Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 93


Bukannya menjawab, Vanno malah memberikan kecupan pada pipi Retta. Retta yang malu dengan tindakan Vanno berusaha untuk melepaskan pelukannya. Dia benar-benar malu ketika ada sepasang suami istri yang kebetulan lewat di depan mereka dan melihat apa yang dilakukan Vanno pada Retta.


Retta berusaha melepas pelukan tangan Vanno pada perutnya. "Mas, malu ih. Itu dilihat orang," kata Retta sambil berusaha melepaskan pelukan Vanno.


Melihat Retta yang menunduk malu, membuat Vanno melepaskan pelukannya. Dia kemudian menggandeng tangan Retta dan menariknya untuk menemui sang mommy.


Begitu sampai di dekat mommy dan seorang perempuan, Vanno berhenti dan segera menyapa perempuan itu.


"Tante Sintya apa kabar?" Tanya Vanno sambil mengulurkan tangan untuk mengecupnya. Tante Sintya berusia sekitar empat puluh tahun. Mungkin hanya berbeda satu atau dua tahun dengan mommy.


Tante Sintya mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Vanno. "Baik Van, kamu sendiri bagaimana?" Tanya tante Sintya sambil menoleh ke arah Retta


"Alhamdulillah baik Tan," jawab Vanno. "Oh iya, perkenalkan ini Retta, Tan." Kata Vanno sambil menarik tangan Retta agar lebih dekat.


Retta segera mengulurkan tangannya dan di sambut oleh tante Sintya.


"Sebenarnya tante sudah tahu Van, waktu itu tante bertemu dengan mommy kamu ketika Retta masuk rumah sakit," jelas tante.


Sementara itu, mommy, Vanno dan Retta hanya mengangguk mengiyakan. Setelah cukup berbincang-bincang, tante Sintya segera pamit untuk pulang. Mommy yang menyadari Vanno telah mengikutinya langsung mendelik ke arah Vanno.


"Kenapa kamu di sini Van?" Tanya mommy. "Bukannya kamu ada jadwal kuliah," lanjut mommy dengan wajah kesal.


Vanno hanya mencebik sambil memeluk Retta dari belakang. "Aku ijin jam terakhir Mom. Aku kan juga ingin menemani istri dan calon anakku belanja," jawabnya sambil mengusap-usap perut Retta yang sudah lumayan besar.


Mommy tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya mendengus kesal sambil membawa belanjaannya menuju kasir. Setelah semua barang yang diperlukan sudah di dapat, mommy, Vanno dan Retta memutuskan untuk makan siang di sebuah restaurant yang ada di mall tersebut.


Beberapa minggu ini giliran Vanno yang merasa sangat ingin makan banyak makanan baru, setelah dulu awal kehamilan Retta dia benar-benar tidak bisa menikmati makanan karena langsung merasa mual begitu mencium bau masakan.


Ketika sudah berada di lantai empat mall tersebut, mommy pergi sebentar ke butik langganannya. Setelahnya, baru mommy akan menyusul Retta dan Vanno untuk makan siang. Retta dan Vanno berjalan menuju restaurant yang ada di lantai empat tersebut.


Saat akan berbelok, sebuah suara yang memanggil nama Vanno menghentikan langkah kaki mereka. Seketika Vanno dan Retta berhenti dan berbalik untuk melihat siapa yang memanggil Vanno.


Seorang perempuan dengan pakaian yang sangat modis berjalan mendekati Retta dan Vanno dengan senyum tersungging di bibirnya. Retta melirik ke arah Vanno yang tengah memperhatikan perempuan itu sambil mendengus kesal.


"Van, kamu di sini juga?" Tanya perempuan itu sambil berjalan mendekati Vanno. Tatapan matanya tetap tertuju pada Vanno. Bahkan, Retta yang berdiri di samping Vanno pun tidak di liriknya.


"Hmmm," jawab Vanno.


"Kamu mau kemana, makan siang?" Aku temani ya," kata perempuan itu dengan suara manjanya. Dia juga berusaha untuk melingkarkan tangannya pada lengan Vanno, namun segera ditepis oleh Vanno.


"Nggak usah," jawab Vanno dengan ketus. Retta sedikit menarik ujung bibirnya karena gemas. Suaminya itu masih saja ketus dengan para perempuan yang hendak menggodanya. Dia sedikit bersyukur dalam hati. Kemudian, terbesit ide jahil di otak Retta.


