Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 68


Mereka terkejut ketika melihat Leo sudah babak belur dengan darah mengucur dari pelipisnya. Leo berjalan memasuki ruangan dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya. Dia dituntun oleh dua orang laki-laki yang memiliki tubuh jauh lebih besar daripada Aris dan Leo.


Retta membulatkan mata dengan lebar ketika melihat laki-laki yang berjalan di belakang ketiga orang tersebut.


"Maass!" teriak Retta ketika melihat Vanno berada di sana.


Vanno berjalan mendekati Retta sambil mengawasi Mitha dan Aris. Ketika Vanno hendak memberikan perintah kepada Hansen untuk memberikan pelajaran kepada Aris dan Mitha, Retta segera mencegahnya.


Retta segera menjelaskan semuanya kepada Vanno dan seluruh anak buahnya yang berada di sana. Setelah yakin dengan penjelasan Retta, Vanno menyuruh mereka untuk segera pergi dari tempat itu. Vanno juga meminta Mitha dan kedua orang saudaranya untuk mengikuti Hansen yang akan membantu mengurusi permasalahan mereka. 


Tak lupa pula Vanno meminta Hansen untuk mengantarkan Leo ke rumah sakit agar mendapat perawatan setelah mengalami luka yang lumayan parah akibat ulah anak buah Vanno dan Hansen. Vanno juga segera membawa Retta ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan akibat luka yang ada pada kakinya.


Setelah semua pergi dari tempat itu, Hansen meminta anak buahnya untuk menghancurkan tempat itu. Dia juga memberikan perintah untuk memburu Andi dan menangkapnya. Dia sudah memiliki cukup bukti untuk membawanya ke jalur hijau dengan tuduhan penculikan dan penyiksaan.


Vanno berjalan sangat cepat sambil membopong Retta menuju IGD rumah sakit internasional yang ada di kota tersebut. Dia berteriak-teriak memanggil Dr. Yudith dan rekan-rekannya. Ya, rumah sakit tersebut adalah rumah sakit milik mendiang opa Vanno yang saat ini berpindah kepemilikan menjadi milik daddynya Vanno. Namun, orang yang bertanggung jawab untuk menjalankan dan mengelolanya adalah Dr. Yudith, sahabat daddy Vanno yang sudah sejak SMP sangat dekat dengannya.


Melihat ada keributan yang terjadi di depan IGD, beberapa petugas medis pun segera mendekati Vanno. Mereka tidak mengenali Vanno sebagai anak dari pemilik rumah sakit tersebut segera membantu Vanno untuk membawa Retta masuk ke ruang IGD.


Para petugas keamanan berusaha menahan Vanno yang hendak ikut masuk ke dalam ruangan. Merasa tidak terima, Vanno kembali berteriak memanggil nama Dr. Yudith.


Karena kesal melihat Vanno yang masih berteriak-teriak dengan keras, dua orang petugas keamanan menyeret Vanno dengan paksa untuk meninggalkan IGD. Vanno masih terus meronta-ronta tidak terima dengan perlakuan dua orang petugas keamanan tersebut.


Tenaga Vanno tidak sebanding dengan tenaga dua orang petugas keamanan tersebut yang memiliki postur tubuh jauh lebih besar dari pada Vanno.


Ketika dua orang petugas keamanan tersebut sedang memaksa Vanno untuk pergi dari ruang tunggu IGD, terdengar suara laki-laki yang memanggil nama Vanno.


Ya, dia adalah Dr. Yudith. Dr. Yudith datang ke ruang IGD setelah mendapat laporan tentang keributan yang terjadi di sana.


Seketika Vanno dan dua orang petugas keamanan tersebut menoleh ke arah sumber suara. Vanno segera melepaskan diri dari cengkeraman dua orang petugas keamanan tersebut dan berjalan mendekati Dr. Yudith.


"Dokter, mereka semua sangat kurang ajar" kata Vanno. "Aku benar-benar ingin memberi mereka pelajaran" geramnya.


Dr. Yudith yang sudah hafal dengan karakter Vanno hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Mereka tidak tahu siapa kamu Van," kata Dr. Yudith dengan lembut. "Lagi pula, mereka bekerja sesuai prosedur, maafkan ketidaktahuan mereka. Mereka bekerja untuk menghidupi keluarganya. Kita tidak tahu seberapa besar beban yang mereka pikul jika mereka kehilangan pekerjaan kan,"lanjut Dr. Yudith.


Vanno diam sejenak untuk berpikir. Dia mengangguk ketika bisa mengerti maksud perkataan Dr. Yudith.


.


.


.


.


.