Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Membongkar


Ken segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Tak sampai dua menit kemudian, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah Vita. Al segera melepaskan cengkraman tangannya pada paman Vita. Dia juga mendorong paman Vita hingga kembali terduduk di kursinya. 


Tap tap tap.


Terdengar suara langkah sepatu menaiki tangga pada teras rumah Vita. Suara langkah kakinya terdengar semakin mendekat. Bukan hanya satu orang, melainkan tiga orang yang berada di depan pintu utama rumah Vita tersebut. Seketika semua terkejut dengan apa yang dilihatnya, kecuali Al dan Ken tentunya. Ya, mereka yang baru saja datang adalah Lala, om Arya dan juga Gilang, pacar Vita.


Vita sendiri juga terlihat terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka jika sang kekasih akan ikut terlibat dengan semua ini. Wajah Nurhadi, paman Vita pun juga sama terkejutnya. Namun, dia terlihat sedikit lebih tenang. Dia berpikir akan bisa menekan Al.


"Kamu, masuk dan segera jelaskan siapa sebenarnya kamu dan apa motif kamu melakukan ini!" Hardik Al pada Lala yang masih berdiri di dekat pintu.


Ken yang melihat sifat keras Al hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Sebenarnya, Al itu tidak keras. Dia lebih cenderung cuek dan tidak mau ikut campur urusan orang lain. Namun, jika dia sudah dipancing dengan hal-hal yang dibencinya, sifat keras hasil didikan sang papa pun langsung keluar. Maklum saja, mengingat profesi sang papa, sudah pasti didikannya tidak main-main.


Lala, sang gadis terlihat ketakutan. Wajahnya sudah pucat dengan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Dia berjalan pelan untuk mendekat ke arah Al. Wajahnya pun tak berani menatap orang-orang yang ada di depannya. Dia hanya menunduk sepanjang langkahnya mendekati Al.


"Katakan! Siapa kamu sebenarnya!" Kata Al dengan suara kerasnya. Dia terdengar sudah berusaha menahan emosinya.


"A-aku Lala, temannya Sabrina." Jawab Lala sambil meremas kedua tangannya.


"Apaa?!" Sontak Vita dan ibunya terkejut.


"Bohong!" Elak Sabrina, sepupu Vita. Dia segera bergeser kepada sang ayah untuk meminta perlindungan. "Dia bohong. Dia bukan temanku." Lanjut Sabrina.


Seketika wajah Lala dipenuhi emosi. Kilatan amarah sudah terlihat dari sorot matanya yang tajam. Tatapan netra matanya langsung menghunus tajam pada Sabrina. Sementara Sabrina, dia hanya bisa beringsut mundur di balik tubuh sang ayah.


"Bohong kamu bilang hah? Apa kamu tidak mau mengakuiku sebagai teman hah? Dasar perempuan tidak tahu diri!" Teriak Lala dengan keras. 


Rupanya perempuan ini bisa juga berteriak juga, batin Ken. Dia masih menunggu di kursi sambil mengamati orang-orang di depannya.


"Cukup! Jaga mulutmu perempuan tidak tahu malu!" Hardik paman Vita sambil mengacungkan jari telunjuknya pada wajah Lala.


Lala yang sudah sangat geram, seketika emosinya semakin memuncak. Dia berjalan mendekati paman Vita dan mencengkeram jari telunjuk yang sedang di acungkan kepadanya.


"Siapa yang tidak tahu malu hah?" Tantang Lala. "Kamu dan anak kamu yang mengancamku untuk melakukan kebohongan ini. Kamu yang telah memaksaku untuk melakukan sandiwara ini. Jika aku tidak butuh uang untuk pengobatan ibuku, aku tidak akan sudi melakukan hal ini." Kata Lala dengan amarah yang masih berkobar.


"Dasar perempuan kur*n* aj*r!" Kata paman Vita sambil hendak memukulnya. Namun, seketika tangannya di tangkap oleh om Arya yang saat itu berada di dekatnya.


Paman Vita yang terkejut segera menoleh dan berusaha melepaskan cengkraman tangannya.


"Siapa kamu, beraninya mencegahku!" Hardik paman Vita.


"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Yang harus kamu lakukan adalah mengakui semua perbuatanmu!" Kata om Arya.


"Ccckkk. Jaga mulut kotormu itu!" Bentak paman Vita.


"Seharusnya kamu yang harus menjaga mulut kotormu itu." Kata Lala. "Dengar Vit, aku minta maaf atas apa yang aku lakukan kemarin. Aku terpaksa melakukannya karena paman dan sepupu kamu memaksaku. Mereka berjanji akan memberiku uang untuk pengobatan ibuku. Aku terpaksa melakukannya karena butuh uang itu." Jelas Lala.


