
Hampir satu jam lamanya Vanno dan Retta berada di dalam kamar mandi. Saking asiknya, mereka bahkan tidak mendengar sang mommy memanggilnya berkali-kali.
"Bi Mar, sudah berapa lama Vanno dan Retta tanding?" Tanya mommy pada bi Mar.
Bi Mar yang sudah hafal pun menjawab sambil tersenyum. "Sekitar satu jam nyah," jawab bi Mar.
"Dasar, anak sudah dua juga masih saja doyan," gerutu mommy.
Daddy yang tengah menggendong Khanza pun menoleh mendengar gerutuan istrinya. "Memangnya mommy tidak doyan ya?" Goda sang daddy.
Mendengar godaan daddy, mommy hanya mendengus kesal sambil mengambil alih baby Khanza. "Enggak," jawab mommy sambil berlalu. "Enggak salah," lanjutnya.
Seketika tawa daddy pecah mendengar jawaban sang istri. Daddy tahu betul istrinya itu benar-benar bisa mengimbangi olahraga kesukaannya. Sementara mommy yang merasa ditertawakan hanya mendengus kesal sambil berjalan menuju kamar Ken.
Malam itu, mommy dan daddy makan malam bersama di rumah Vanno. Rumah mereka sebenarnya sangat dekat, hanya berjarak sekitar seratus meter. Mommy benar-benar tidak ingin berada jauh dari anak, menantu dan cucunya. Bisa dipastikan jika mommy tidak sedang bekerja, dia akan seharian berada di rumah Vanno. Begitu juga dengan sang daddy. Bahkan, mereka akan dengan senang hati membawa Ken dan Khanza pulang ke rumah mereka.
"Mama, Ken mau ke pantai lagi dong," pinta Ken kepada sang oma. Awalnya, mommy ingin dipanggil manda, oma muda untuknya, dan panda, opa muda untuk daddynya Vanno. Namun, karena saat itu Ken kesulitan memanggil dengan sebutan manda dan panda, alhasil jadilah sebutan mama dan papa untuk oma dan opanya.
"Nanti jika liburan ya sayang," jawab mommy Vanno. "Oh iya, bagaimana sekolahnya hari ini?" lanjut mommy.
"Capek Ma," jawab Ken sambil memasukkan nasi ke mulutnya.
"Nanti kalau sudah terbiasa tidak akan capek lagi kok sayang," jawab mommy.
Ken mengangguk mengiyakan perkataan sang oma. Acara makan malam itu dilanjutkan sambil diselingi dengan obrolan ringan. Setelah selesai, Ken segera diantar Retta ke kamar tidurnya. Retta berusaha untuk membangun kebiasaan bagi Ken untuk menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari. Setelahnya, Retta segera menemaninya untuk merebahkan diri sambil bercerita.
Beberapa saat kemudian, Ken sudah terlelap dalam tidurnya. Retta segera membenahi selimut Ken dan mematikan lampu kamar kemudian diganti dengan lampu tidur. Setelahnya, Retta segera keluar dari kamar Ken untuk melihat sang putri.
Setelah memastikan sang putri tengah tertidur dengan nyaman, Retta segera keluar kamar untuk menemui keluarganya. Dilihatnya mommy tengah berbicara dengan Vanno dan daddy di ruang keluarga. Retta berjalan mendekat untuk menawari kopi pada suami dan mertuanya. Mereka pun mengiyakan.
Retta kembali ke dapur untuk membuatkan kopi dan membawanya ke ruang keluarga.
"Sayang, mommy akan ada show lagi di Spanyol bulan depan. Jadi, mommy minta tolong kerjaan mommy disini kamu handle semuanya ya," kata mommy setelah Retta duduk di sampingnya.
Retta mengangguk mengiyakan. Dia sudah terbiasa dengan hal itu. "Kapan mommy berangkat?" Tanya Retta.
"Akhir minggu ini. Mommy benar-benar harus menyiapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang," kata mommy.
Retta mengangguk paham. "Jika mommy butuh bantuan, mommy bisa langsung menghubungi Retta Mom," kata Retta.
Mommy tersenyum sambil mengusap lengan Retta lembut. "Pastinya sayang, mommy bangga sekali denganmu," kata mommy. Retta tersenyum mendengar perkataan sang mommy.
Beberapa saat kemudian, mommy dan daddy sudah pulang. Sementara Retta sedang menyiapkan minum untuk dirinya dan Vanno.
Setelah semuanya selesai, Retta segera pergi ke kamarnya dan diikuti oleh Vanno yang juga sudah selesai mengecheck semua pintu dan jendela rumahnya.
Vanno dan Retta segera mengganti pakaian tidur mereka. Sebelum beranjak ke tempat tidurnya, Retta melihat baby khanza tengah terbangun. Retta segera menyusuinya hingga dia tertidur kembali. Setelahnya, Retta segera berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping sang suami yang tengah mengecheck emailnya.
Retta masih mengawasi Vanno. Menyadari sang istri menatapnya, Vanno pun menoleh. "Ada apa?" Tanya Vanno.
Retta menggeleng pelan. "Nggak ada apa-apa, cuma mau tanya. Tadi siang kenapa mas Vanno tidak kembali ke kantor. Apa sudah beres semua?" Tanya Retta.
Vanno mengangguk mengiyakan. "Iya, semua sudah beres. Tinggal ada satu pekerjaan menemani klien makan siang. Jadi aku minta Reyhan menggantikanku," jawab Vanno.
Vanno menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Bawahan?" Tanya Vanno.
"Iya, berilah contoh yang baik bagi bawahan kamu Mas. Sehingga bawahan kamu bisa menirunya dengan baik pula," kata Retta.
Vanno segera meletakkan ponselnya di atas nakas dan segera menarik selimut Retta. Retta yang terkejut pun langsung berteriak tertahan.
"Astaga Mas Vanno, apa yang akan kamu lakukan Mas," geram Retta saat tangan Vanno sudah mulai bergerilya pada tempat dan lorong rahasia.
"Mengajari bawahan agar bisa meniru atasan dengan baik," jawab Vanno sambil tersenyum smirk.
Retta yang sudah mulai terbawa suasana pun segera menangkap tangan Vanno yang sudah mulai menjelajah lahan utama paralon air. Seketika Vanno menatap wajah Retta sambil mengerucutkan bibirnya. Dia terlihat kecewa, padahal saat ini dia sudah sangat siap adu lemas dengan Retta.
Melihat raut wajah kecewa suaminya Retta semakin geli. "Aku tidak mau jadi bawahan kamu kali ini Mas," kata Retta.
"Apa maksudmu?" Tanya Vanno sedikit frustasi.
Retta tersenyum sambil menjawab. "Aku akan menjadi atasan kamu," jawab Retta.
Seketika Vanno merasa bahagia. Senyuman langsung terbit dari bibirnya.
"With my pleasure, honey," kata Vanno dengan senyuman sambil pasang gaya pasrah. 🤔🙄
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon maaf sekian dulu ya, author e ngantuk bin kesel jempol e 🤭
Mohon dukungannya buat baby Ken ya aunty dan uncle online
Jangan lupa kasih dukungan juga buat authornya, like, vote dan comment, biar authornya ndk gembengan lagi 😂
Peyuk dan kecup online dari baby Ken
Eemmuuuaahhh