Mendadak Istri

Mendadak Istri
Spolier MI 2


Pagi itu, Zee terlihat sudah rapi dan wangi. Dia akan ikut ke rumah kakek dan neneknya, orang tua kandung Gitta. Setelah sarapan, Gitta sudah mengantarkan Zee ke rumah orang tuanya yang berada tak jauh dari rumahnya.


Sementara Ken sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Hari ini, dia sudah rapi dengan jas kerjanya. Akan ada rapat dengan beberapa petinggi perusahaan siang nanti. Daddy Vanno juga sudah bersiap-siap.


Saat Gitta berjalan memasuki kamar, terlihat Ken sedang mendekatkan wajahnya pada cermin di meja rias Gitta. Kening Gitta berkerut melihat tingkah sang suami.


"Ada apa, Mas?"


Seketika Ken menoleh menatap istrinya yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.


"Aku punya jerawat, Yang. Bagaimana ini?" kata Ken panik.


"Astaga, Mas. Hanya jerawat ini kamu sampai panik gitu," kata Gitta sambil mengambil obat oles dan mengoleskannya pada jerawat sang suami. "Nah, sudah."


"Terima kasih Yang," ucap Ken sambil memeluk tubuh sang istri dan mendekapnya dengan erat. Jangan lupakan aktivitas selanjutnya.


Ken langsung menyambar bibir ranum sang istri yang selalu terlihat menggoda setiap pagi. Dilahapnya bibir tersebut seperti sarapan bagi Ken yang enggan untuk dilepaskannya. Jangan lupakan tangan kanan Ken yang sudah masuk ke dalam kaos rumahan yang dipakai oleh sang istri. Langsung dicarinya sumber nutrisi Zee tersebut dan mulai di mainkannya dengan sedikit lebih keras.


"Aaaahhhhhhh," seketika Gitta melepaskan pertemuan dua bibir tersebut. Kepalanya langsung mendongak dengan kedua mata terpejam. Gitta langsung menggigit bibirnya bawahnya agar tidak mengeluarkan suara yang lebih keras.


Melihat sang istri sudah mulai terbawa permainannya, Ken tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung membawa Gitta ke atas tempat tidurnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ken langsung berusaha melucuti pakaian sang istri dan pakaiannya sendiri.


Awalnya, Gitta belum begitu menyadari tindakan sang suami. Namun, saat tubuhnya terhempas di atas tempat tidur, kedua bola matanya langsung terbuka dan menyadari jika sang suami sudah menarik kaosnya ke atas dan melepas pengait kacamata besar tersebut.


"Astaga, Mas?! Apa yang kamu lakukan?! Kamu kan harus ke kantor," kata Gitta sambil hendak beranjak duduk.


Namun, usahanya sia-sia saat bibirnya langsung disambar oleh Ken. Kedua tangan Ken bahkan sudah mulai melepas kancing jas dan kemejanya. Bahkan, entah sejak kapan, Ken sudah melepas celananya lengkap dengan atribut di dalamnya.


"Hah hah hah, Mas. Apa-apaan sih. Semalam juga sudah lemburan, masa iya mau lagi."


"Nanggung, Yang. Mau charging energi untuk kerja seharian nanti," jawab Ken sambil bersiap-siap.


"Energi dari sarapan, Mas. Masa iya dari aaaaahhhhhh auuuhhhh, Maaassshhhh ssshhhh," Gitta bahkan belum menyelesaikan perkataannya, dia sudah langsung dibungkam oleh Ken.


Apa yang dilakukan Gitta setelahnya? Dia hanya bisa merem melek sambil mendes*h saat menerima hujaman Ken di bawah sana. Pagi itu, mereka benar-benar sarapan dan menuntaskan apa yang belum mereka selesaikan sejak semalam. Eh, maksudnya nambah yang semalam.


Sekitar pukul delapan, aktivitas mereka berdua baru selesai. Ken langsung buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan diikuti oleh Gitta di belakangnya.


"Awas, hadap dinding, Mas! Jangan hadap sini. Aku nggak mau di terkam lagi," kata Gitta sambil menatap ke arah sang suami yang sedang meletakkan handuk yang baru saja di sambarnya.


"Iya, iya."


Namun, seketika Ken langsung menoleh kebarah Gitta saat mendengar sebuah suara.


Wwuuussshhhh wuuussshhhhh.


"Eh, suara apa itu, Yang?" tanya Ken sambil menoleh ke arah Gitta.


"Kyaaaaa."


Suara apa? 🤔