
Sore itu, Gitta tengah berada di rumah mommy bersama baby Z. Sudah sejak sebulan yang lalu saat usia baby Z empat bulan, Ken, Gitta dan baby Z pulang ke rumahnya sendiri. Ya, meski hanya berjarak beberapa rumah mommy masih sering bolak-balik ke rumah Ken dan Gitta.
"Jadi berangkat jam berapa Mom?" Tanya Gitta saat membantu sang mommy membereskan pakaiannya.
"Pesawat take off jam delapan nanti. Jadi berangkat ke bandara sehabis maghrib." Jawab mommy. "Uuhhh cucu mama udah gedhe, udah bisa bilang mommy nih." Kata mommy sambil menciumi perut baby Z. Bayi berusia lima bulan tersebut hanya bisa tertawa-tawa mendapati godaan dari sang nenek.
"Nanti biar diantar mas Ken saja Mom." Kata Gitta.
"Nggak usah, biar diantar mang Jo sekalian jemput daddy di rumah papa." Jawab mommy. Gitta hanya mengangguk mengiyakan.
Menjelang maghrib, Ken terlihat memarkirkan mobilnya di garasi rumah mommy. Setelahnya, dia segera berlari-lari kecil untuk mencari keberadaan sang putra. Begitu mendapati sang putra tengah bermain-main diatas karpet di ruang tengah, Ken segera berjalan mendekatinya. Namun, seketika langkahnya terhenti karena Gitta menatapnya dengan tatapan mata tajamnya.
"Ada apa?" Tanya Ken.
"Tuman kamu Mas. Bersih-bersih dulu gih baru main sama baby Z. Baru pulang kerja juga." Kata Gitta kesal. Bagaimana tidak kesal, selama hampir lima bulan setiap hari dirinya harus mengingatkan sang suami agar membersihkan diri dulu sebelum bermain dengan sang putra.
Ken langsung ngeloyor ke kamar untuk membersihkan diri sebelum Gitta tambah ngomel-ngomel lagi. Setelahnya dia bermain-main dengan baby Z di ruang tengah.
Tak berapa lama kemudian, mommy sudah selesai bersiap-siap dan akan berangkat ke bandara. Mommy harus ke Jepang bersama dengan daddy untuk mengurus pekerjaan. Mommy berangkat dengan diantar mang Jo.
Setelah mommy berangkat, Ken dan Gitta pun membawa baby Z kembali ke rumah mereka. Mereka tidak menginap di rumah mommy.
Gitta segera menyusui baby Z agar segera tertidur. Dia menyusui di baby Z di tempat tidurnya. Ken yang baru mengganti bajunya dan bergabung dengan anak dan istrinya di atas tempat tidur pun langsung merebahkan diri. Ken menjahili baby Z dengan menoel-noel pipinya yang tengah menyusu pada Gitta.
"Mas ih, jangan diganggu. Nanti tidak tidur-tidur anaknya." Gerutu Gitta saat melihat tingkah suaminya.
"Gemes Yang. Lagian, itu pabrik susunya tambah besar banget Yang." Kata Ken sambil mengganggu Gitta dengan mengusel-ngusel dadanya yang menganggur. Baby Z yang merasa terganggu pun langsung merengek menangis.
Melihat sang putra langsung rewel, Gitta langsung memelototi Ken.
"Awas kamu Mas. Nanti nggak dapat jatah." Ancam Gitta.
"Eh, eh, nggak bisa dong Yang. Jangan begitu dong. Nggak mungkin bisa tidur aku nanti. Jangan ya, ya." Rengek Ken.
"Makanya diem, jangan ganggu adek dulu. Biarkan adek bobok." Gerutu Gitta sambil mencoba menenangkan baby Z.
"Iya, iya. Aku diem deh." Kata Ken sambil sedikit beringsut mundur.
Namun, bukan Ken namanya jika masih tidak usil. Dia masih saja menoel-noel pantat gemoy baby Z. Untung saja sang putra sudah benar-benar terlelap. Gitta langsung memindahkannya ke dalam box bayinya. Setelah itu, dia langsung beranjak ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus berganti baju.
Ken masih setia menunggu Gitta di atas tempat tidur. Hingga hampir dua puluh menit Gitta tidak segera kembali, Ken mulai resah. Dia segera menyusul Gitta ke kamar mandi. Namun, saat Ken hendak mengetuk pintu, Gitta sudah keluar dari kamar mandi.
"Kenapa lama sekali sih Yang." Kata Ken sambil menarik tubuh Gitta ke dalam pelukannya.
