
Setelah selwsai belajar pada malam itu, Gitta dan Ken segera beristirahat. Mereka lumayan capek hari itu. Gitta merebahkan diri di samping Ken yang masih sibuk berkirim pesan dengan Al. Gitta menggeser tubuhnya hingga bisa menempel pada lengan suaminya.
Sesekali dia melihat percakapan sang suami dengan Al. Gitta mengerucutkan bibirnya saat melihat namanya disebut-sebut pada chat suaminya.
"Kenapa sih sayang bibirnya di monyong-monyongkan begitu? Mau adu mulut?" Goda Ken.
"Ih, nggak mau ya. Itu, cuma kenapa namaku di sebut-sebut dalam chat mas Ken dan kak Al?" Tanya Gitta sambil menunjuk ponsel sang suami.
Seketika Ken menoleh menatap wajah sang istri yang tengah berada sangat dekat dengan wajahnya. Ken bahkan bisa merasakan hembusan nafas istrinya pada lehernya. Ken segera melingkarkan tangannya pada bahu sang istri. Hingga sekarang, posisi Ken tengah merangkul Gitta yang bersandar pada dadanya.
"Ini, Al tanya kok bisa aku menikah mendadak seperti ini. Dia kan tahu jika aku tidak pernah dekat dengan permpuan manapun Yang." Jawab Ken.
"Lalu, jawaban mas Ken apa?" Tanya Gitta.
"Ya, aku ceritakan semuanya. Secara detail. Mulai dari awal kita bekerja sampai sekarang." Jawab Ken.
"Lalu?"
"Ya, Al bertanya, apa aku sudah mencintai istri dadakanku?" Kata Al sambil tersenyum dan mengedip jahil kepada Gitta.
"Lalu jawaban mas Ken apa?" Tanya Gitta penasaran.
"Ya aku jawab sudah. Bahkan, baru beberapa hari aku sudah mulai mencintai istriku." Jawab Ken sambil menatap wajah Gitta. "Aku tidak bisa berjanji untuk selalu bisa membahagiakanmu. Tapi aku berjanji akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia. I love you for the rest of my life." Kata Ken sambil meninggalkan kecupan pada kening Gitta.
Mata Gitta berkaca-kaca dengan bibir bergetar hebat saat mendengar ucapan sang suami. Dia memeluk tubuh sang suami dengan sangat erat. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipi dan dada bidang suaminya. Gitta sangat bahagia mendengarnya. Dia merasakan seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.
Ken yang bisa merasakan air mata Gitta mengenai dada bidangnya mendadak panik. Dia segera menjauhkan tubuhnya dan sedikit mengangkat wajah Gitta hingga dia berhasil melihatnya.
"Kenapa menangis?" Tanya Ken.
Gitta masih menggeleng sambil mengerjab-ngerjabkan matanya yang sudah dipenuhi oleh air mata.
"Nggak apa-apa Mas. Aku menangis karena bahagia. Terima kasih sudah hadir di hidupku. Terima kasih sudah melengkapi hidupku Mas. I love you more and more." Jawab Gitta sambil tersenyum dan memberikan kecupan singkat pada bibir Ken.
Ken sangat bahagia mendengar jawaban Gitta. Dia menenggelamkan wajah Gitta pada dadanya dan memeluknya dengan erat. Tak lama setelahnya, Gitta dan Ken tertidur karena kelelahan.
Hari berganti hari, kini ujian Gitta sudah memasuki hari terakhir. Dia terlihat sedang menuruni tangga fakultasnya untuk menuju kantin siang itu. Entah mengapa beberapa hari ini dirinya sering sekali merasa lapar. Bahkan, tengah malam pun Gitta tak segan-segan menyantap makan malamnya lagi.
Gitta berjalan menuju kantin melewati tempat parkir fakultas Vita. Ya, mereka memang berkuliah di tempat yang sama namun berbeda fakultas. Gitta melihat Vita yang juga sedang hendak berjalan menuju kantin bersama beberapa temannya. Gitta yang melihat hal itu segera memanggil Vita.
Vita yang mendengar namanya di panggil segera berhenti dan menoleh. Dia langsung tersenyum saat melihat Gitta tengah berjalan menuju ke arahnya. Vita menunggu sahabatnya itu hingga dia sampai di dekatnya.
"Mau ke kantin?" Tanya Gitta.
"Iya, ayo sama-sama. Sekalian aku mau cerita." Jawab Vita.
Gitta mengamati wajah sahabatnya sebentar sebelum kembali berjalan mengikutinya.
