Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Acara Dadakan


"Hhaaahhh?!" Al, Ken dan om Andreas langsung terkejut mendengar perkataan Khanza.


Ken langsung mengetuk kening sang adik. Lagi-lagi mulut lemesnya berhasil membuat jantung yang mendengarnya langsung berdisko. Bisa-bisanya dia mengajak ke KUA. Adiknya ini benar-benar ajaib.


"Iiihhh, kak Ken kebiasaan ih. Main toyor saja. Aku sudah bukan anak kecil lagi tau, aku bahkan sudah siap buat anak kecil." Kata Khanza sambil mengerucutkan bibirnya.


Seketika Ken langsung membungkam mulut sang adik. Dia sangat malu dengan om Andreas saat sang adik mengatakan hal itu. Sementara Al langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia juga malu mendengarnya, apalagi sang papa saat ini tengah meliriknya sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, Ken dan Khanza segera pamit pulang setelah berdiskusi dengan Al dan papanya. Mereka sepakat akan datang ke rumah Ken pukul tujuh malam. 


Sekitar setengah jam kemudian, Ken dan Kanza sudah sampai di rumah. Saat itu, mommy dan daddy tengah berada di teras samping. Mereka terlihat mengobrol sambil makan potongan buah segar yang sudah disiapkan oleh para asisten rumah tangga. Sementara Gitta baru saja kembali ke dalam kamar. Dia merasa mengantuk saat itu.


Khanza yang sudah sampai di ruang tamu pun langsung berteriak-teriak memanggil mommy dan daddynya. Daddy Vanno yang saat ini tengah tiduran di pangkuan sang istri pun langsung menoleh menatap wajah sang istri.


"Itu anak kenapa bar-bar sekali sih, Yang. Menurun dari siapa sih? Dulu kamu ngidam apaan waktu mengandung dia?" Kata daddy Vanno sambil menatap sang istri.


Puk.


Mommy Retta mengetuk kening daddy. Dia masih mengerucutkan bibirnya saat mendengar perkataan Vanno.


"Turunan kamu lah, Mas. Memang siapa lagi. Nggak mungkin juga menurun dari aku. Aku kan kalem. Lagipula, dulu saat hamil Khanza aku kan nggak ngidam apa-apa, mas Vanno yang ngidam parah saat itu. Hampir lima bulan." Jawab mommy Retta.


Daddy Vanno mencebikkan bibirnya. Iya benar. Dia bisa mengingat dengan jelas saat istrinya mengandung Khanza. Saat itu, dia yang justru ngidam parah, bawaannya males dan lemes. Mau ngapa-ngapain juga nggak nyaman. Sementara sang istri malah tidak merasakan apa-apa.


"Iya kalem saat ini, kalau di dalam kamar beuuuhhhhh ganasnya beeeuuuddd." Kata Vanno dengan wajah lebay nya. 


Mommy Retta semakin gemas dengan jawaban sang suami. Dia mencubit hidung suaminya dengan keras hingga membuat si empunya berteriak-teriak kesakitan. 


Karena masih belum ada jawaban, Khanza masih terus memanggil sang mommy dan daddynya. Hingga mau tidak mau mommy dan daddy berjalan ke ruang tengah untuk menemui sang putri.


"Ada apa sih, Sayang? Kenapa teriak-teriak sih. Kasihan kakak kamu baru saja istirahat, nanti dia terganggu." Kata mommy sambil berjalan menemui sang putri.


Khanza yang melihat mommy dan daddynya berjalan mendekat langsung berlari ke hamburan kedua orang tuanya. Khanza langsung memeluk mommy dan daddynya sekaligus. Dia masih terus berteriak-teriak tak karuan sambil melompat-lompat.


Mommy dan daddy hanya bisa mengikuti tingkah laku Khanza. Tak lama setelahnya, Ken yang sudah memarkirkan kendaraannya pun berjalan masuk sambil membawa bungkusan daster milik Gitta. Dia yang melihat tingkah sang adik hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Za, masak iya mau nikah tingkahnya seperti itu, malu kali." Kata Ken sambil berjalan menghampiri mereka.


Seketika Khanza melepaskan pelukannya dan merapikan pakaiannya. Dia juga merapikan rambutnya yang berantakan akibat tingkahnya yang selalu melompat-lompat.


Mommy dan daddy yang mendengar perkataan Ken langsung menoleh menatapnya.


"Apa maksudnya Ken?" Tanya mommy.


Ken melirik menatap wajah Khanza yang masih senyum-senyum bahagia. Dia mencebikkan bibirnya sambil meletakkan barang yang di bawanya di atas sofa ruang tengah.


"Khanza mau nikah Mom. Dia mau dilamar Al nanti malam." Kata Ken.


Seketika mommy dan daddy langsung membulatkan mata dan mulutnya. Mereka sangat terkejut mendengarnya. Saking terkejutnya, mommy bahkan tidak sadar mencengkeram pinggang bagian bawah daddy. Sontak saja si empunya langsung menggeram kesakitan.


"Itu tangan nakal banget sih Yang. Kagak sabaran banget nunggu malam." Gerutu daddy.


Mommy yang mendengarnya langsung tersadar. Dia langsung menoleh menatap wajah Khanza dan Ken bergantian. Mommy masih belum mempercayai perkataan Ken.


"Apa maksudnya Ken?" Tanya mommy meminta penjelasan.


Kali ini bukan Ken yang menjawab, tapi Khanza. 


"Kak Ken benar Mom. Nanti malam kak Al dan keluarganya akan kemari untuk melamar Khanza." Jawab Khanza dengan wajah berbinar bahagia. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Seketika mommy berteriak dan memeluk sang putri. Dia ikut bahagia mendengarnya. Setelahnya, mommy terlihat heboh menelepon beberapa orang. Daddy pun juga melakukan hal yang sama. Mereka mempersiapkan acara lamaran dadakan yang akan dilaksanakan nanti malam. 


