
Seketika Gitta menoleh ke arah Ken. Dia memberanikan diri mengecup pipi Ken sambil berbisik.
"Besok pagi-pagi sekali kita pindah dari sini ya Mas."
Ken tersenyum saat mendengar perkataan Gitta. Dia segera menghentikan aktivitasnya dan menarik Gitta dalam pelukannya. Sontak Gitta yang sudah siap-siap terbang ke puncak tiang listrik harus jatuh nyungsep dalam dekapan Ken.
"Eh Mas, ini berhenti begini saja?" Tanya Gitta dengan polosnya.
Bagaimana tidak, dia sudah memutar otaknya pada hal iya-iya tapi justru Ken menghentikan aktivitasnya. Ambyaaarr sudah angan-angannya.
Ken tersenyum sambil memberikan kecupan singkat pada dahi Gitta.
"Tidurlah. Kita tidak akan membuka jalan tol disini. Adonan dan cetakannya belum cukup siap." Kata Ken sambil mengusap punggung Gitta.
Ken bisa merasakan balon tiup Gitta yang tanpa penghalang nempel pada dadanya. Ada gelenyar hangat yang menuntut pada tubuh Ken. Tapi dia menahannya dengan susah payah.
"Aku ingin kebiasaan tidur yang seperti ini mulai sekarang." Kata Ken. "Kita bisa saling cerita tentang diri kita masing-masing sebelum tidur. Jadi, kita bisa saling mengenal diri kita masing-masing, baik luar maupun dalam." Lanjut Ken.
Gitta mendongakkan kepalanya untuk menatap Ken.
"Dalam? Maksudnya apa Mas?" Tanya Gitta dengan polosnya.
"Ya, itu anu.." Ken tidak meneruskan perkataannya tapi langsung menunjukkan kepada Gitta.
Seketika Gitta membelalakkan matanya. Dia sedikit beringsut mundur menghindari tangan Ken yang sudah mulai aktif.
"Mas, jangan mulai lagi deh jika tidak diteruskan." Kata Gitta sambil merengut kesal.
Ken yang mendengarnya menjadi semakin gemas. Dia tersenyum lebar sambil merengkuh kembali Gitta dalam dekapannya.
"Maaf." Kata Ken sambil mendaratkan satu kecupan lagi pada pucuk kepala Gitta. "Aku belum pernah dekat dengan perempuan manapun sebelum ini. Aku juga belum pernah membuka hatiku untuk siapapun. Namun setelah menikah denganmu, aku akan membuka hatiku lebar-lebar agar kamu bisa mengisinya. Aku ingin kamu bisa segera mulai untuk melakukannya. Jadi, jika kamu sudah benar-benar bisa mengisinya, akan segera aku kunci rapat-rapat hati ini." Kata Ken panjang lebar.
Gitta yang sedari tadi mendengarkan dalam dekapan Ken, bisa dengan jelas mendengar detak jantung Ken yang sangat memburu, sama seperti dirinya. Gitta mendongak menatap wajah Ken sambil mengerjab-ngerjabkan matanya. Dia sempat tidak percaya jika suaminya yang irit bicara selama dia mengenalnya, bisa ngomong seperti itu. Gitta benar-benar bahagia. Segera dia mengangguk dengan mantab.
"Kita berjuang bersama untuk mewujudkannya Mas." Jawab Gitta. Ken mengangguk mengiyakan perkataan Gitta. Setelahnya, mereka berusaha untuk memejamkan mata.
Pagi itu, Gitta dengan diantar oleh Ken kembali ke kos-kosannya. Dia mengambil keperluan kuliahnya. Ken masih menunggui Gitta karena dia sekalian akan mengantarkan Gitta ke kampus.
"Kuliah jam berapa?" Tanya Ken saat Gitta sudah kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Jam sepuluh Mas." Jawab Gitta sambil memasang seatbeltnya.
"Hari ini kuliah sampai sore?" Tanya Ken.
"Tidak Mas. Hanya ada jadwal sampai jam dua. Biasanya setelah itu aku ke butik mommy sampai jam delapan malam." Jelas Gitta.
Ken menoleh menatap Gitta sebentar sebelum kembali fokus pada jalanan yang ada di depannya.
"Kamu masih mau kerja di butik mommy?"
"Aku sih terserah mas Ken. Jika mas Ken kasih izin, ya aku akan lanjut. Jika tidak, ya aku berhenti." Jawab Gitta.
Ken terlihat menimbang sesuatu saat itu. Dia masih belum bisa mengambil keputusan. Segala sesuatu yang ada di kehidupannya saat ini serba mendadak. Dia harus memikirkan banyak hal dulu secara bertahap.
"Kita bicarakan lebih lanjut lagi nanti. Tapi, saat ini jika kamu masih ingin bekerja di butik mommy tidak apa-apa. Lagi pula, jadwal bulan-bulan ini sepertinya lumayan banyak."
