
"Astagaaa Mas, blonceng." Kata Gitta setengah berteriak. Dia begitu terkejut dan malu saat melihat foto Ken yang hampir polos dan berpose seperti itu. Dia benar-benar merasa malu.
Ken yang mendengar teriakan Gitta segera menoleh menatapnya. Dia mendengus kesal pada sang istri. Bisa-bisanya Ken juniornya alias Kj nya disamakan sama blonceng.
"Apaan sih, enak saja ngatain blonceng. Awas saja nanti jika sudah merasakan. Dijamin akan menggelinjang-gelinjang." Kata Ken.
Gitta hanya melongo mendengar perkataan Ken. Setelahnya, Ken segera keluar kamar dan membiarkan Gitta untuk beristirahat. Dia juga sudah membawakan baju untuk Gitta yang tadi sudah diberikan oleh mommynya. Gitta segera menerimanya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Badannya terasa lengket dan tidak nyaman.
Ken meninggalkan Gitta sendiri di dalam kamar. Dia beranjak mencari sang mommy. Saat berada di anak tangga, dilihatnya sang daddy sudah rapi dengan rambut basah yang belum kering sepenuhnya. Dia hanya menggunakan celana pendek hitam sebatas lutut dan kaos putih berlengan pendek dengan sandal jepit butut andalannya merk smelloooww. Bayangin aja ya babang Lin Yi pakai sandal jepit 🤭
"Mau kemana Dad?" Tanya Ken.
"Ke bengkel sebentar, ada janji sama om Axcell."
"Lha emang om Axcell sudah balik ke Indonesia?" Tanya Ken.
"Ho oh." Jawab Vanno.
"Kapan?"
"Kemarin siang."
"Oo.. bilangin om Axcell deh Dad, aku mau modif mobil lagi." Kata Ken.
Seketika Vanno menghentikan langkah kakinya. Dia berbalik menatap sang putra. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti berusaha mencari apakah ada bahaya yang mengintainya.
"Sssyuuutt, jangan keras-keras. Nanti didengar mommy kamu. Memang kamu mau digoreng dadakan sama mommy hah?" Kata Vanno lirih.
Ken yang tersadar dengan ucapannya segera menutup mulutnya. Dia benar-benar lupa jika mommynya akan sangat marah apabila dia atau daddynya main modifikasi kendaraan. Mommynya itu akan berubah jadi sangat parno an untuk hal itu. Belum sempat Ken bersuara, terdengar suara deheman dari ruang makan. Siapa lagi jika bukan Retta.
"Ehemm.. Mau ketemu Axcell?" Tanya Retta.
Seketika Vanno terkejut. Dia menoleh menatap sang istri yang sedang bersedekap di belakangnya. Vanno hanya bisa nyengir kuda menatap sang istri.
"Hanya sebentar kok sayang, Axcell kan baru saja kembali dari Amerika. Kita hanya kumpul-kumpul biasa kok. Tidak akan aneh-aneh deh, janji." Kata Vanno sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V sambil tersenyum.
Retta hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah sang suami. Meskipun begitu, dia tetap mengijinkannya pergi menemui Axcell.
"Awas saja jika aneh-aneh lagi. Aku kuliti itu paralon air." Kata Retta.
Seketika Vanno tersenyum dan segera mendaratkan satu kecupan pada pipi Retta. "Terima kasih sayang, janji deh aku tidak akan aneh-aneh. Nanti malam aku kasih double atau triple deh." Kata Vanno sambil nyengir.
"Idiihh ogah. Ya lari aku Mas." Jawab Retta dengan entengnya.
Vanno merengut memandang sang istri. "Yaahhh, kok lari sih?" Tanya Vanno lemas.
"Iya, lari cari tempat. Hahahahaha." Jawab Retta sambil beranjak pergi.
Vanno yang gemas mendengar jawaban sang istri segera menangkap Retta dan menggelitikinya. Dia benar-benar dibuat gemas oleh sang istri. Karena Retta sudah menyerah, Vanno segera melepaskannya. Dia memberikan kecupan singkat pada pipi sang istri sebelum berangkat ke tempat Axcell.
Ken sudah berlalu untuk beranjak ke dapur sejak kedua orang tuanya mulai berdebat absurd tadi. Dia sudah cukup bosan mendengar dan melihat tingkah absurd orang tuanya. Setelah Vanno berangkat, Retta menyusul Ken pergi ke dapur.
