
Perkataan Vanno yang terakhir sempat di dengar Retta ketika dia berjalan memasuki kamar. Setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya, Retta segera berjalan mendekati Vanno.
"Mas Vanno ingin fokus apa?" tanya Retta sambil berjalan untuk meletakkan air minum di atas nakas.
Vanno menoleh memandang Retta. Dia segera meletakkan ponsel yang baru saja selesai digunakannya kemudian berjalan mendekati Retta. Melihat suaminya berjalan mendekatinya, Retta semakin beringsut mundur. Dia benar-benar khawatir jika suaminya akan menerkamnya habis-habisan. Mengingat Vanno sudah puasa cukup lama.
"Tentu saja fokus bercocok tanam," kata Vanno sambil menghampiri Retta. "Aku ingin segera memiliki bayi denganmu. Jadi, kita harus lembur siang malam" lanjut Vanno.
Retta membulatkan mata dengan lebar. Bagaimana mungkin dia akan lembur siang malam, bisa-bisa dia akan kembali lagi ke rumah sakit mengingat Vanno selalu bersemangat jika melakukannya. Retta bergidik ngeri.
Belum sempat Retta menghindar, dia sudah ditarik oleh Vanno hingga tubuhnya membentur dada bidang Vanno. Vanno langsung membenamkan bibirnya pada bibir Retta. Awalnya Retta hanya merespon sekenanya perlakuan Vanno tersebut. Namun, ketika tangan sudah menjelajahi tempat-tempat favoritnya, Retta hanya bisa pasrah sambil mengeluarkan suara.
Vanno segera melepas pakaian yang membalut tubuh Retta dan mengangkat tubuhnya sambil berjalan menuju sofa yang ada di dekat dinding. Retta yang menyadarinya segera melepaskan pagutan mereka.
"Eh, itu tempat tidurnya terlewat mas," tunjuk Retta pada tempat tidur mereka.
"Cckkk.. Siapa bilang kita akan melakukannya disana," ketus Vanno. "Kita akan melakukannya di sofa," kata Vanno sambil membungkam mulut Retta dengan bibirnya ketika Retta hendak protes.
"Eehhmmpphh… Maassshhhmppphhh," Retta yang hendak protes langsung di bungkam mulutnya oleh Vanno. Merasa kehabisan napas, Retta memukul bahu Vanno. Paham maksud Retta, Vanno segera melepaskan pagutan mereka.
Hah hah hah. Retta ngos-ngosan berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Setelah dirasa napas Retta cukup normal kembali, Vanno segera melancarkan aksinya. Retta yang awalnya merasa takut, sekarang malah ikut mengimbangi permainan Vanno.
Hampir dua jam mereka bergelut di atas sofa. Setelah pelepasan yang kesekian kalinya, Retta dan Vanno ambruk di sofa dengan napas saling memburu.
"Maasss, pinggangku sakit," kata Retta terengah-engah. "Pindah di atas kasur mas, biar tidak sakit" lanjut Retta.
Vanno yang senang mendengarnya segera beranjak dan mengangkat tubuh Retta untuk di pindah di atas kasur. "Aku tidak akan melepaskanmu kali ini," kata Vanno sambil tersenyum smirk.
Retta menutup mulutnya dan membulatkan matanya dengan lebar. Gawat, aku bakal tidak bisa jalan kali ini, batin Retta.
*****
Dua minggu kemudian, Retta tengah mempersiapkan keperluannya untuk mendaftarkan diri di universitas. Sedangkan Vanno sudah diterima di universitas dengan mengambil jurusan arsitek sesuai dengan bakatnya mendesign bangunan.
Vanno akan mengantarkan Retta hari itu. Setelah sarapan, Retta kembali ke dalam kamar untuk mengambil tasnya dan memakai sepatu. Ketika hendak beranjak berdiri, tiba-tiba ada gelombang aneh yang menyerang perutnya. Kepalanya juga tiba-tiba terasa sangat berat.
Retta segera berpegangan pada ujung tempat tidur. Namun, gelombang aneh itu semakin menjadi-jadi. Retta merasakan pandangan matanya menjadi semakin kabur dan gelap hingga dia sudah jatuh tak sadarkan diri di samping tempat tidur.
Sementara itu, Vanno yang sudah menunggu lama merasa tidak sabar. Dia segera berjalan menuju kamarnya untuk memanggil Retta sambil mendengus kesal. Namun, betapa terkejutnya dia ketika membuka pintu kamar dan mendapati Retta tengah tergeletak di samping tempat tidur tak sadarkan diri.
"Rettaaaa!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa kasih dukungan ya, like vote dan komen
Biar semangat up nya