Gitta mengangguk mengiyakan. "Iya Mas. Bulan-bulan ini memang bulan banyak orang menikah. Kasihan juga mbak Arini jika menghandle semuanya sendiri." Kata Gitta.
"Hhhmmmm."
Tak berapa lama kemudian, Ken menghentikan mobilnya di halte kampus Gitta.
"Nanti pulang aku tidak bisa jemput ya, ada meeting di luar." Kata Ken sebelum Gitta turun dari mobilnya.
"Iya Mas, tidak apa-apa. Nanti aku akan langsung ke butik mommy kok." Jawab Gitta.
Gitta segera mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh Ken. Gitta segera berpamitan dan keluar dari mobil setelahnya. Ken kembali melajukan kendaraannya menuju kantor. Dia ada meeting pagi itu.
Begitu sampai kantor, Ken segera memarkirkan mobilnya dan bergegas menuju ruangannya. Ken bekerja di perusahaan yang didirikan oleh Vanno, terlepas dari GC. Bahkan, tidak banyak yang tahu jika Ken adalah putra pemilik perusahaan. Saat ini, perusahaan itu dipimpin oleh sahabat Vanno, Neo. Sedangkan Ken, bekerja sebagai salah satu staf pengembangan.
Ken segera mempersiapkan keperluannya untuk meeting sebentar lagi. Dia terlihat sedang fokus mempersiapkan draft yang akan dipresentasikan sebentar lagi. Bima, teman satu divisinya mendekati Ken.
"Lo kemana dua hari kemarin tidak muncul?" Tanya Bima. "Untung pak Bambang sedang ke Kalimantan. Jika tidak, dia bisa ngamuk." Lanjut Bima.
"Gie ada urusan. Dadakan sih," kata Ken yang tidak mau menjelaskan lebih detail.
Beberapa saat kemudian, ruang rapat tersebut sudah dipenuhi oleh beberapa orang yang berkepentingan. Rapat dimulai setelahnya. Hingga menjelang waktu makan siang, rapat baru selesai. Semua orang beranjak pergi meninggalkan ruangan rapat tersebut untuk pergi makan siang, tak terkecuali Ken. Dia segera berdiri dan hendak melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Namun, langkahnya berhenti saat Neo memanggilnya.
"Ken, keruangan saya sebentar." Kata Neo. Neo dan Ken memang sudah terbiasa bersikap formal jika di kantor atau masih dalam jam kerja. Namun, jika sudah berada di luar jam kantor, mereka akan berubah seperti om dan keponakan yang sangat akrab.
"Baik." Jawab ken sambil mengekori Neo menuju ruangannya.
Begitu masuk ke dalam ruangannya, Neo segera mendudukkan diri di kursinya. Sementara Ken, mendudukkan diri di seberang kursi Neo.
"Ken, Om sudah dengar dari daddymu kamu sudah menikah. Bagaimana?" Tanya Neo tanpa basa basi.
"Bagaimana apanya Om?" Tanya Ken pura-pura tidak paham maksud Neo.
"Ccckkk. Sudah merasakan tendangan pinalti apa belum?" Tanya Neo.
Ken mendengus mendengar pertanyaan Neo.
"Emangnya sepak bola apa Om, ada tendangan pinalti segala. Jangan-jangan nanti ada tendangan bebas dan tendangan pojok segala." Jawab Ken.
"Lha memang ada itu. Tendangan pinalti kan langsung mengarah ke gawang, tanpa ada pagar pembatasnya. Lha kalau tendangan bebas kan harus bersusah payah menerobos pembatas dulu baru bisa gol. Kalau kamu tendangan apa?" Tanya Neo tanpa dosa.
Ken semakin mengerucutkan bibirnya setelah mendengar perkataan Neo. Omnya yang satu ini benar-benar sama dengan daddynya. Meski tidak separah daddy Vanno.
"Belum dua-duanya. Aku belum main sepak bola, karena masih ada dua wasit yang selalu mengawasi." Jawab Ken.
"Hhhaaaa. Emang nggak protes itu si selang air." Kata Neo tidak percaya.
"Hhhhfffftt. Ya bagaimana lagi Om. Om tahu sendiri mommy dan daddy bagaimana. Mana bisa kami membuka lapangan sepak bola dan bermain." Jawab Ken.
Neo mengangguk paham. Dia sangat mengenal Vanno dan Retta.
"Kalau begitu, tinggal saja di apartemen. Aman kan disana." Kata Neo.
Ken menghela napas berat sebelum menjawab. "Mommy melarang kami pindah ke apartemen." Jawab Ken pasrah.
"Hhaaa, lalu dimana kalian akan tinggal?" Tanya Neo.
"Rumah lama mommy dan daddy."
"Hhaaa?! Bakal lumutan itu si selang air jika diganggu terus sama orang tua kamu nanti saat mau beraksi."
Ken hanya bisa pasrah mendengar perkataan Neo.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Masih mau lanjut kah?
Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote
Thank you 🤗