
"Jodoh kamu ada di padang pasir sana!" Kata Ken.
Namun, Sienna masih saja bergelayut manja pada lengan Ken. Bukannya melepaskan lengan Ken, namun dia justru semakin erat memeluknya. Ken yang semakin kesal pun berusaha melepaskan tangannya dari lilitan tangan ngket-ngket itu.
"Lepasin tanganku." Kata Ken sambil melepaskan lilitan tangan Sienna dengan kasar. Dan, usaha Ken berhasil. Tangan Sienna sudah bisa terlepas dari tangan Ken.
"Kenapa sih Ken kamu selalu menolakku? Dari dulu kamu sama sekali nggak pernah melirik ku. Apa perlu aku minta bantuan papa untuk menjodohkan aku dengan kamu?" Tanya Sienna. Dia benar-benar kesal karena sejak kuliah di Singapura, Ken selalu saja tidak tertarik dengan dirinya. Bahkan, Ken lebih dekat dengan kakak tingkatnya saat itu. Padahal, menurut Sienna dia sangat cantik dan lumayan seksi. Itu mah menurut kamu, mungkin menurut Ken bantet.
"Ngaco!" Kata Kwn sambil beranjak pergi. Namun, lagi-lagi tangannya ditarik oleh Sienna. Dia seolah tidak ingin membiarkan Ken pergi saat itu.
Sementara di tempat Gitta dan Khanza, mereka melihat dan mendengar dengan jelas percakapan yang terjadi antara Ken dan Sienna. Gitta masih menatap nanar wajah Ken saat itu. Sementara Ken masih belum memperhatikan jika sang istri tengah mengamatinya.
"Apaan sih kamu Sien, lepasin tanganku nggak?!" Kata Ken dengan sedikit berteriak.
Sienna bukannya takut malah semakin mencengkeram lengan Ken.
"Aku nggak akan melepaskan tangan kamu kali ini. Aku akan meminta papaku untuk menjodohkan kita." Jawab Sienna dengan penuh semangat.
Gitta yang sudah sangat geram segera berdiri untuk menghampiri sang suami. Khanza yang melihat kakak iparnya tengah kesal pun berusaha untuk menenangkannya.
"Kak, jangan marah-marah. Ingat calon keponakanku." Kata Khanza sambil mengusap perut Gitta.
Gitta yang mengerti kekhawatiran Khanza pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Jangan khawatir. Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada ngket-ngket itu." Kata Gitta sambil menepuk bahu Khanza sebelum berjalan meninggalkannya untuk menemui sang suami.
Ken yang masih berusaha melepaskan tangannya dari cekalan tangan Sienna pun tidak menyadari kedatangan Gitta.
"Ehemm." Gitta berdehem dengan lumayan keras untuk menarik perhatian Ken dan Sienna. Dia berdiri tak jauh di depan Ken dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Netra matanya mengawasi tangan Ken yang masih di cekal oleh Sienna.
Merasa bahaya akan mengancam nasibnya, Ken segera menghempaskan tangan Sienna dengan kasar hingga terlepas. Sienna yang terkejut dengan tingkah Ken langsung menatap wajah Ken dan Gitta dengan tatapan nanar.
"Kamu apa-apaan sih Ken?" Gerutu Sienna yang tidak terima dengan perlakuan Ken.
Ken yang sudah berdiri di samping Gitta langsung memeluk bahunya dan berniat meninggalkan Sienna di tempat tersebut. Dia bahkan tidak menoleh ke arah Sienna sama sekali.
Namun, Gitta menolak ajakan Ken. Dia ingin memberi peringatan kepada Sienna agar tidak macam-macam dengan suaminya. Mengapa Gitta menjadi sangat berani? Jangan salah. Hormon kehamilan yang sedang dialaminya sering membuat emosi Gitta meledak-ledak. Ken sangat menyukai hal itu saat mereka gelut di atas tempat todur.
"Seharusnya, saya yang bertanya seperti itu kepada mbak nya. Mbak yang apa-apaan main tarik-tarik lengan seperti itu? Mbak mau main tarik tambang? Kalau mau main tarik tambang, sana cari tali. Jangan main tarik-tarik lengan laki orang! Enak saja." Kata Gitta dengan kesal.
Sienna yang mendengar perkataan Gitta tidak mempercayai pendengarannya. Dia menoleh menatap Gitta dan Ken secara bergantian.
"Apa maksud perempuan ini Ken? Siapa yang dia maksud sebagai lakinya?" Tanya Sienna.
Ken mendengus kesal dan menoleh memandang wajah Sienna dengan malas.
"Aku lakinya. Dia istriku." Jawab Ken.
"Hhaaa? Kamu sudah menikah?" Tanya Sienna tidak percaya. "Kok bisa sih? Kalian kebobolan ya?" Lanjut Sienna.
Seketika Ken menatap tajam ke arah Sienna. Dia benar-benar marah dengan perkataan Sienna. Kali ini, dia tidak akan membiarkan Sienna begitu saja.