Dekorasi singkat untuk acara lamaran pun langsung di pesan. Beruntung butik sang mommy mempunyai rekanan di bidang itu. Mommy juga meminta anak buahnya untuk membawakan gaun yang akan dipakai Khanza dari butiknya. Mereka mulai bekerja ekstra cepat sejak pukul satu siang itu.


Daddy juga meminta chef dari restoran mereka menyiapkan makanan untuk acara nanti malam. Hingga menjelang pukul tujuh semua persiapan sudah siap. Khanza juga sudah di make up sederhana dari MUA yang bekerja sama dengan butik mommy.


Pukul 19.20 Al beserta kedua orang tuanya sudah tiba. Al dan keluarganya hanya datang bertiga karena acaranya sangat mendadak. Jadi mereka tidak sempat memberitahu keluarga besarnya.


Kedatangan Al dan keluarganya disambut hangat oleh daddy, mommy dan Ken. Mereka juga tidak sempat memberitahu keluarganya yang lain karena acara yang mendadak. Papa dan mama juga sedang ada di Singapura untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. 


Khanza juga sudah berada di sana bersama Gitta. Dia terlihat sangat anggun dengan balutan kebaya berwarna baby blue. Setelah berbasa-basi, papa Al menyampaikan maksud kedatangannya saat itu.


Daddy Vanno menoleh sebentar untuk menatap wajah sang putri. Saat ini, Khanza tengah menunduk sambil meremas kedua tangannya. Daddy tersenyum sebentar sebelum menjawab perkataan papanya Al.


"Sebelumnya, kami sebagai orang tua mengucapkan banyak terima kasih atas niatan baik bapak dan keluarga. Kami menyambut baik niatan Nak Al untuk meminang putri kami. Namun, kembali lagi kami sampaikan bahwa semua keputusan kami serahkan kepada putri kami." Kata daddy Vanno sambil menoleh menatap wajah Khanza. 


Setelah mendengar perkataan sang daddy, Khanza memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya.


"Bagaimana Khanza, apakah kamu menerima lamaran putra Om?" Tanya papa Al.


Khanza menoleh menatap wajah daddy dan mommynya yang sedang tersenyum dan mengangguk. Kemudian, dia menatap wajah calon mertuanya dan Al bergantian. Dia masih terlihat gugup saat itu. Namun, beberapa saat kemudian Khanza mengangguk mengiyakan.


"Iya Om. Khanza menerima lamaran kak Al." Jawabnya sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya kembali.


Alhamdulillah.


Semua orang yang ada di sana mengucapkan syukur. Setelahnya, Al memakaikan cincin sebagai tanda bahwa Khanza sudah menjadi calon istrinya. 


Setelahnya, mereka membahas rencana pernikahan Khanza dan Al. Mereka sepakat untuk melaksanakan acara pernikahan satu minggu lagi. Niat baik bukankah harus disegerakan kan?


Acara tersebut di akhiri setelah makan malam bersama. Pukul 22.10 Al dan kedua orang tuanya pamit undur diri setelahnya.


Semua anggota keluarga Vanno juga harus beristirahat. Acara dadakan yang baru saja digelar cukup menguras tenaga mereka sejak siang hari. Mengingat banyaknya keperluan yang dipersiapkan secara mendadak. 


Mommy dan daddy segera beranjak menuju kamar mereka untuk membersihkan diri dan beristirahat. Ken bahkan sudah mengajak Gitta beristirahat beberapa saat setelah Al dan orang tuanya pulang. Ken tidak mau Gitta kelelahan dan berdampak pada calon anaknya.


Khanza yang saat itu sudah membersihkan diri segera beranjak menuju tempat tidurnya. Dia masih memandangi cincin yang melingkar di jarinya. Senyum masih tersungging di bibirnya saat itu. Rasa bahagia yang membuncah di hatinya tak bisa disembunyikan lagi.


Saat dia masih memandangi jarinya, terdengar bunyi telepon pada ponselnya yang terletak di atas nakas. Khanza segera meraihnya dan melihat siapa yang meneleponnya lewat tengah malam itu. 


Deg


Jantung Khanza seperti berhenti sesaat kemudian berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Dia melihat nama Al tertera pada layar ponselnya. Khanza mengatur nafas dan jantungnya yang berdetak bertalu-talu saat itu. Setelah dirasa sudah cukup tenang, Khanza segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut.


"Hallo Kak." Sapa Khanza. Dia masih terdengar gugup. Pasalnya, selama ini dia tidak pernah menelepon Al, paling hanya chat atau saling memberikan pesan langsung pada akun sosial medianya.


"Apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya Al.


"Ah, tidak Kak. Aku belum tidur. Ini baru selesai sholat Isya'." Jawab Khanza.


"Oh, iya. Jangan tinggalkan sholat. Akan banyak keajaiban dalam sujud." Kata Al.


"Maksudnya Kak?" Tanya Khanza sedikit bingung.


"Pada saat sujud, kamu berbisik kepada bumi, tapi bisa di dengar oleh langit. Jangan lupa bisikkan namaku di sana." Kata Al.


Aahhhh bolehkah aku ikut meleleh bang?? 🤭🤭



Al, saat menelepon Khanza.



Senyumanmu bang, buat Khanza klepek-klepek. Eh, reader juga nggak ya ini?


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Jangan lupa dukungannya ya, like, komen dan vote. 


Maaf baru kelar ngetiknya. Mata nggak bisa di ajak kompromi.