya Retta begitu sambungan terhubung.


"Maaf Mom, tadi di jalan, jadi nggak dengar ada telepon masuk." Jawab Ken.


"Kamu dimana?" 


"Ini baru dari bengkel Al, service motor. Ada apa Mom?" Tanya Ken.


"Ke butik mommy sekarang. Mommy tunggu." 


"Sekarang banget?" Tanya Ken.


"Iya. Penting. Ega kecelakaan."


"Innalillahi. Ken belum dengar Mom. Iya-iya, Ken ke butik sekarang." Kata Ken sambil mematikan sambungan teleponnya. Setelahnya, dia segera memacu motornya menuju butik sang mommy.


Beberapa menit kemudian, Ken sudah tiba di butik sang mommy. Dia segera masuk dan berjalan menuju ruang kerja sang mommy. Begitu sampai, dilihatnya mbak Arini dan sang mommy tengah berdiskusi.


"Bagaimana keadaan mas Ega, Mom?" Tanya Ken begitu masuk ke dalam ruang kerja sang mommy. Retta dan Arini segera menoleh melihat kedatangan Ken.


"Duduk dulu." Perintah Retta yang segera dituruti oleh Ken. "Ega baik-baik saja. Tapi, ada benturan di bahunya, jadi tangannya masih tidak bisa digerakkan." Lanjut Retta. Ken segera bersyukur dan mengangguk mengerti.


"Lalu, kenapa mommy memanggilku kesini? Seharusnya tadi mommy kasih tahu dimana mas Ega di rawat, jadi aku bisa langsung kesana. " 


Retta memandang wajah sang putra dengan gemas. Baginya, Ken tetaplah jadi baby Ken yang imut dan menggemaskan. Bahkan, Retta sering mencubiti pipi Ken seperti anak kecil.


"Mommy memanggil kamu kesini, karena ada keadaan urgent yang harus kamu selesaikan." Kata Retta.


Ken mengernyitkan dahinya bingung. "Ada apa Mom?"


"Sore ini, Ega harus segera berangkat ke bumi perkemahan untuk melakukan foto prewedding esok pagi saat matahari terbit. Bimo juga tidak bisa menggantikannya karena istrinya sudah kontraksi hendak melahirkan. Jadi, kamu harus turun tangan kali ini." Jelas Retta.


Ken menepuk dahinya. Dia benar-benar lupa dengan jadwal pemotretan yang akan dilakukan oleh Ega. Ken juga sempat lupa karena Bimo sudah ijin dari kemarin karena sang istri hendak melahirkan. Mau tidak mau, dia harus turun tangan sendiri.


"Jam berapa aku harus berangkat Mom?" Tanya Ken. 


"Harusnya setengah jam lagi. Tapi tidak apa-apa molor. Pemotretannya kan dimulai esok pagi." Jawab Retta.


"Baiklah." Jawab Ken.


"Segeralah pulang. Bersiap-siaplah. Bawa baju hangat dan juga selimut. Disana dingin. Mungkin kamu akan pulang besok malam atau bahkan lusa pagi." Jelas Retta.


Beberapa saat kemudian, Gitta terlihat datang dengan membawa ransel di punggungnya. Tak lupa juga dia menggunakan jaket tebal yang membungus tubuhnya. Dia sudah bisa memastikan jika udara yang ada di sana akan sangat dingin sekali. Dia tidak mungkin akan berbagi selimut dengan mbak Naura. Saat itu, Gitta masih belum mengetahui jika Ega dan Naura mengalami kecelakaan. 


Gitta berjalan masuk ke dalam butik. Dia langsung menuju tempat baju-baju yang akan dibawa untuk melakukan pemotretan. Gitta mengecheck sekali lagi kelengkapan yang dibutuhkan. Setelah semua siap, dia segera berjalan menuju ruangan mbak Arini. Namun, setelah sampai disana dia tidak menemukan si empunya. Hanya ada tasnya yang masih tergeletak diatas meja kerjanya. 


Gitta segera melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Retta. Dia mengetuk pintu dan segera masuk setelah mendapat izin dari si empunya. Ternyata benar, mbak Arini ada di ruangan bu Retta.


"Sudah siap Git?" Tanya Retta.


"Sudah Bu, semua perlengkapan juga sudah saya check sekali lagi," jawab Retta.


"Bagus, terima kasih Git." Kata Retta. "Oh iya, Ega dan Naura tidak jadi ikut. Mereka baru saja mengalami kecelakaan." Lanjut Retta.


Gitta begitu terkejut mendengarnya. "Innalillahi, kapan Bu? Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Gitta cemas.


"Alhamdulillah mereka tidak mengalami luka yang parah. Tapi, Ega mengalami cedera pada bahunya. Jadi, dia tidak bisa pergi sore ini." Jelas Retta.


Seketika Gitta membulatkan mata dan mulutnya. Bagaimana dengan pemotretan prewedding besok pagi, bisa-bisa aku kena omel jika tidak jadi berangkat. Batin Gitta.


Retta yang mengetahui kecemasan Gitta, berusaha menenangkannya. "Jangan khawatir, Ken akan menggantikan Ega kali ini. Jadi, kamu tetap akan berangkat ke sana." Kata Retta.


Seketika rasa lega dirasakan oleh Gitta. Namun, rasa lega itu segera berganti dengan rasa cemas saat mengingat dengan siapa dia harus bekerja sama. 


Keenan Alexander Geraldy. Laki-laki irit bicara, cuek dan sangat tidak bisa diajak ngobrol. Gitta merinding membayangkan dia harus berkendara sekitar lima jam perjalanan menuju bumi perkemahan yang terletak di Bandung. 


"Pak Kasim yang nyetir kan Bu?" Tanya Gitta.


Retta mengernyitkan dahinya bingung. "Lhah, pak Kasim kan belum pulang dari rumah sakit karena demam berdarah Git, bagaimana mungkin dia yang nyetirin kalian nanti." Kata Retta.


Gitta menepuk kepalanya karena gagal fokus. Dia benar-benar lupa jika pak Kasim, sang supir butik, sedang di rawat di rumah sakit sejak empat hari yang lalu. 


"Kamu tenang saja, nanti Ken yang akan jadi supir." Kata Retta. "Dan juga, kamu jangan khawatir. Jika nanti Ken menjahili kamu, langsung telepon saja. Biar nanti aku cubit pipinya sampai mengembung." Lanjut Retta sambil tertawa.


Arini yang mendengar perkataan Retta juga ikut tertawa. "Yaahh jadi balon dong itu pipi si Ken," kata Arini.


"Biarin." Kata Retta dengan santainya. "Biar istrinya nanti senang kalau cium suaminya, empuk-empuk kenyal. Daripada kempong. Berasa cium kerangka tengkorak nanti. Hahahaha." Lanjut Retta sambil masih tertawa.


"Siapa yang kempong?"


Glek.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Masih adakah yang menunggu cerita lanjutannya?


Jangan lupa kasih dukungannya ya, like, vote dan comment. Biar authornya tidak gembeng di pojokan 🤗🤗🤗


Thank you