Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Ujian Ken 2


Ken begitu terkejut saat mendengar perkataan Gitta. Dia masih berdiri di dekat meja di samping Gitta.


"Apa maksud kamu tidur di sini Yang? Mau tidur dimana? Di kursi ini?" Tanya Ken bingung.


Gitta kembali menatap wajah sang suami. Dia masih terlihat takut saat hendak mengutarakan keinginannya. Gitta menggeser tubuhnya sedikit hingga kini dia menghadap Ken sepenuhnya.


"I-itu, sebenarnya aku juga bingung Mas. Aku merasa tidak nyaman saat berada di dekat mas Ken. Aku tidak mengerti kenapa bisa seperti itu." Jawab Gitta dengan mata berkaca-kaca dan langsung meneteskan air matanya. Entah mengapa dia menjadi sensitif sekali. Gitta sendiri juga bingung dengan hal itu.


Sebenarnya dia merasa ada yang berubah dari tubuhnya. Perasaannya juga sering bergonta ganti. Awalnya dia tidak tahu mengapa hal itu terjadi. Namun, setelah dia mengetahui bahwa dirinya tengah hamil, dia mulai memahami perubahan itu.


Ken yang melihat Gitta meneteskan air mata dengan derasnya menjadi semakin bingung. Apa seperti ini wanita yang sedang hamil. Dia bisa langsung bahagia atau langsung menangis dalam waktu yang singkat. Batin Ken.


"Sayang, jangan menangis lagi ya. Jangan tidur disini. Kasihan baby nanti jika mommynya tidur di sofa." Bujuk Ken. "Tidur di dalam kamar yuk, aku akan tidur di sofa bed nanti." Lanjut Ken.


Gitta yang tadi terlihat sedih pun langsung mendongakkan kepalanya. Dia terlihat berbinar bahagia saat mendengar perkataan Ken. Air mata yang tadi mengalir deras dipipinya sekarang sudah tidak terlihat lagi. Selain itu, Gitta sendiri juga merasa tidak akan nyaman jika harus tidur di sofa. Gitta langsung mengangguk penuh semangat.


Ken yang melihat perubahan ekspresi wajah Gitta pun merasa heran. Dia baru mengalami hal seperti ini. Ken merasa heran saat melihat Gitta yang beberapa menit yang lalu merasa sedih dan meneteskan air mata, namun sekarang dia terlihat sangat bahagia. Jika ada penghargaan untuk aktris dengan ekspresi wajah yang luar biasa, mungkin Gitta akan berhasil mendapatkan penghargaan. Batin Ken.


Menurutnya ini pengalaman baru yang sungguh-sungguh membingungkan. Tidak ada rumus yang bisa dijadikan pedoman untuk menghadapi wanita hamil. Begitu pesan teman satu team nya dulu yang masih dapat diingat dengan jelas oleh Ken. Dan kini, Ken benar-benar mengalaminya sendiri.


Malam itu, akhirnya Gitta mau untuk tidur di dalam kamarnya, dengan catatan Ken harus tidur di sofa bed. Gitta memberikan senyuman hangatnya sebagai ucapan selamat tidur untuk Ken.



Demi istri dan calon anaknya, Ken rela tidur di atas sofa bed. Dia yakin akan bisa melakukannya. Namun, hingga hampir tengah malam pun Ken masih belum bisa tidur. Punggungnya terasa sakit. Bagaimana tidak, permukaan sofa bed itu lumayan keras, tidak empuk seperti tempat tidur.


Ken duduk sambil mengamati Gitta yang tengah pulas bergelung di atas tempat tidurnya. Dia menghembuskan nafas beratnya. 


"Besok aku harus membeli tempat tidur baru. Bisa-bisa patah semua tulang-tulangku jika terus-terusan tidur di sofa bed seperti ini." Kata Ken lirih.


Ken menunduk untuk melirik sang junior. Dia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan gusar.


"Kata pak Fahri dulu istrinya tidak mau didekati suaminya selama hampir empat bulan usia kandungannya. Apa jadinya si Kj jika harus berpuasa selama itu." Kata Ken sambil menjambak rambutnya dengan kasar. 


Saat Ken tengah bergelut dengan pikirannya, terdengar sebuah pesan masuk pada ponselnya.


Ddrrttt ddrrttt drrttt.


Ken segera menoleh dan melihat pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.


Daddy


Besok jangan lupa ke kantor daddy. Bulan depan kamu harus siap pindah ke kantor utama.


Ken menghembuskan nafas beratnya setelah membaca pesan sang daddy. Namun, dia harus segera membalasnya.


^^^Ken^^^


^^^Jika tidak telat bangun Dad.^^^


Daddy


Memangnya kamu ajak Gitta untuk duet maut?


