Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Berusaha Menjelaskan



Aku akan berusaha membuktikan jika aku tidak melakukannya ~ Alfaro Nathan Pradika


Ken melajukan mobil yang dikendarainya menuju rumah sakit tempat papanya Al dirawat. Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Ken segera memarkirkan kendaraannya di tempat parkir yang tersedia. Baru setelahnya, semua anggota keluarganya segera turun.


Ken langsung menuju resepsionis untuk menanyakan tempat papanya Al, om Andreas dirawat. Setelah mengetahui tempat dirawatnya papa Al, mereka langsung berjalan menuju ruang tersebut.


Lorong ruang cempaka yang berada di lantai dua rumah sakit tersebut terlihat cukup ramai, mengingat saat itu adalah waktu besuk pasien.


Mommy Retta, Gitta dan Khanza berjalan di belakang mengekori Ken dan Vanno yang berjalan di depan. Sesekali mereka saling bertanya selama perjalanan menuju tempat perawatan papanya Al.


"Mommy kenal papanya dokter Al?" Tanya Khanza kepada sang mommy.


Mommy menoleh menatap wajah sang putri sambil tersenyum.


"Tentu saja sayang. Kami sudah saling mengenal sejak kakak kamu kelas satu SD. Kami masih saling bertukar kabar meskipun kami tidak tinggal di kota yang sama." Jawab mommy.


"Orang tua kak Al tinggal dimana Mom?" Tanya Khanza.


"Dulu tinggal di Jogjakarta, tapi papanya kak Al pindah tugas ke Surabaya hingga pensiun. Jadi mungkin mereka sekarang masih tinggal di Surabaya." Jawab mommy.


Khanza yang mendengarnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Khanza memang tertarik dengan Alfaro, sahabat sang kakak. Menurutnya wajah sahabat kakaknya itu mirip oppa-oppa yang sering di tontonnya. Tapi, satu hal yang membuat Khanza tidak suka. Al terlalu dingin dan cuek.


Selama Khanza di rumah sakit setelah kecelakaan waktu itu, Khanza hanya dua kali mendapat kunjungan dari Al. Setelahnya, mereka tidak pernah bertemu lagi. Dari cerita Ken saat di perjalanan tadi, Al akan menyelesaikan koasnya akhir bulan ini, yang berarti tinggal sekitar dua belas hari lagi. Dan, dia juga sudah mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta setelah tugasnya itu selesai.


Mereka berjalan menyusuri lorong ruang cempaka. Saat berbelok pada ujung lorong, pandangan mereka dikejutkan dengan Al yang tengah memeluk seorang wanita yang diketahui adalah mamanya sedang menangis. Al berusaha menenangkan sang mama, namun saat Al mencoba untuk memeluk sang mama, saat itu juga tangan Al di hempaskan.


Deg.


Ken dan keluarganya yang melihat hal itu, seketika menyimpulkan hal yang tidak-tidak. Mereka berjalan mendekati Al dan mamanya yang tengah berada di kursi depan ruang rawat inap pasien. 


"Al, tante Dewi." Sapa Ken pada Al dan mamanya. Seketika kedua wajah ibu dan anak tersebut menoleh pada sumber suara. Wajah cemas Al dan sembab mamanya Al menyambut kedatangan Ken dan keluarganya.


"Ken, om, tante." Jawab Al sambil berdiri. 


Mommy Retta yang melihat bu Dewi, mamanya Al masih menangis sesenggukan segera mendekat. Dia berusaha untuk menenangkan mamanya Al.


"Bu Dewi yang sabar ya." Kata mommy yang mengira jika papanya Al sudah meninggal, sama dengan keluarganya yang lain.


Bu Dewi berusaha menghapus air matanya yang masih merembes keluar. Dia segera menoleh menatap mommy Retta.


"Bu Retta, bagaimana saya bisa sabar. Kondisi papanya Al ngedrop gara-gara Al. Saya takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada papanya Al, Bu. Hiks hiks hiks." Kata bu Dewi sambil menangis.


Eh, papanya Al belum meninggal berarti. Alhamdulillah. Batin semua anggota keluarga Ken.


Mommy Retta segera membawa tubuh bu Dewi kedalam pelukannya. Mommy berusaha memberikan kekuatan dan dukungan untuknya.


"Yang sabar Bu, tetap di doakan yang terbaik untuk papanya Al." Kata mommy sambil mengusap bahu bu Dewi.


Al yang melihat mamanya masih sedih merasakan sakit di dadanya. Dia tidak bisa melihat orang tuanya sedih dan terluka seperti itu. Hatinya seperti teriris-iris rasanya.


Ken yang melihat sahabatnya tengah khawatir, segera mendekatkan diri kepadanya. Al menoleh menatap Ken yang mengikis jarak dengannya.


"Kenapa om Andreas sampai ngedrop begini Al?" Tanya Ken agak keras, sehingga bisa didengar oleh semua anggota keluarganya di sana, termasuk bu Dewi, mamanya Al.


