Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 54


Kesabaran Vanno benar-benar sudah habis. Setelah menghubungi Hansen, orang kepercayaan daddynya, Vanno juga segera menghubungi Axcell. Dia merupakan sahabat yang bisa diandalkan oleh Vanno.


Setelah hampir satu jam Vanno berbicara dengan beberapa orang, dia segera kembali ke dalam kamarnya. Ceklek. Pintu kamarnya terbuka. Vanno mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar, tapi tidak menemukan Retta.


Vanno beranjak ke kamar mandi. Ketika sampai di depan pintu, Vanno langsung membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Retta yang tengah berada di bawah guyuran shower pun kaget sambil menoleh.


Melihat Vanno yang tersenyum smirk menatap ke arahnya, Retta segera merutuki kecerobohannya tidak mengunci pintu kamar mandi. 


"Mas, bisa tidak mengetuk pintu dulu" kata Retta yang berusaha menggeser tubuhnya sambil berusaha menutupi bagian tubuhnya yang bisa membangkitkan paralon air Vanno.


Bukannya menjawab Vanno malah mulai melucuti pakaiannya di depan Retta. Sontak Retta semakin panik. Dia berusaha meraih bathrobe yang ada di rak di samping tempat sabun. Namun, tangannya segera dihentikan oleh Vanno.


"Mau ngapain, bantu aku mandi" kata Vanno sambil tersenyum jahil.


Retta hanya bisa menghembuskan napas berat setelahnya. Dia hanya bisa pasrah ketika Vanno membawanya masuk ke dalam bathtub untuk mengulangi mandinya lagi.


Retta merengut kesal ketika berhasil keluar dari kamar mandi setelah hampir satu jam kemudian. Perutnya benar-benar sudah sangat kelaparan. Di liriknya jam dinding sudah menunjukkan pukul 13.25 siang. Pantas saja perutku kelaparan, batinnya.


Ketika Retta masih mengeringkan rambutnya, Vanno berjalan memasuki kamar dengan nampan berisi makan siang. Dia meletakkannya di meja yang ada di balkon kamarnya. Retta terkejut karena sedari tadi dia tidak melihat makanan yang memang sebagian sudah ada di sana.


Vanno segera memanggil Retta begitu dia selesa menyiapkan makan siang mereka. Retta berjalan mendekat ke arah balkon dengan masih menggunakan bathrobe dan rambut yang masih belum kering. Vanno segera menariknya untuk duduk di depannya.


"Mas, ini kamu semua yang siapin makan siang?" tanya Retta dengan wajah berbinar. Dia benar-benar merasa semakin lapar karena melihat makanan yang sudah ada di meja di depannya.


"Tentu saja bukan, istrinya pak Andi yang memasaknya. Aku hanya membantunya membawakan ke sini," jawab Vanno.


Retta hanya mengangguk-ngangguk paham. "Aku ganti baju dulu sebentar mas," kata Retta sambil hendak beranjak berdiri.


"Tidak usah, nanti saja. Aku tahu kamu sudah sangat lapar," kata Vanno. "Makanlah dulu, setelah ini aku akan mengajakmu berkeliling." Lanjutnya.


Acara makan siang Vanno dan Retta tidak berlangsung lama. Setelahnya, mereka segera membereskan sisa-sisa makan siang mereka dan segera bersiap-siap untuk berkeliling.


Vanno memutuskan untuk pergi berkeliling daerah dekat villa untuk berfoto. Dia dan Retta memutuskan untuk berkeliling daerah yang dekat mengingat waktu sudah mulai beranjak sore. Vanno mengendarai motor matic yang ada di villa bersama Retta yang ada di boncengan belakang.


Sesekali mereka berhenti ketika melihat view yang sangat memanjakan mata. Tak lupa mereka juga saling mengabadikan moment bersama dengan menggunakan ponselnya. Bahkan, mereka tak segan meminta tolong orang yang kebetulan ada di sana untuk mengabadikan foto mereka.


Setelah hampir tiga jam mereka berkeliling, Vanno dan Retta memutuskan untuk segera pulang mengingat senja sudah mulai menjemput. 


Begitu hendak sampai di depan Villa, mata Vanno dan Retta menangkap sesosok orang yang mencurigakan tengah berdiri mengamati villa dari kejauhan. Vanno menghentikan motornya beberapa puluh meter dari villa. 


"Siapa itu mas?" tanya Retta.


"Entahlah. Tapi, kita harus berhati-hati setelah ini" 


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Masih ada yang tertarik nggak sih ini sama ceritaku?