"Dengar Sien, jaga mulutmu kalau berbicara. Jangan samakan kami dengan dirimu. Kami bukan orang sepertimu. Jangan kamu kira aku tidak tahu dengan semua ulahmu. Sebelum kamu malu, segera pergi dari sini dan jangan ganggu aku dan keluargaku lagi." Kata Ken dengan tatapan tajamnya.
Sienna tak bergeming. Dia mengira Ken hanya main-main. Dia juga tidak mengetahui asal usul Ken, karena saat di Singapura, Ken bersikap layaknya seperti mahasiswa biasa. Dia juga sering ikut kerja part time di studio foto milik salah satu temannya. Padahal, saat itu dia hanya ingin belajar sekaligus menyalurkan hobinya. Namun, hal itu sering di salah artikan dengan bekerja part time oleh beberapa orang yang tidak terlalu mengenal Ken.
"Hhhuuhh, memangnya apa yang kamu ketahui? Jangan terlalu percaya diri Ken." Cibir Sienna.
Ken dan Gitta yang hendak pergi meninggalkan Sienna pun langsung menghentikan langkah kaki mereka. Ken berbalik dan menatap wajah Sienna dengan tatapan nanar. Senyum sinis ditampilkan Ken saat berbalik menatap wajah Sienna yang masih terlihat angkuh.
Seketika tubuh Sienna menegang. Keringat dingin keluar dari pelipisnya. Tangannya mendadak basah oleh keringat. Kakinya juga mulai terasa lemas.
Ken yang menyadari perubahan sikap Sienna langsung mendengus kesal.
"Jika aku mau, aku bisa memberitahukan hal ini kepada istri Prian Aditama. Jika hal itu terjadi, ucapkan selamat tinggal kemewahan. Dan aku pastikan, orang tuamu pun juga akan mengalami kebangkrutan." Ancam Ken.
Ken tidak mau berlama-lama berada disana. Dia segera mengajak Gitta untuk kembali ke mejanya dimana Khanza juga sudah menunggu mereka.
Sementara Sienna, dia segera berjalan pergi meninggalkan Ken dengan berbagai macam pertanyaan yang muncul di kepalanya.
Setelah duduk, Gitta masih menatap wajah Ken dengan tatapan nanar. Dia ingin penjelasan dari Ken tentang siapa perempuan itu dan apa maksud perkataannya tadi. Ken yang merasa diperhatikan oleh Gitta pun hanya bisa menghembuskan nafas beratnya. Dia memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Gitta untuk menghindari bahaya yang akan mengintainya di rumah nanti.
"Sayang, jangan menatapku seperti itu." Gerutu Ken berusaha mencairkan suasana.
"Jelaskan semuanya." Kata Gitta tak terbantahkan.
Ken menghembuskan nafas beratnya sebelum mulai bercerita.
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya. Perempuan tadi adalah Sienna. Dia satu angkatan denganku saat kuliah di Singapura. Awalnya, aku dan anak-anak tidak begitu mengenal dia, namun karena dia sering mondar-mandir di sekitar kami, akhirnya kami mengenalnya."
"Dulu, aku mengira dia adalah putri seorang pengusaha. Namun, setelah mengetahui kebenarannya, kami semua menjaga jarak dengannya. Dia menjadi sugar baby dari seorang Prian Aditama, suami dari seorang pejabat. Ayahnya memiliki usaha yang cukup berhasil karena bantuan dari Prian Aditama ini. Bahkan, Sienna harus melakukan aborsi beberapa kali agar hubungan mereka tidak terlalu di ekspos."
"Orang tua Sienna benar-benar mendukung sang anak, karena dengan begitu, usaha mereka akan mendapat dukungan dari Prian Aditama."
Gitta dan Khanza membulatkan mata dan mulutnya setelah mendengar penjelasan Ken. Mereka benar-benar terkejut mendengarnya.
"Lalu, apa mas Ken mengenal istri Prian Aditama ini?" Tanya Gitta.
Ken tersenyum mendengarnya.
"Tentu saja aku mengenalnya dengan baik. Bahkan, daddy dan mommy pun mengenalnya." Kata Ken. "Dia adalah pemilik rumah besar di depan rumah mommy. Karena sekarang dia sudah menjabat sebagai pejabat di daerh xxx, dia sudah jarang pulang ke rumah." Lanjut Ken.
Gitta dan Khanza mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ken yang melihatnya pun tersenyum bahagia. Sepertinya, aku akan selamat nanti malam, batin Ken sambil tersenyum. Namun, seketika senyumnya luntur saat mendengar perkataan Gitta.
"Nanti malam mas Ken tidur di luar ngeloni Nyedit. Itu hukuman mas Ken saat pegang-pegang si ngket-ngket tadi."
😪😪😪😪😪
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon dukungannya ya, like, komen dan vote
Untuk informasi kapan up dan karya baru, silahkan follow ig othor @keenandra_winda
Thank you 🤗