
Ken dan Daddy Vanno hanya bisa meneguk saliva masing-masing dengan keras. Tatapan mata tajam mommy Retta benar-benar membuat mereka kebingungan. Beruntung Ken merasakan ponsel yang berada di saku celananya bergetar. Dia buru-buru mengambilnya dan menyambungkan panggilan suara tersebut.
"Iya, Sayang? Ada apa?"
"Mas, kamu masih lama? Zee nggak mau tidur ini."
"Eh, Zee nggak mau tidur, Yang? Enggak lama. Ini mau pulang, kok." Ujar Ken sambil buru-buru mematikan panggilan suara dari sang istri, dan segera berpamitan kepada kedua orang tuanya yang masing perang tatap-tatapan tersebut. "Aku pulang dulu, Mom, Dad."
Ken buru-buru kabur dari rumah orang tuanya. Dia tidak mau lama-lama berada di sana jika sang mommy tengah kesal. Bisa-bisa, dia tidak akan tidur kelonin anak istri, tapi malah tidur kelonin Nyedit bersama dengan daddynya.
Ceklek.
Ken membuka pintu kamar, dan mendapati Gitta tengah menggendong sang putra berjalan-jalan di dalam kamar. Rupanya Zee tidak mau tidur. Gitta sudah kesulitan menidurkan sang putra.
"Belum mau tidur, Yang?" Ken berjalan mendekat ke arah Gitta dan Zee.
"Belum, Mas. Dia kebangun tadi. Sekarang, nggak mau tidur lagi."
"Sudah coba disusui?"
Gitta menatap sang suami dengan bibir mengerucut. "Nggak lihat apa ini pabrik nutrisinya sudah ku obral begini. Sampek ndak tak adahi, Mas! (Sampai tidak dibungkus, Mas)"
Ken hanya bisa nyengir sambil menoel-noel ujung pabrik nutrisi Zee. Gitta langsung mendelik tajam ke arahnya. "Hehehe, maaf, Yang habis gemes jadi pengen nyaplok."
"Dasar, otak kamu kok semakin error sih, Mas?"
"Nggak error bagaimana, Yang. Suguhannya setiap hari balon tiup sebesar itu. Jadi berasa nyanyi balonku tiap hari." Ken berusaha mengambil alih Zee ke dalam gendongannya.
"Ckckck, apa yang nampak di mata kamu itu hanya balon tiup saja, Mas?" Gerutu Gitta sambil mengancingkan bagian depan bajunya.
"Ya, nggak apa-apa, Yang. Punya sendiri ini, kan bukan punya orang lain," ujar Ken sambil mulai menciumi pipi gembul Zee. "Ayo tidur Boy, Daddy dan Mommy mau buatin kamu adik. Kamu cepet bobo, ya." Ken masih bergerak-gerak menimang Zee.
"Apaan itu buat adik? Zee juga masih lima bulan, Mas." Ucap Gitta sambil beranjak menuju kamar mandi.
Ken tidak menggubris perkataan sang istri. Dia masih sibuk menimang Zee sambil sesekali menggoda bayi laki-laki tersebut. Tak berapa lama kemudian, Gitta terlihat keluar dari kamar mandi. Dia menoleh dan melihat box yang tadi di bawa oleh Ken.
"Ini semua perlengkapan anak perempuan, Mas.?" Gitta masih membulatkan kedua matanya dan menoleh ke arah Ken.
"Iya."
"Dari siapa?"
"Entahlah, Yang. Aku juga nggak tahu. Nggak ada nama pengirimnya. Besok aku akan suruh Emi untuk mencari tahu pengirim paket itu."
Gitta menatap Ken dengan mata menyipit. "Kamu nggak lagi main di belakangku kan, Mas?" Selidik Gitta.
"Ckckck, apaan itu main belakang. Nggak enak, Yang. Enakan juga main depan. Banyak hal yang bisa dilakukan di depan. Kalau dibelakang, rata." Jawab Ken ngasal.
Gitta hanya mendegus kesal setelah mendengar jawaban Ken. Tanpa menjawab perkataan sang suami, Gitta langsung merebahkan diri di tempat tidur. Dia sudah mulai terasa capek.
"Aku tidur sebentar, Mas. Nanti bangunin jika Zee rewel."
"Iya."
Ken masih menimang Zee di dalam gendongannya. Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, ponselnya bergetar. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Kening Ken berkerut saat melihat deretan nomor di layar ponselnya.
Dia segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.
"Hallo."
"Hi, Ken. Sudah terima kiriman dariku?"
"Eh?"
\=\=\=
Siapa itu?