Al hendak menjawab pertanyaan Ken, namun mamanya sudah lebih dulu menjawab pertanyaan itu.


"Itu semua gara-gara Al, Ken. Dia telah menghamili seseorang." Jawab bu Dewi sambil kembali terisak.


Deg.


Semua orang yang berada di sana sangat terkejut. Tak terkecuali Ken. Dia merasa tidak percaya jika seorang Alfaro melakukan hal itu. Seketika Al kembali berjongkok di depan sang mama sambil menggenggam kedua tangannya. Wajah lelahnya menghiasi wajahnya yang tengah menengadah menatap sang mama.


"Ma, sudah berapa kali Al bilang jika itu tidak benar. Al sama sekali tidak melakukan hal seperti itu. Al juga tidak mengenal siapa perempuan itu Ma. Al mohon percayalah pada Al." Kata Al sambil masih menggenggam tangan sang mama.


"Mama dan papa kamu juga ingin sekali percaya dengan kamu Al, tapi bukti foto itu tidak bisa dibohongi." Kata mama Al.


Ken dan keluarganya yang mendengarkan percakapan anak dan ibunya itu menjadi semakin bingung. Ken memberanikan diri untuk bertanya kepada Al.


"Sebenarnya ada apa Al?" Tanya Ken.


Al menoleh menatap wajah sang sahabat sebentar sebelum beranjak berdiri sambil menghembuskan napas beratnya. Dia memandang wajah Al dengan wajah lelahnya sebelum mulai bercerita.


"Kemarin malam papa mendapat telepon dari paman Vita. Dia bilang jika ada seorang gadis bernama Lala mendatangi rumah Vita dan mengaku tengah mengandung anakku. Saat itu juga paman Vita memutuskan perjodohan antara aku dan Vita. Papa yang terkejut langsung drop, Ken. Dan aku tidak tahu hal itu karena masih sibuk di IGD. Aku baru tahu tengah malam tadi. Dan selanjutnya, seperti yang kamu tahu." Kata Al.


Seketika Ken dan Gitta terkejut mendengar penjelasan Al. Ken dan Gitta saling pandang. 


"Lo, beneran nggak ngelakuin itu kan Al?" Tanya Ken.


Al menatap wajah sang sahabat dengan kesal.


"Lo tahu gue banget Ken. Nggak mungkin gue ngelakuin hal itu. Lagian, gue juga nggak kenal dengan perempuan itu." Jawab Al. 


Ken yang percaya dengan Al pun langsung mengangguk.


"Gue akan bantu lo buat selidiki kasus ini, Al. Kita akan cari tahu siapa dalang di balik semua kekacauan ini." Kata Al dengan penuh keyakinan.


"Thanks Ken. Gue butuh banget bantuan lo kali ini. Gue nggak bisa berbuat banyak saat kondisi papa masih belum stabil seperti ini." Kata Al.


"Lo, tenang saja. Terus jaga kondisi om Andreas agar tetap stabil." Jawab Ken yang memberikan tepukan ringan pada bahu sahabatnya itu.


Setelahnya, Ken menoleh menatap wajah sang istri. Gitta yang tahu maksud dari tatapan mata suaminya langsung menggeleng. Ken segera beranjak berdiri untuk mengajaknya pergi sebentar menjauhi para anggota keluarganya.


"Kamu tidak tahu semua ini?" Tanya Ken kepada Gitta saat sudah berada di samping tangga menuju lantai satu rumah sakit tersebut.


"Maaf Mas, aku benar-benar tidak tahu masalah ini. Aku mematikan ponsel sejak ke bandara kemarin. Saat sampai di rumah mama aku bahkan lupa menyalakannya hingga sekarang." Jawab Gitta dengan wajah menyesal.


Ken menghembuskan nafas beratnya. Dia juga tahu apa saja yang dilakukan sang istri setelah sampai dirumah mamanya tadi malam. 


"Kamu tidak membawa ponselmu?" Tanya Ken lagi.


"Hehehe, maaf Mas. Ponselku tertinggal di atas nakas. Tadi pagi aku melihatnya dan hendak menyalakannya, namun saat itu mas Ken memintaku mengambilkan celana, jadi aku lupa membawanya Mas." Jawab Gitta.


Ken menghembuskan nafasnya. Dia sudah sangat hafal dengan sifat pelupa sang istri. Ken segera merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya. Diberikannya ponsel itu kepada Gitta.


"Untuk apa Mas?" Tanya Gitta.


"Hubungi Vita sekarang. Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Minta juga bukti apa yang perempuan itu berikan kepada keluarga Vita. Selanjutnya, aku akan mengurusnya." Kata Ken.


Gitta segera mengangguk dan mulai memencet beberapa angka yang sudah dihafalnya di luar kepala. Setelahnya, dia menempelkan benda pipih itu ke dekat telinga. Tak lama dia menunggu hingga panggilan itu tersambung.


"Hallo Vit."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Maaf baru selesai kerjaannya. 


Ini up satu lagi, semoga tidak lama reviewnya


Terima kasih bagi yang masih sampai di sini 🤗