"Gitta dimana?" Tanya Retta pada Ken.
"Di kamar, tadi sedang bersih-bersih. Mungkin sekarang sedang beristirahat." Jawab Ken. Namun, saat Ken berbalik, dia justru melihat Gitta sudah menuruni tangga dan berjalan menuju dapur. Retta yang melihat sang menantu berada di sana segera menyambutnya.
"Sudah mendingan sayang? Tidak pusing lagi?" Tanya Retta pada sang menantu.
"Sudah lumayan Mom, sudah mendingan." Jawab Gitta. "Mommy sedang buat apa? Biar aku bantu." Lanjutnya.
"Eh, tidak usah. Kamu duduk saja di sana. Mommy hanya buat jus jeruk buat si antartika itu. Tunggulah disana, mommy ingin ngomong sesuatu kepada kalian." Kata Retta.
Gitta yang tidak bisa memaksa lagi hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dia berjalan menuju ruang makan menuruti permintaan mommy.
Retta membuatkan jus jeruk untuk sang putra. Entah kenapa Vanno dan Ken juga menyukai minuman itu. Ken menunggu sang mommy selesai dengan duduk pada kursi yang ada di ruang makan sambil memainkan ponselnya. Dia terpaksa membatalkan janjinya dengan kliennya siang ini. Ken memeriksa beberapa email yang masuk untuk mengecheck pekerjaannya. Dia mendongakkan kepala saat menyadari Gitta duduk di depannya.
"Sudah mendingan?" Tanya Ken sambil memandang Gitta sekilas sebelum kembali lagi pada ponselnya.
"Iya, sudah." Jawab Gitta. Dia kembali menunduk setelahnya. Gitta tidak berani membuka pembicaraan selanjutnya.
Setelah selesai, Retta membawa jus jeruk untuk Ken dan teh hangat untuk Gitta kemudian meletakkannya di depan masing-masing. Dia juga mendudukkan diri di tengah-tengah sang putra yang berada di kanannya dan Gitta di sebelah kirinya sambil mengupas buah melon.
"Sayang, boleh mommy bicara?" Tanya Retta.
"Ada apa Mom?" Tanya Ken.
Retta meletakkan pisau yang dibawanya dan beralih menatap Ken dan Gitta bergantian.
"Nak, mommy tahu pernikahan yang kalian jalani ini sangat mendadak. Sekedar cerita, dulu, daddy dan mommy juga mengalami pernikahan dadakan seperti kalian. Bahkan, saat itu mommy hendak menikah tapi bukan dengan daddy. Mommy hendak menikah dengan seorang aki-aki. Dan, beruntung alhamdulillah, Allah membuat skenario yang indah sehingga mommy tidak jadi menikahi aki-aki tersebut, dan justru menikah dengan daddy."
Ken terkejut mendengarnya, karena selama ini yang dia tahu, daddy dan mommynya menikah muda. Itu saja. Tidak dengan cerita lainnya. Retta kembali meneruskan ceritanya.
"Dulu, di awal-awal pernikahan, kami memang masih merasa canggung. Kami belum mempunyai rasa cinta sama sekali. Kami juga belum saling mengenal. Namun, kembali lagi kami berusaha untuk meluruskan niat. Mommy dan daddy sama-sama menginginkan pernikahan sekali seumur hidup. Jadi, sejak saat itu kami berusaha untuk saling menerima kehadiran masing-masing. Kami berusaha untuk saling mengenal, mengetahui apa yang disuka dan tidak disukai. Belajar saling memahami kebiasaan masing-masing dan sebagainya."
"Bukan perkara mudah memang, tapi kami berusaha sangat keras dengan dukungan keluarga. Mama, papa, kakek dan nenek juga saling membantu kami. Para sahabat daddy dan mommy juga saling mendukung. Dan, betapa beruntungnya mommy dan daddy segera memilikimu pada akhirnya." Kata Retta sambil mengusap kepala Ken dengan lembut.
"Tidak ada pernikahan tanpa masalah, tidak ada pernikahan tanpa pertengkaran dan tidak ada pernikahan yang mudah. Akan selalu ada ujian di setiap pernikahan yang dijalani. Tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Mommy dan daddy juga sangat sering bertengkar dulu, mungkin karena usia kami memang masih sangat muda. Ego lah yang berkuasa. Namun, kami berusaha untuk mengembalikan lagi pada tujuan awal pernikahan yang kita sepakati. Selain itu, kami sudah memiliki kamu, Ken. Kami berusaha untuk mengendalikan ego kami dengan melihat anak yang sudah kami miliki. Kami tidak ingin menghancurkan masa depan anak hanya karena ego kami. Jadi, kunci kami untuk meredam ego adalah adanya anak, kamu dan khanza."
