
Hari itu, Vanno sudah diperbolehkan pulang. Daddy dan mommynya segera menjemputnya. Pukul empat sore mereka sudah tiba di rumah. Bi Mar juga ikut membantu membawa semua barang-barang Vanno dan Retta.
Daddy memapah Vanno hingga sampai kamar tidurnya. Lutut kakinya yang sebelah kanan masih agak sakit jika digunakan untuk bergerak. Sedangkan Retta sedang pergi ke dapur untuk membuatkan jus jeruk untuk Vanno.
Begitu sampai di dalam kamar, Vanno langsung mendudukkan diri di ranjang sambil bersandar pada kepala ranjang. Daddy dan mommy membantu Vanno mencari posisi yang enak.
"Kamu istirahat dulu Van, Daddy sudah minta ijin kepada pihak sekolah untukmu selama tiga hari tidak masuk sekolah." kata daddy. "Kamu bisa belajar sendiri di rumah untuk ujian dua minggu lagi." lanjut daddy.
"Iya, main-mainnya sama Retta juga di kurangi dulu. Bahumu masih belum boleh menyangga beban terlalu berat. Jangan dipakai untuk akitifitas iya-iya dulu, kecuali kamu yang jadi sutradaranya yang tinggal diam saja, bukan pemain." kata mommy sambil tersenyum smirk.
Vanno mendengus kesal. "Maksud mommy apa dengan aktifitas yang iya-iya itu?" dengus Vanno.
"Halah pura-pura lupa. Apa kamu tidak lihat kemarin Retta sampai malu begitu. Dia kebingungan menyembunyikan lukisan alamimu dari lehernya." kata mommy sambil mendelik ke arah Vanno. "Kamu itu jika mau buat lukisan, lihat-lihat tempat. Kasihan Retta, lehernya jadi kanvas karena ulah bibir kamu." lanjut mommy.
"Tenang Van, jika sudah sembuh daddy akan mengajari kamu melukis di tempat yang tak terlihat. Dijamin tidak akan ada orang lain yang melihatnya." kata daddy sambil melirik mommy dan tersenyum smirk.
"Awas kamu Dad jika mengajari Vanno yang aneh-aneh." Mommy memanyunkan bibirnya ke arah daddy. "Mommy tidak mau diajak duet. Daddy solo saja." ancam mommy.
Mendengar sang istri sudah mengeluarkan ultimatum, daddy langsung beranjak dari duduknya dan segera memeluk mommy dari samping.
"Yaahh.. mommy kok tega sih, mana bagus hasilnya jika solo." rengek daddy sambil mengusap lengan mommy. "Kalau duet hasilnya bagus kan bagus, tuh lihat Vanno," lanjut daddy.
Mommy semakin mengerucutkan bibirnya. Dia melirik ke arah suaminya yang masih merengek seperti anak kecil. Melihat kedua orang tuanya yang masih membahas hal absurd, Vanno hanya memutar bola matanya dengan jengah.
"Mommy dan daddy jika mau membahas hal-hal aneh silahkan keluar saja. Vanno capek mendengarnya." kata Vanno sambil memejamkan mata.
Mommy dan daddy segera menoleh ke arah Vanno. Melihat Vanno yang tampak kelelahan mommy berjalan mendekatinya. "Apa ada yang sakit sayang?" tanya mommy sambil mengusap rambut Vanno pelan.
Vanno membuka mata dan memperhatikan mommynya. "Telingaku yang sakit Mom. Kalian membicarakan hal-hal aneh di depanku," dengus Vanno.
Sedangkan daddy hanya tersenyum menanggapi perkataan Vanno. "Tahan dulu Van, nanti jika sudah sembuh dan ujian nasional sudah selesai, serang teruuuss. Jangan kasih Retta kendor." kata daddy dengan penuh semangat sambil melirik mommy.
Retta datang bersamaan dengan daddy yang membawa-bawa namanya. "Retta kenapa Dad?" tanya Retta dengan wajah polosnya sambil membawa gelas berisi jus jeruk untuk Vanno.
Mommy segera berdiri dan menghampiri Retta. "Daddy kamu bilang, kalian harus berusaha untuk ujian nasional sebentar lagi. Setelah itu, kalian harus berusaha dengan keras untuk memberikan kami cucu." kata mommy sambil tersenyum kepada Retta.
Retta yang mendengar perkataan mommy langsung salah tingkah. Wajahnya terasa panas. Pipinya sudah terlihat sangat merah. Melihat hal itu, mommy dan daddy langsung tertawa dengan keras. Sementara Vanno masih menatap kedua orang tuanya dengan kesal.
"Sudah Mom, jangan membuat Retta jadi salah tingkah. Biarkan dia menjaga Vanno." kata daddy. "Nyicil boleh Van, tapi ingat jangan sampai terlihat." lanjut daddy sambil mengerling ke arah Vanno.
Vanno mendengus kesal. Sementara daddy dan mommynya masih terkekeh geli melihat tingkah anak dan menantunya. Mereka segera keluar untuk membiarkan Retta dan Vanno sendiri.
Retta segera berjalan menuju nakas untuk meletakkan jus jeruk Vanno. Dia memperhatikan Vanno yang tengah bersandar pada kepala ranjang.
"Mas, ada yang kamu butuhkan lagi?" tanya Retta.
Vanno membuka mata dan menoleh ke arah Retta.
"Ada." kata Vanno. "Aku butuh kamu!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Maaf slow up ya..