"Siapa dia?" Tanya Retta sambil melipat kedua tangan di dadanya. Dia juga berusaha menampilkan wajah jengkel dihadapan Vanno dan perempuan tadi.


Vanno yang terkejut langsung menoleh ke arah Retta. Dia melingkarkan salah satu tangannya pada pinggang Retta. Sedangkan, tangan yang satunya mengusap perut buncit Retta.


"Dia Danisha, temanku sayang, teman kuliah" jawab Vanno sambil tidak mengalihkan pandangannya kepada Retta.


Perempuan tadi langsung melotot memperhatikan perbuatan Vanno. Dia sama sekali tidak bisa berpikir bagaimana Vanno yang terkenal dingin dengan perempuan bisa sangat dekat dengan perempuan itu, batinnya.


Menyadari perempuan tadi memperhatikan perbuatan Vanno, Retta berusaha menahan senyumannya. Dia justru berlagak seolah sedang marah.


Vanno melihat ekspresi Retta yang sedang kesal. Dia sadar mungkin istrinya itu tengah marah. Vanno segera menangkup kedua pipi Retta dengan tangannya dan menghadapkannya pada wajah Vanno.


"Hanya teman sayang, hanya teman" kata Vanno. "Aku tidak akan pernah menganggap perempuan manapun lebih seorang dari teman, selain kamu tentunya." Jawab Vanno sambil tersenyum lebar.


Mendengar jawaban Vanno, Retta tersenyum dengan lebar. Dia memberanikan diri mendekati wajah Vanno dan memberikan kecupan singkat pada pipi kiri Vanno.


Danisha yang melihat pemandangan itu semakin membulatkan mata dan mulutnya. Dia benar-benar heran dengan tingkah Vanno dan Retta.


"Siapa dia Van?" Tanya Danisha yang memang mulutnya sudah gatal ingin bertanya.


Dengan wajah jengah Vanno melepaskan kedua tangannya pada pipi Retta dan berbalik menghadap Danisha.


"Dia istri gue," kata Vanno sambil menyelipkan jari tangannya pada jari Retta.


Danisha semakin terkejut mendengar pengakuan Vanno. "I-istri?" Tanyanya terbata-bata. "Lo sudah menikah Van?" Lanjutnya lagi dengan tatapan tidak percaya.


Vanno mendengus kesal karena harus menjawab pertanyaan Danisha. "Lo pikir gue bohong!" Sungut Vanno. "Lo nggak bisa lihat perut istri gue sudah besar seperti ini," lanjutnya.


Danisha yang memang dari tadi sempat memperhatikan perut Retta semakin terkejut. "Jadi, itu beneran anak lo?" Tanya Danisha seolah tidak mau membenarkan kenyataan bahwa Vanno sudah menikah.


Vanno yang semakin kesal segera menarik tangan Retta. "Lo pikir ini anak siapa hah?" Kata Vanno ketika sudah berada di depan Danisha. "Lo pikir apa gue mau repot-repot nemeni orang hamil belanja dan jalan-jalan di mall jika itu bukan anak gue?" Lanjut Vanno sambil berjalan meninggalkan Danisha yang tengah berdiri mematung.


Setelah Vanno dan Retta berjalan cukup jauh, Danisha tersadar dan segera menoleh menatap kepergian Vanno dan Retta.


"Rasanya akan semakin sulit untuk mendapatkanmu Van," kata Danisha lirih sebelum beranjak pergi.


Setelah memesan makan siang untuk dirinya, Retta dan mommy, Vanno kembali duduk di samping Retta yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Vanno mendengus kesal mendapati istrinya justru sedang asik berselancar di dunia maya daripada berbicara dengannya.


Eheemmm. Vanno berdehem keras untuk mengalihkan perhatian Retta.


Merasa tersindir, Retta mendongakkan kepalanya sekilas dan menatap Vanno. "Sebentar Mas, aku ingin memastikan sesuatu," kata Retta sambil mengalihkan pandangannya kembali pada ponselnya.


.


.


.


.


.


\=\=\=\= 


Agak panjang ya, biar bisa cpt end


Mohon dukungannya jangan lupa ya