Ken berusaha untuk memahami maksud perkataan sang mommy. Dia menganggukan kepala sebagai tanda dia sudah mulai bisa menangkap maksud perkataan mommynya.
"Sayang, mommy mohon, kalian juga akan melakukan hal yang sama. Ken, sebagai seorang laki-laki dan sekarang sudah menjadi suami dan kepala keluarga, kamu harus sudah mempunyai tanggung jawab terhadap istri dan anak kamu nanti. Mommy tahu kalian masih sangat muda, tapi mommy berharap, kalian bisa memulai pernikahan ini dengan niat yang benar. Kalian mau kan?" Tanya Retta sambil menatap Ken dan Gitta bergantian.
Ken menoleh menatap Gitta sebentar sebelum mengangguk mengiyakan permintaan mommynya.
"Iya Mom, insyaAllah Ken akan berusaha. Ken juga ingin seperti mama dan papa, kakek dan nenek, serta mommy dan daddy yang hanya menikah satu kali. Ken ingin jadi seperti kalian." Jawab Ken.
Retta tersenyum mendengar jawaban sang putra. Kali ini, dia menoleh menatap Gitta. "Bagaimana sayang, kamu maukan menjalani pernikahan ini bersama Ken. Saling berbagi, saling mengisi dan saling melengkapi hingga nanti?" Tanyanya Retta.
Gitta tersenyum sambil mengangguk. "Iya Mom, Gitta juga akan berusaha. Gitta bersyukur sekali bisa memiliki keluarga seperti mommy. Gitta merasa sangat beruntung." Jawab Gitta dengan mata berkaca-kaca.
Betapa bahagiannya Retta setelah mendengar jawaban Ken dan Gitta. Dia segera memeluk Ken dan Gitta bergantian. Senyum puas tak lepas dari wajah Retta setelahnya.
"Jadi, mommy sudah bisa berharap untuk mendapatkan cucu kan?" Tanya Retta setelah acara peluk-peluk teletubbiesnya.
Seketika Ken dan Gitta menoleh menatap Retta dengan tatapan horornya. Retta yang mendapati tatapan tajam dari anak dan menantunya langsung tertawa.
"Kalian ini, jangan menatap mommy seperti itu ih, bukannya serem malah lucu. Hahahaha." Kata Retta.
"Lagian mommy ada-ada saja. Kami menikah juga baru kemarin Mom, sudah minta cucu saja." Jawab Ken.
"Maka dari itu, kalian harus berusaha mulai dari sekarang, agar bisa segera memberikan mommy dan daddy cucu." Kata Retta. "Kalian tahu kan mommy kesepian di rumah ini. Mommy ingin cucu yang banyak, agar rumah kita ramai. Hehehehe." Kata Retta.
Ken mendengus kesal mendengar perkataan aneh-aneh momnynya.
"Memang dikira gampang apa membuat cucu." Ken mendengus kesal.
"Ya gampang-gampang susah sih. Tapi jika sudah tahu jalannya mudah kok." Kata Retta tanpa dosa.
"Jalan apaan sih Mom, memang ada rutenya pakai jalan segala." Ken benar-benar tidak habis pikir dengan sang mommy.
"Ya adalah, awalnya sih masih ada hambatan. Tapi, jika nanti sudah sering dilalui juga jadi gampang. Jadi mulus tanpa hambatan, seperti jalan tol. Hahahaha." Kata Retta. "Makanya Ken, yang sering-sering dilewati, biar mulus seperti jalan tol." Lanjut Retta sambil beranjak berdiri menuju dapur.
Gitta yang mendengarnya menjadi salah tingkah. Bisa-bisanya dua orang di depannya membicarakan hal-hal absurd itu dengan entengnya. Dia saja merasa sangat malu.
"Iya, nanti malam dicoba buat membuka jalan tolnya." Jawab Ken tak mau kalah oleh sang mommy.
Gitta yang mendengar perkataan Ken langsung melongo.
"Hhhhaaaahh."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman, like, comment dan vote
Thank you 🤗