
Part 80
Retta semakin mundur untuk menghindari Vanno. Dia benar-merasa was-was. Namun, disisi lain dia juga merasa kasihan terhadap Vanno. Selama hampir dua minggu ini, sang mommy benar-benar mengawasi mereka dengan sangat ketat.
Vanno berjalan semakin dekat. Dia sudah benar-benar tidak bisa menahan lebih lama lagi.
"Ta, kamu nggak kasihan sama Vj, dia sudah lama kedinginan di luar. Boleh ya jalan-jalan ke dalam gua lokal," bujuk Vanno dengan wajah memelasnya.
Retta yang merasa kasihan pada Vanno hanya menatapnya berjalan mendekat sambil mengerutkan kening.
"Tap-tapi ini masih pagi Mas, ini saja baru selesai sarapan. Nanti malam ya," bujuk Retta. Dia merasa tidak enak dengan Bi Mar, dia sudah bilang ingin belajar membuat lodho ayam dengannya.
Vanno menggeleng, tangan kirinya segera memegang pergelangan tangan Retta dan menariknya hingga tubuh Retta membentur dada Vanno. Sementara tangan kanan Vanno segera meraih tengkuk Retta dan membenamkan bibirnya pada bibir Retta.
Awalnya Retta menolak. Namun, dia merasakan ada desiran hangat yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Retta membuka bibirnya sehingga memudahkan Vanno untuk menjelajahinya.
Emmppphhmmmhhh.. Eemmmpphhh.
Suara aktifitas keduanya terdengar hingga memenuhi kamarnya. Retta segera tersadar dan memukul bahu Vanno. Vanno yang terkejut segera melepaskan pagutan mereka sambil melayangkan tatapan kekesalannya.
" Kamu menolaknya?" tanya Vanno.
"Bu-bukan begitu Mas," jawab Retta sambil ngos-ngosan mengatur napas. " Pintu kamar masih terbuka," tunjuk Retta pada pintu kamarnya.
Vanno segera menoleh, dan benar pintu kamar mereka masih terbuka. Ceroboh sekali, batin Vanno. Dia hendak berbalik untuk menutup pintu kamar, namun dicegah oleh Retta.
"Biar aku saja Mas, aku akan ambil minum dulu sebentar," kata Retta sambil berjalan hendak meninggalkan kamar. Sebenarnya dia ingin memberitahu Bi Mar jika acara belajar memasaknya di tunda dulu. Retta tidak ingin Bi Mar menunggunya terlalu lama.
Setelah mendapat persetujuan Vanno, Retta segera beranjak menuju dapur untuk mengambil air minum dan memberi tahu Bi Mar.
Sementara itu, di dalam kamar Vanno sedang memegang ponselnya. Dia mendapat pesan dari Hansen jika Andi dan komplotannya sudah berhasil di amankan. Namun, Angela berhasil lolos. Pihak berwajib tidak memiliki cukup bukti untuk menahannya.
Vanno menggertakkan giginya karena geram. Jika Angela tidak segera disingkirkan, bisa-bisa keluarganya akan terus mendapatkan teror tak berujung. Vanno melirik pintu kamarnya yang masih tertutup. Bisa dipastikan jika Retta masih berada di dapur. Vanno segera menghubungi Hansen untuk langkah selanjutnya.
"Apa rencanamu?" tanya Vanno kepada Hansen ketika panggilan sudah terhubung.
"Haruskah kita menggunakan senjata terakhir?"
"Jika situasi sudah tidak terkendali, bisa saja Den. Tuan juga mempunyai rencana terkait hal itu. Tapi, jika situasinya masih bisa diatasi dengan baik, kita masih bisa menggunakan rencana awal," jawab Hansen.
Vanno masih diam memikirkan perkataan Hansen. Segala sesuatunya akan sangat berbeda mulai sekarang. Dia sudah tidak bisa bersembunyi lagi.
"Ada lagi yang bisa saya bantu Den?" tanya Hansen di seberang sana.
Vanno yang melamun segera tersadar mendengar perkataan Hansen. "Tidak ada. Aku akan memikirkannya lagi. Aku ingin fokus ke hal lain dulu setelah ini," jawab Vanno.
Perkataan Vanno yang terakhir sempat di dengar Retta ketika dia berjalan memasuki kamar. Setelah menutup dan mengunci pinu kamarnya, Retta segera berjalan mendekati Vanno.
"Mas Vanno ingin fokus apa?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Masih adakah yang menunggu?
Jangan lupa tinggalkan jejak ya,
Mohon like, vote dan komen
Berasa sendiri aku tuh 😢