"Eh, eh Mas, ma-maaf." Kata Gitta.
"Ada apa hmm?" Tanya Ken.
"Aku datang bulan Mas, maaf Ya." Kata Gitta sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Hhhaahh? Aduh Yang ini gimana, rasanya sudah sesak banget." Kata Ken sambil membawa tangan Gitta ke bagian bawah tubuhnya.
*****
Keesokan pagi, Gitta masih memandikan baby Z, sementara Ken sedang bersiap-siap pergi ke kantor. Terdengar suara gaduh di depan.
"Ada apa sih Yang itu, ribut banget." Kata Ken sambil memakai kemejanya.
"Nggak tahu Mas, tapi sepertinya itu suara Khanza deh." Jawab Gitta.
"Ngapain itu anak kesini pagi-pagi sekali. Bikin ribut saja." Gerutu Ken.
"Hhuuss, jangan gitu ih." Kata Gitta sambil memasangkan dasi untuk Ken.
"Habisnya dia ribut banget Yang. Aku sampai penasaran, jika dia lagi iya-iya sama Al apa juga ribut gitu ya." Kata Ken.
"Apanya yang ribut Kak?" Tiba-tiba Khanza sudah ada di depan pintu kamar Ken dan sedang berjalan masuk untuk mengambil baby Z yang tengah berada di box bayinya.
"Kenapa kamu pagi-pagi sudah ada disini Za?" Tanya Ken.
"Aku mau menginap disini Kak." Jawab Khanza sambil bermain dengan baby Z.
"Lhah, kok menginap disini. Suami kamu kemana?" Tanya Ken.
"Dia ada pelatihan selama dua hari di Bandung Kak. Ini tadi setelah mengantarku kesini langsung berangkat." Jawab Khanza sambil menggendong baby Z. "Aku bawa keluar ya Kak." Lanjutnya.
Ken langsung menghembuskan napas beratnya saat melihat Khanza keluar sambil menggendong putranya.
"Bakalan rame banget Yang, jika Khanza disini." Kata Ken sambil merajuk.
"Ihh, kamu ngomong apa sih Mas. Bagus dong Khanza disini, aku jadi ada temannya." Jawab Gitta.
"Hhhhhhh, iya deh iya." Kata Ken pasrah.
Setelah semuanya siap, mereka segera sarapan bersama. Tak berapa lama kemudian, Ken langsung berangkat ke kantor. Kini, tinggallah Gitta dan Khanza bersama baby Z.
"Kak, boleh tanya sesuatu?" Tanya Khanza saat Gitta sudah ada di sampingnya.
Saat ini, mereka tengah berada di teras belakang. Ada sebuah dipan rendah dan besar disana dengan busa di sekelilingnya untuk memberikan keamanan bagi baby Z.
"Tanya apa?" Jawab Gitta.
"Ehm, dulu kakak ikut program hamil ya?" Tanya Khanza.
"Eh, kenapa tanya seperti itu?" Bukannya menjawab, Gitta malah bertanya.
"Ya, mau tahu saja Kak. Aku sampai sekarang belum hamil-hamil juga." Jawab Khanza sambil menunduk sedih.
"Hei, dengerin kakak. Anak, itu datangnya dari Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdo'a agar diberi kepercayaan untuk merawatnya. Jangan berkecil hati jika belum diberi kepercayaan oleh Allah. Ambil segi positifnya. Mungkin, inilah saatnya bagi kamu dan suami kamu untuk pacaran. Kalian kan menikah juga dadakan, belum pernah pacaran kan. Jadi, gunakan kesempatan ini untuk menjalani masa-masa indah untuk kalian." Jawab Gitta.
Khanza menoleh menatap wajah sang kakak ipar. Senyum langsung terbit dari bibirnya.
"Ah iya Kak. Benar juga ya. Kenapa tidak terpikirkan dengan hal itu. Yang aku pikirkan hanya ngadon, ngadon, dan ngadon terus jika di rumah." Kata Khanza sambil terkekeh geli.
Gitta yang mendengarnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa nggak capek tuh ngadon terus setiap hari." Goda Gitta.
"Ya nggak dong. Bahkan, bisa sampai dua atau tiga kali sehari." Jawab Khanza sambil menciumi baby Z.
"Sudah seperti minum obat saja tiga kali sehari." Kata Gitta.
"Iya Kak. Obatnya berbentuk kapsul. Hahahahaha."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Kapsul? 🤔🤔
Mohon dukungannya ya, like, komen dan vote.
Untuk informasi up dan karya terbaru, bisa follow ig othor @keenandra_winda.
Thank you