Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 86


Setelah selesai melakukan olahraga yang cukup melelahkan, Retta melingkarkan tangannya pada tubuh Vanno yang polos. Mendapat perlakuan Retta, Vanno bergidik. Dia merasakan selang alaminya mulai turn on lagi ketika squishy polos Retta menempel dengan sempurna pada dadanya. Menyadari ada yang berubah, Retta tersenyum sambil mengusap pipi Vanno.


"Masih belum capek kan Mas, bagaimana jika nambah lagi?" kata Retta sambil mendekatkan bibirnya untuk menjelajahi leher Vanno.


Vanno membelalakkan matanya dengan lebar. "Apa maksud kamu?" tanya Vanno yang masih terkejut. Dia benar-benar shock mendapati Retta sangat bersemangat melakukan olahraga dengannya. Bahkan, sangat bernafsu malam itu.


Vanno menjauhkan tubuhnya dari tubuh Retta. Dia benar-benar merasa takut jika berdekatan dengan Retta. Dia khawatir Retta akan menyerangnya, padahal dokter Yudith sudah berpesan untuk menahan hasratnya di awal-awal kehamilan.


Vanno benar-benar frustasi malam itu. Di satu sisi, dia juga sangat menginginkannya. Dia membayangkan bisa memeluk Retta sambil tangannya menjamah seluruh bagian tubuh Retta hingga membuat si empunya menggelinjang kesana kemari. Namun, disisi lain dia juga merasa sangat khawatir dengan kehamilan Retta yang masih memasuki bulan-bulan rawan.


"Maass, bagaimana jika satu kali lagi. Mas Vanno belum capek kan?" tanya Retta sambil mengeratkan pelukannya.


Vanno menggeleng pelan sambil mengusap pipi Retta. "Aku benar-benar capek sayang. Kita istirahat dulu ya, kasihan juga baby nya jika sering di jenguk. Aku takut dia akan bosan bertemu denganku jika sudah lahir nanti," kata Vanno sambil berusaha tersenyum.


Retta mengerucutkan bibirnya sambil mendengus kesal. "Kenapa sekarang tenagamu cepat habis sih Mas. Dulu saja sampai aku memohon-mohon baru berhenti. Itu pun juga lebih dari tiga ronde" kata Retta sambil merengut kesal.


Vanno mendengus mendengar ocehan Retta. Bukan dia tidak ingin, bukan dia capek, tapi dia berusaha untuk menjaga kandungan Retta. Namun, istrinya malah terus-terusan menggodanya.


Retta membalikkan tubuh polosnya dan meletakkan guling di tengah-tengah mereka. Vanno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia benar-benar pusing menghadapi istrinya kali ini. Vanno melirik Vj yang masih turn on. Dia menghembuskan napas berat melihatnya.


"Sayang, jangan ngambek dong. Kita istirahat dulu, besok kita bisa melakukannya lagi kan," bujuk Vanno.


Seketika Retta berbalik dan memandang wajah Vanno dengan tatapan berbinar. "Benar ya Mas, awas kalau bohong. Besok kita olahraga seharian," kata Retta sambil memindahkan gulingnya dan kemudian menarik tangan Vanno agar memeluknya.


Vanno membulatkan mata dan mulutnya dengan lebar. Dia benar-benar terkejut mendengar perkataan Retta. Dia harus mencari cara agar bisa lolos dari keinginan Retta. Vanno mengusap puncak kepala Retta dengan lembut. Tubuh polos mereka yang saling berhimpitan menimbulkan sensasi berbeda bagi Vanno. Namun, dia berusaha menahan keinginannya untuk menerkam Retta.


Keesokan harinya, Vanno sedang bersiap-siap untuk pergi ke tempat Axcell. Dia benar-benar ingin menghindar dari Retta. Dia merasa sedikit khawatir jika Retta akan menerkamnya. Namun, ketika hendak mengambil baju yang telah disiapkan Retta di atas tempat tidur, tiba-tiba hidungnya mencium bau es jeruk yang sudah di siapkan Retta di atas nakas. Seketika perutnya terasa seperti di aduk-aduk. Vanno segera berlari kembali ke dalam kamar mandi hendak memuntahkan seluruh isi perutnya.


Retta yang mendengar Vanno di dalam kamar mandi pun segera menyusulnya. Dia merasa sangat kasihan melihat Vanno tengah berjongkok di atas closet. Retta berjalan mendekati Vanno dan memijat tengkuknya dengan sabar.


"Mas, kok muntah-muntah. Kamu masuk angin apa ingin memasukiku?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Yaelaaahhh itu gesreknya Vanno pindah ke Retta mungkin ya,


Jangan lupa like, vote dan komen ya


Biar tidak berasa sendirian


Sedih aku tuh 🥺🥺