"Masih ada jadwal ujian?" Tanya Gitta saat mendudukkan diri di sebuah kursi di depan Vita.
"Nggak ada sih. Aku sudah selesai kok." Jawab Vita. Gitta pun mengangguk mengerti. Setelahnya, mereka segera menyantap makan siang mereka sambil sesekali bercerita.
"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Gilang?" Tanya Gitta sesaat setelah menghabiskan makan siangnya.
Vita menoleh menatap wajah sang sahabat sebelum menjawab. "Aku bingung Git. Entah apa yang harus aku lakukan." Jawab Vita dengan wajah penuh kekhawatiran.
Gitta yang merasa iba dengan sang sahabat pun langsung mengusap lengan Vita untuk menguatkannya.
"Kamu sudah kembali ke kosan?" Tanya Gitta.
"Hhhmmm. Setelah tujuh harinan ayah, aku sudah kembali ke kosan. Terlalu jauh jika aku kembali ke rumah, apalagi saat ini sedang ujian." Jawab Vita.
Gitta memperhatikan sang sahabat yang sepertinya membutuhkan tempat untuk berbagi cerita.
Gitta tersenyum hangat dan segera mengiyakan ajakan Gitta. Setelahnya, mereka pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobil Gitta. Sebelum pulang, Gitta dan Vita mampir dulu ke minimarket untuk belanja barang-barang yang diperlukan untuk membuat sambal goreng ati. Sekitar tiga puluh menit mereka berada di minimarket untuk berbelanja. Setelahnya, mereka langsung pulang menuju rumah Gitta.
"Ganti baju dulu gih, aku ada beberapa baju baru dari mommy yang belum dipakai. Sebentar aku ambilkan." Kata Gitta setelah mereka tiba di rumah.
Gitta segera berjalan menuju walk in closetnya untuk mengganti baju dan mengambilkan beberapa baju baru untuk Vita. Setelahnya, dia langsung memberikannya kepada Vita agar sang sahabat bisa langsung mengganti bajunya.
Gitta segera menuju dapur untuk mulai mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukannya untuk memasak. Vita yang sudah selesai pun segera menyusul Gitta di dapur.
"Kamu masak sendiri Git?" Tanya Vita yang memang masih pertama kali baginya mengunjungi rumah Gitta.
"Iya. Mas Ken dan aku juga jarang di rumah, jadi kami memutuskan tidak memakai asisten rumah tangga. Cuma ada asisten rumah tangga mommy yang datang untuk bersih-bersih rumah dua hari sekali." Jawab Gitta.
Vita hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan jawaban Gitta. Dia juga segera mengambil pisau untuk membantu Gitta memotong-motong bumbu.
"Ehm, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Gilang?" Tanya Gitta setelah mereka bercerita tentang banyak hal.
Vita menghembuskan nafasnya dengan berat sebelum menjawab.
"Entahlah, aku bingung Git." Jawab Vita.
Gitta memutar tubuhnya hingga menghadap Vita. Dahinya berkerut menatap wajah sendu sang sahabat.
"Bingung kenapa?" Tanya Gitta.
Vita terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum menjawab pertanyaan Gitta.
"Keluargaku tidak tahu jika aku menjalin hubungan dengan Gilang. Mereka masih ingin menjodohkanku dengan anak teman ayah." Jawab Vita dengan wajah sendu. Sedangkan Gitta yang melihatnya menjadi sangat iba.
"Apa kamu benar-benar mencintai Gilang?" Tanya Gitta.
Vita mendongakkan kepalanya menatap wajah sahabatnya kemudian mengangguk dengan sangat yakin.
"Iya, aku sangat-sangat mencintainya. Dia orang yang sangat baik. Dia tidak pernah memperlakukanku dengan tidak baik. Dia selalu menjaga dan mengerti aku. Dia sudah sangat banyak berkorban untuk hubungan ini." Jawab Vita. Matanya mulai tergenangi air mata yang sudah mulai menganak sungai.
Gitta yang sangat sedih dengan kisah cinta sang sahabat. Gitta meraih tubuh sahabatnya dan berusaha untuk menenangkannya.
"Aku dan mas Ken akan berusaha membantumu." Kata Gitta sambil mengusap punggung sahabtnya itu.
Seketika Vita melepas pelukannya. Dia menatap wajah Gitta dengan penuh harap.
"Bagaimana caranya?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Selamat hari Jum'at
Jangan lupa pencet jempolnya ya, kasih like, comment dan vote
Thank you 🤗