Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Percobaan Awal


Al menggeser tubuhnya mendekati Khanza. Dia sedikit menyingkap selimut yang menutupi tubuh sang istri sehingga bagian atas tubuh Khanza sudah terekspos. Al kembali kesulitan menelan salivanya. Pandangan matanya bahkan tak berkedip melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya secara langsung itu.


Khanza yang merasa di perhatikan pun langsung menunduk malu. Kedua tangannya disilangkan di depan dadanya. Dia merasa malu karena ini masih pertama kali baginya.


"A-aku malu Kak." Kata Khanza sambil menunduk malu.


Al segera mengulurkan tangan dan menurunkan kedua tangan Khanza.


"Tidak usah malu. Kita sudah menikah. Cepat atau lambat, ini juga akan terjadi kan." Kata Al berusaha menenangkan Khanza. "Lagipula, kita sudah membicarakannya tadi sore. Kita akan belajar memulai semuanya saat ini." Lanjut Al sambil tersenyum.


Khanza mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang suami. Senyum yang menghiasi wajah Al mampu menumbuhkan keyakinan pada diri Khanza. Dia mengangguk menyetujui perkataan Al.


Setelah melihat Khanza cukup yakin, Al mendekatkan wajahnya pada wajah Khanza. Semakin dekat, semakin dekat dan semakin dekat. Khanza terlihat menahan nafasnya. Dia terlihat tegang menanti apa yang akan dilakukan Al. 


Al yang mengetahui jika Khanza masih tegang berusaha untuk membuatnya rileks. Dia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh lengan kiri Khanza yang polos.


Deg.


Jantung Khanza terasa berdegup sangat cepat hanya karena sentuhan tangan Al pada lengannya. Bagaimana jika tangan itu menyentuh seluruh tubuhnya, bisa langsung rontok jantungnya. Batin Khanza.


Al tidak menghentikan tangannya menyusuri lengan Khanza. Tangan itu semakin naik hingga sampai pada pipi Khanza. Diusapnya pipi nan mulus itu dengan punggung tangannya. Dari bawah, keatas, kemudian turun lagi. Terus dan berulang-ulang.


Khanza hanya bisa memejamkan mata menerima perlakuan Al. Dia berusaha mengatur nafasnya agar tidak memburu. Al menindahkan tangannya ke belakang tengkuk Khanza. Dengan sedikit menariknya, Al semakin mendekatkan wajahnya.


Al sedikit memiringkan kepalanya agar memudahkan bibirnya menjamah bibir sang istri. Ya, benda kenyal yang sangat menggodanya itulah yang ditujunya. Semakin dekat dan semakin dekat. Al segera menyambar bibir ranum sang istri yang sudah membuatnya candu sejak pertama kali mencicipinya. 


Awalnya pertemuan benda kenyal tersebut hanya menempel. Namun, lama kelamaan semakin menuntut. Khanza yang sudah cukup bisa mengimbangi permainan sang suami langsung mengikuti alur yang dibuat Al. Kedua bibir tersebut tidak hanya mengec*ap, tapi juga me*lu*m*at. Nafas yang memburu sudah terdengar di telinga masing-masing. Suara pertemuan bibir keduanya pun tidak malu-malu lagi di dengarkan. Beruntung hujan lebat di luar menyamarkan suara pertautan dua bibir tersebut.


Khanza yang sudah terbawa suasana semakin berani. Entah karena sadar atau tidak, dia mengalungkan kedua tangannya pada leher Al. Sementara Al tidak tinggal diam, tangan kirinya menarik tubuh Khanza agar menempel pada tubuhnya.


Hhmmppphhh hhmmpppp hhmmppphh.


Entah sudah berapa menit mereka berpagutan. Sesekali mereka saling melepaskan diri untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, setelahnya kembali lagi mereka berpagutan. 


Mereka seolah tidak ada niatan untuk berhenti. Entah sadar atau tidak, tangan kanan Al sudah mulai menyelinap ke dalam baju tidur Khanza. Tangannya menyusuri perut rata Khanza. Lembut, itu yang dirasakan Al. Tangan itu kembali merembet naik hingga sampai pada balon yang kenyal dan padat.


Khanza yang belum menyadari tangan Al masih fokus pada kegiatannya. Hingga saat tangan kanan Al mere*m*as balon kenyal nan padat itu dengan cukup keras, Khanza tersentak kaget.


Khanza melepaskan tautan bibirnya dan bergeser mundur. Dia benar-benar masih kaget dengan apa yang baru di lakukan oleh Al. Hal yang sama pun dirasakan oleh Al. Dia merasa tidak enak saar melihat ekspresi Khanza.


"Ma-maafkan aku. Entah mengapa tadi aku melakukannya." Kata Al sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajahnya terlihat bersalah.