Awas saja aneh-aneh dan membahayakan calon cucu daddy 😡


Ken menghembuskan nafasnya dengan gusar. Boro-boro duet maut, di dekati saja nangis. Kalau begini aku yang bakal nangis, gerutu Ken.


^^^Ken^^^


^^^Bobo-boro duet maut Dad. Aku diusir dari ring utama.^^^



Ken mengirimi foto dirinya yang sedang berada di sofa bed dekat jendela kepada sang daddy


Daddy Vanno bukannya membalas pesan sang putra. Dia justru melakukan panggilan video. Dengan perasaan yang masih dongkol, Ken menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan telepon. Dia juga mengurangi volume suara pada ponselnya agar tidak mengganggu Gitta.


"Mommy dan daddy apa-apaan sih. Mau pamer mesra-mesraan sama Ken?" Gerutu Ken.


Retta yang melihat sang putra tengah ngambek langsung membungkam mulut suaminya yang masih tertawa.


"Daddy kamu ini memang usil sayang. Maafkan daddy kamu ya, biar nanti mommy yang hukum." Kata Retta.


Seketika wajah Vanno menjadi panik. Dia menoleh menatap wajah Retta dengan tatapan memelasnya. Wajahnya dikedip-kedipkan beberapa kali seperti anak kecil yang tengah merajuk.


"Sayang, kamu kok ngomong gitu sih. Aku kan cuma menggoda Ken saja." Kata Vanno sambil memeluk Retta dari samping.


"Biarin. Berhubung Ken juga lagi tidur terpisah tempat tidur dengan Gitta, kamu juga harus ikut merasakannya Mas. Kamu tidur sama Nyedit di luar." Kata Retta sambil beranjak berdiri dan kembali lagi ke sofa untuk melanjutkan bacaannya.


"Eh, tidak-tidak. Aku tidak mau. Aku nggak mau tidur sama Nyedit sayang. Dia banyak rambutnya." Rengek Vanno yang masih bisa di dengar oleh Ken.


"Sama saja. Aku juga punya rambut." Jawab Retta dari kejauhan.


"Tidak-tidak sama. Rambut kamu beda sayang, rambut kamu kan-"


Tut.


Ken mematikan panggilan videonya. Dia sudah sangat bosan mendengar perdebatan absurd orang tuanya. Namun, di sisi lain, Ken merasa sangat bersyukur memiliki orang tua yang saling menyayangi. 


Ken menoleh menatap Gitta yang masih bergelung nyenyak di dalam selimutnya. Ingin rasanya dia ikut bergabung dan menghangatkan diri di sana. Tapi dia takut jika nanti akan mengganggu sang istri. Mau tidak mau Ken segera merebahkan diri lagi di sofa bed dan mencoba untuk kembali tidur.


Pagi hari, sejak setelah melaksanakan ibadah sholat subuh, Ken merasakan perutnya mulai tidak nyaman. Dia merasakan perutnya mulai bergejolak seperti kemarin. Gitta yang sudah pergi ke dapur untuk membuatkan wedang jahe untuk Ken tidak mengetahui hal itu. Ken segera ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi di dalam perutnya. 


Ken hanya bisa pasrah. Sepertinya, mulai sekarang dia harus bersiap-siap untuk mengalami morning sickness. Ken merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Dia tidur terlentang sambil masih menggunakan sarungnya.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka. Gitta masuk ke dalam kamar sambil membawa wedang jahe dengan madu hangat itu. Dia meletakkan wedang jahe tersebut di atas nakas di samping tempat tidur.


"Mas, mual-mual lagi?" Tanya Gitta sambil mendekat ke arah Ken.


"Hhhmmm. Rasanya perutku tidak enak." Jawab Ken masih tidak membuka matanya.


"Minum dulu Mas. Habis itu coba untuk sarapan ya." Kata Gitta sambil menyodorkan wedang jahe yang dibawanya tadi.


Ken segera duduk dan menerima gelas yang di sodorkan oleh Gitta. Dia menyeruputnya sedikit demi sedikit hingga perutnya terasa hangat. Setelah habis setengahnya, Ken menyerahkan kembali gelas tersebut kepada Gitta.


"Mau sarapan apa Mas?" Tanya Gitta setelah meletakkan kembali gelas tadi di atas nakas.


Seketika Ken menoleh menatap Gitta. Air liurnya tiba-tiba mengalir dengan deras saat membayangkan sesuatu.


"Aku ingin makan belut"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Maaf jika ceritanya masih belum bisa sesuai dengan ekspektasi reader semua.


Aku tidak bisa menyenangkan semua pembaca, cerita ini hanya sebatas halunya author saja. 


Semoga masih ada yang suka


Hehehe 🤗🤗