"Be-benarkah semua ini paman?" Tanya Vita tidak percaya.


Pamannya yang masih geram langsung mendorong Lala.


"Omong kosong apa yang kamu katakan hah?" Katanya setelah berhasil mendorong Lala hingga menubruk lengan om Arya, beruntung saat itu tubuhnya langsung ditangkap. Sehingga dia tidak sampai jatuh.


"Jaga sikapmu terhadap perempuan!" Bentak on Arya.


"Ccckkk. Perempuan tidak tahu diri seperti ini hanya bisa menyusahkan." Jawab paman Vita.


Seketika Vita dan ibunya terkejut mendengar perkataan Lala. Mereka benar-benar tidak menyangka jika pamannya mempunyai niatan seperti itu.


"Jangan ngomong sembarangan!" Kata paman Vita sambil menatap tajam kearah Lala.


"Oh ayolah, aku tidak mengada-ngada. Aku tahu persis rencanamu dan anakmu itu. Kalian akan membuat seolah-olah Al bersalah, sehingga Vita akan memutuskan perjodohan itu. Setelahnya, kalian akan datang ke keluarga Al dengan dalih memberikan solusi untuk menutupi kelakuan Al agar tidak mencemarkan nama baik keluarga. Kalian mau menikahkan Al dengan putri kalian. Oh, tidak semudah itu ferguso." Kata Lala sambil tersenyum sinis.


Vita dan ibunya semakin terkejut. Mereka benar-benar tidak menyangka jika pamannya akan melakukan hal seperti itu. Mereka mengira jika kakak ipar almarhum ayahnya itu adalah orang baik. Almarhum ayah Vita bahkan memberikan warisan ruko dari orang tuanya agar dapat digunakan untuk membuka usaha. Namun, ternyata mereka salah. Pamannya itu justru menusuk mereka dari belakang.


"Sudah cukup!" Bentak Al. "Aku sudah muak dengan sikapmu. Aku juga sudah mengantongi semua kelakuan busukmu itu." Kata Al.


"Heh anak kecil. Kamu kira kamu siapa hah? Aku menyesal sudah berniat menikahkan putriku denganmu." Kata paman Vita.


"Woi woi woi, sabar dulu. Siapa yang kamu bilang anak kecil hah? Enak saja. Gini-gini kami ini anak kecil yang sudah bisa buat anak kecil. Jangan sembarangan kalau ngomong." Kata Ken ikut menimpali. Dari tadi mulutnya sudah gatal ingin mengganyang itu si Nurhadi.


"Siapa kamu?! Jangan ikut campur!" Hardik paman Vita.


"Aku tidak ikut campur untuk urusan keluargamu. Tapi, aku akan ikut campur jika ada karyawanku yang sudah berani menggelapkan dana perusahaan untuk membeli rumah dan mobil mewah." Kata Ken dengan tatapan tajamnya.


Seketika wajah paman Vita berubah. Dia sedikit pucat setelah mendengar perkataan Ken.


"A-apa maksud kamu?" Tanya paman Vita.


"Ccckkk. Masih tanya apa maksudku? Sudah aku jelaskan, aku tidak akan main-main dengan anak buahku jika dia sudah berani bermain kotor dibelakangku, apalagi sampai menggelapkan dana perusahaan." Jawab Ken.


Wajah paman Vita semakin pucat. Dia tetlihat semakin cemas.


"Si-siapa kamu sebenarnya?" Tanya paman Vita.


"Aku, Ken Alexander Geraldy." Jawab Ken.


Seketika wajah paman Vita langsung pucat pasi. Tubuhnya terasa lemas. Bahunya luruh ke bawah. Kedua kakinya seolah tidak bisa menumpu dengan sempurna. Paman Vita langsung jatuh terduduk di kursi.


Dia benar-benar tidak menyangka jika orang yang ada di depannya adalah putra sang bos. Ya, Nurhadi adalah salah satu karyawan di GC cabang di Bandung. Dia dipercaya sebagai manager keuangan di tempatnya bekerja. Jadi, bisa sangat mudah baginya untuk mengakses keuangan perusahaan. Namun, satu hal yang tidak dia pahami, bagaimana caranya rahasianya akan terbongkar dan diketahui oleh sang putra atasan dari atasannya sendiri.


Puk.


Ken melempar sebuah amplop yang sejak tadi dikantonginya tepat di depan paman Vita.


"Itu adalah surat pemecatanmu. Segera kemasi semua barang-barangmu di rumah dan tinggalkan rumah mewah serta mobilmu setelahnya. Karena semua itu akan dikembalikan sebagai ganti rugi untuk perusahaan.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Hayo, siapa yang sebelumnya suudzon sama Lala? 🤭