Khanza yang menyadari perubahan sikap Al merasa tidak enak. Bukan salah Al jika dia ingin melakukannya. Dia berhak melakukan hal itu, mereka sudah menikah. Khanza tidak ingin jika suaminya memiliki pikiran yang tidak-tidak.


"Ma-maaf Kak, bukan salah kakak. Aku hanya terkejut tadi. Ini hal yang masih baru untukku." Kata Khanza sambil menunduk.


"Iya, aku juga minta maaf. Seharusnya aku tidak terburu-buru tadi." Kata Al.


Seketika Khanza menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin suaminya merasa bersalah. Khanza memberanikan diri untuk menatap wajah Al. Dia juga menggeser tubuhnya semakin dekat pada tubuh Al. Khanza meraih tangan tangan kanan Al dan menggenggamnya dengan erat.


"Jangan merasa bersalah dan merasa tidak enak, Kak. Kita sudah menikah, sudah menjadi hak kak Al jika ingin melakukannya. InsyaAllah aku sudah siap Kak. Aku ikhlas lahir dan batin." Kata Khanza dengan mantap, setelah beberapa saat yang lalu dia teringat pesan sang mommy.


Khanza membawa tangan kanan Al dan meletakkannya pada tempat yang sudah di sentuhnya tadi. Al terkejut melihat apa yang dilakukan Khanza. Namun, tak dapat dipungkiri jika dia sangat senang dengan apa yang dilakukan Khanza. Sementara Khanza, dia hanya bisa menggigiti bibir bawahnya. Wajahnya terasa panas karena menahan malu.


Al memberanikan diri melakukan hal seperti tadi. Dia tidak ingin membuat Khanza semakin takut. Dia ingin melakukan secara pelan-pelan. Namun, seketika Al dibuat terkejut dengan tingkah Khanza. Khanza justru menubruk tubuh Al hingga terlentang. Selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya tersingkap semua hingga membuat tubuh Khanza sedikit terekspos. 


"A-ap yang mau kamu lakukan?" Tanya Al sedikit panik. 


Pasalnya dia ingin melakukannya secara pelan-pelan agar tidak membuat sang istri semakin takut. Namun, tindakan yang dilakukan Khanza secara tiba-tiba justru membuatnya takut. Lhah, kok jadi Al yang takut. 🙄


"Mau dp dulu." Jawab Khanza.


Al mengerutkan keningnya bingung. Dp? Mau dp apa? Batin Al.


"Dp apa?" Tanya Al.


"Dp untuk iya-iya nanti kalau sudah tidak kebanjiran lagi." Jawab Khanza dengan entengnya. Dia masih tengkurap diatas tubuh Al yang sedang terlentang.


Al begitu terkejut mendengar jawaban Khanza. Jika dp nya aneh-aneh, bisa-bisa dia yang akan mupeng nanti. Namun, jika menolak, Khanza pasti akan kecewa nanti. Seketika Al menggulingkan tubuh Khanza hingga kini dia berada di atasnya.


"Maaf jika aku kebablasan tadi. Hari ini, cukup sampai disini dulu 'belajarnya'. Jika diteruskan, aku tidak bisa yakin akan sanggup menahan diriku sendiri." Kata Al sambil menatap mata Khanza.


Seketika Khanza melingkarkan kedua tangannya pada leher Al.


"Maafkan aku Kak. Aku hanya tidak ingin kak Al kecewa." Kata Khanza.


"Aku tidak kecewa, sayang. Aku tahu kita harus pelan-pelan untuk ini. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap." Kata Al dengan penuh keyakinan. Dia tidak ingin membuat Khanza tertekan.


Khanza tersenyum setelah mendengar jawaban Al. Dia memberikan beberapa kecupan pada bibir Al yang berada di atas wajahnya.


"Terima kasih Kak. Terima kasih sudah mau menungguku." Jawab Khanza sambil memeluk Al. 


Setelahnya, mereka segera bersiap-siap untuk tidur. Beberapa obrolan masih sempat mereka lakukan sebelum benar-benar terlelap. Mereka benar-benar harus saling terbuka untuk segala hal, mengingat mereka tidak saling mengenal secara dekat.


Hujan deras yang mengguyur di luar pun masih tak ada tanda-tanda untuk berhenti, seolah ikut mengiringi kedua insan yang bergelung dalam selimut tersebut ke alam mimpi. Tak berapa lama kemudian, Khanza da Al sudah terlelap ke alam mimpi masing-masing.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon maaf nanti jika untuk part iya-iya nya jika tidak sesuai ekspektasi, othor minta maaf lebih dulu. Bukan karena apa-apa, hanya othor tidak mau kena report lagi, part-part awal banyak yang hilang karena ada yang report.


Sekali lagi, othor minta maaf yang sebesar-besarnya.


Eh, ini belum 'end' lho ya. Jadi mohon tetap dukungannya, like, comment dan vote, syukur-syukur beri tips dan hadiah 🤭🤭, ngarepmu keduwuren thoorr, bene.